Per-EMPU-an sebagai Juru Rawat Masyarakat

Per-EMPU-an sebagai Juru Rawat Masyarakat
©Dictio Community

Stigma yang meletakkan perempuan sebagai juru rawat sebuah masyarakat mestinya menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki harus berjuang bersama atas dasar kesetaraan, demi tercapainya sistem masyarakat tradisional yang lebih egaliter.

Bicara tentang perempuan adalah sebuah topik diskursus yang menarik namun tidak pernah menemui konklusi tunggal yang absolut sebagai titik ending. Sebab di tengah kompleksitas persoalan yang melingkupi perempuan, ada beragam pekerjaan besar perempuan yang mesti diapresiasi dalam sejarah-sejarah perkembangan peradaban manusia. Dari situ, alasan kenapa sosok yang merepresentasi keindahan dan keseksian Tuhan ini disebut per-EMPU-an.

Kata dasar EMPU jika kita konversikan ke dalam bahasa Inggris artinya Master  atau nakhoda sebagai sosok sinonim. Imbuhan per- dan akhiran an memberikan penegasan tentang tujuan esensial kehadiran dan kelahiran (ada) seongah daging pemilik asih paling kasih itu di bumi manusia.

Perempuan adalah memoar dengan diksi paling gurih dan kecap namun juga paling agitatif, keindahan sarat hegemoni. Memoar tentang sosok sejeluk alam yakni perempuan ini pernah digambarkan Ir. Soekarno dalam bukunya berjudul Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia yang kemudian disingkat Sarinah. Sarinah sosok Perempuan pengasuh  yang daripadanya  Ir. Soekarno memperoleh nilai humanisme melalui  nasihat-nasihatnya tentang cinta kepada sesama terutama rakyat kecil dan jelata.

Cikal bakal sosialisme dan marxisme lahir dan berakar dalam diri Ir. soekarno. Pengalaman Ir. Soekarno ini menegaskan bahwa sosok perempuan, di samping sarat dengan keindahan agitatif, namun juga sosok humanis dan sosialis.  Praktik nilai humanisme  dan sosialisme perempuan ini bukan hanya untuk mendapatkan kesetaraan gender dalam masyarakat tetapi juga kedudukan dan posisi dalam perjuangan.

Mencintai perempuan dan menaruh hormat pada perempuan adalah sebuah kewajiban sebagai anak manusia. Namun realitas ini hari menegasikan sosok empu yang dimiliki perempuan, buktinya  seksisme yang terjadi pada perempuan belum bisa diberantas karena usaha-usaha itu terkooptasi pada politisasi gerakan perempuan. Hal paling fundamental dalam menghapus seksisme pada perempuan adalah revolusi cara pandang dan mengugat kontruksi ingatan pada masyarakat.

Seksisme sebagai tindakan dehumanisasi terhadap kaum perempuan merupakan bentukan sosiokultural. Jika kita kembali melihat perjalanan kebangsaan dan perkembangan peradaban manusia, faktor sosiokultural dapat kita lihat melalui potret kehidupan perempuan dalam masyarakat dan kontruksi gender di setiap perguliran zaman.

Budaya patriarkat yang awalnya disinyalir dapat membawah kemajuan dibandingkan saat zaman matriarkat di mana pada zaman matriarkat itu hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat tidak jelas.

Namun ketidakadilan muncul pada zaman patriarkat, ketika laki-laki memiliki hasrat untuk memenuhi keinginan dan hasrat untuk memiliki. Sejak saat itu laki-laki mulai memperlakukan perempuan seperti manusia yang tidak berharga. Mereka merasa lebih berkuasa dan superior. Perempuan ditempatkan pada posisi inferior yang segala nasibnya ditentukan oleh laki-laki.

Kondisi itu menunjukkan bahwa laki-laki memiliki hak untuk mengatur hidup perempuan sedangkan perempuan dituntut untuk menerima segala keputusan laki-laki.

Sampai hari ini pun, hal ini masih masif dan continue terjadi bahkan dalam perkara hubungan romantisme (pacaran) laki-laki menggunakan otoritasnya sebagai kekasih untuk merampas kemerdekaan perempuan dan mengeksploitasi tubuh perempuan. Bahkan sesudahnya kerap kali meninggalkan patah dan kecewa bersemayam di dada dan kepala, disaksikan mata yang tiba-tiba bernanar.

Oleh karena itu, sebagai seorang feminisme lokal yang yakin dengan slogan feminisme tentang kesetaraan, saya berpikir bahwa masuk dan berpartisipasinya kaum perempuan ke dalam dunia laki-laki merupakan ikhtiar awal dan cahaya baru perjuangan. Kehadiran perempuan yang semestinya dapat mentransfromasi dunia yang makin damai ternyata menulai kegetiran menahun.

Hasil kontruksi sosial dan kultural sepanjang sejarah terhadap posisi perempuan membuat perempuan merasa terkhianati. Hegemoni sistem patriarchal dalam masyarakat tradisional melihat inferioritas perempuan tidak sebanding dengan superioritas laki-laki. Rasa terkhianati yang dialami oleh perempuan ini terungkap dan termanifestasi dalam The Prisoner Of Men’s Dreams (Tawanan Impian Pria) karya dan buah pikr Susan Gordon, seorang perempuan Feminisme Barat di tahun 1990-an.

Cukup menarik feminis ini menguraikan pengalaman pribadinya yang “merasa terkhianati” bukan karena meneguk kecewa dari janji-janji yang teringkar tapi lebih kepada harga dirinya sebagai perempuan yang terzolimi dalam suatu masyarakat yang kental patriarki. Kondisi itu digambarkannya sebagai kondisi di mana terjadi kerusakan dunia.

Kerusakan dinia ini bukan tentang kerusakan ekologi akibat eksploitasi sumber daya alam di luar skala urgensi yang dilakukan oleh manusia berwatak imperealisme (baik itu kolonialisme asing  maupun kolonialisme bangsa sendiri), tapi lebih kepada kerusakan cara berpikir masyarakat tradisonal yang memarjinalkan perempuan sejak dalam pikiran. Stigma quo yang lama dikontruksi dan diinternalisasikan ke dalam kepala-kepala masyarakat tradisonal telah menempatkan perempuan sebagai makluk inferior yang lemah memasung emansipasi perempuan secara paripurna.

Stigma Quo ini pun kembali langgeng dengan lahirnya masyarakat modern yang menuhankan uang lantas bersekongkol dengan para kapitalis anak emas para feodalis, lantas perempuan dieksploitasi tubuh-tubuh eksotiknya demi mendongkrak elektabilitas dan menambah income (pendapatan) lewat pajak di kantong-kantong negara.

Buah-buah pikiran hasil reinterpretasi kaum-kaum feminisme dan para aktivis HAM dan perempuan malah menemui ajal sebelum menyentuh substansi persoalan sebab kebijakan-kebijakan itu sudah dikorupsi semenjak masih berbentuk embrio di kepala. Negara sebagai sebuah institusi yang diberi wewenang oleh masyarakat untuk mengatur hajat hidup banyak orang malah tidak adil sejak dalam pikiran.

Sehingga segala ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam masyarakat menurut Fukayama Francis dalam bukunya Ketahanan Negara mengindikasikan kegagalan politik negara dalam menjalankan tupoksinya. Segala entitas jamak dalam masyarakat yang berafiliasi dengan negara malah dipenuhi oleh identitas-indentitas jamak yang tamak.

Tradisi, adat istiadat dan kebudayaan sedang dalam segmen negaraisasi. Tapi bukan untuk membuka ruang emansipasi bagi perempuan secara luas agar mampu mempertegas tujuan esensial “kenapa mereka dilahirkan”, namun malah melanggengkan diskriminasi dan pemiskinan terhadap perempuan.

Pertanyaannya adalah: Apakah isu-isu kesetaraan gender yang digembar-gembor dalam setiap diskursus di layar kaca (ruang tamu para pejabat dan kapitalisme birokrat) sudah menekan kejahatan-kejahatan kemanusiaan kepada perempuan? Atau rekomendasi-rekomendasi hasil diskursus itu sudah menggaransikan rasa keadilan dan kenyaman bagi perempuan dalam ruang-ruang pelayanannya sebagai juru rawat sebuah masyarakat?

Atau malah budaya patriarchal yang tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat komunal dijadikan alat hegemoni untuk melanggengkan eksploitasi terhadap perempuan yang dibiarkan negara?

Baca juga:

Mari melakukan refleksi dan komtemplasi perihal ini, sebelum engkau (para pejabat dan kapitalisme birokrat) bakal mengeluh kehabisan anggur dari sisa musim pada payudaranya.

Perlu dibangun stigma bahwa perempuan sebagai juru rawat sebuah masyarakat. Hal ini dipertegas lagi oleh Henriette Roland Holst, penyair perempuan Belanda kelahiran 1869. Holts menilai bahwa baik feminisme maupun neo-feminisme tidak mampu memberikan solusi kepada situasi retak perempuan. Sebab, bagaimanapun kebahagiaan perempuan adalah keluarga, bukan perusahan tempatnya bekerja. Dari keluarga merawat generasi (anak-anak), perempuan merawat masyarakat dan peradaban manusia.

Oleh sebab itu, kebahagiaan paling hakiki yang diikhtiarkan perempuan adalah pernikahan. Bagi perempuan, memilih peran ibu atau istri sambil melepas pekerjaan publik berarti membuat kandas perjuangan pergerakan beratus-ratus tahun. Demikian pula, memilih pekerjaan sambil melepas cinta dan rasa keibuan adalah menafikan panggilan kodrati sebagai perempuan.

Itulah peran ganda yang dilakonkan perempuan. Ia (perempuan) sejeluk alam, ibu para generasi.

    Latest posts by Kristofoforus Arakian (see all)