Peran Sosiolog dalam Perpolitikan Indonesia

Peran Sosiolog dalam Perpolitikan Indonesia
©Renato

Ada baiknya sosiolog itu pakai “topeng”, agar elite politik tidak menyadarinya.

Telah umum kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Dalam sistem ini, suara rakyat mempunyai hak setara dalam pengambilan keputusan untuk mengubah hidup mereka, baik secara langsung maupun perwakilan.

Namun, realitas terkini menggambarkan seakan-akan mengubah makna demokrasi itu sendiri menjadi sebaliknya. Ironisnya, elite-elite penguasa yang hanya mementingkan diri sendiri seperti mengekang suara rakyat. Hal ini berupa kebijakan-kebijakan kontroversial—yang sebagiannya dapat merugikan instansi-instansi tertentu—tanpa mendengarkan suara rakyat.

Terlepas dari kebijakan-kebijakan tersebut, kontroversial atau memang ada gerakan “bawah tanah” yang menyetir para elite politik kita, di sini perlu adanya penyelidikan dalam hal sosial yang terjadi pada masyarakat kita umumnya, khususnya para elite politik. Karena di balik ketetapan sistem-sistem, bisa jadi hal-hal di luar sistem itu terjadi perbincangan-perbincangan tentang adanya konspirasi yang menguntungkan pihak tertentu.

Dalam masalah tersebut, sosiologi bisa berperan dalam menyelidiki hal-hal seperti itu. Karena sosiologi bukan hanya memecahkan masalah yang berada pada realitas sosial, akan tetapi jauh dari hal itu.

Sosiologi lebih “melihat tembus” apa yang terjadi dalam peristiwa di bawahnya. Seperti apa yang Peter L. Berger kemukakan, banyak sosiolog memahami sosiologi sebagai kegiatan intelektual yang meneliti tentang hubungan sosial pada masyarakat. Karena kata “masyarakat” sendiri pun memiliki banyak arti yang berbeda satu sama lain. Dalam hal ini, para ahli sosiologi mengartikan pola hubungan manusiawi yang besar dan kompleks.

Termasuk juga kata “sosial”, sekali lagi, memiliki sejumlah arti. Para ahli sosiologi mengartikan sosial untuk mengacu kepada kualitas interaksi, saling-hubungan. Dan definisi yang lebih baik adalah yang Max Weber utarakan sebagai sesuatu di mana orang membuat orientasi tingkah lakunya terhadap satu sama lain.

Memahami Sosiologi dari Pikiran Berger

Tidak puas akan ketajaman definisi yang ahli sosiologi buat di atas, Peter L. Berger mendekatinya dengan membandingkan perspektif disiplin-disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan perilaku manusiawi. Berger mencontohkan seorang ahli hukum yang hampir kegiatan tingkah laku manusia berurusan dengan bidang seorang ahli hukum.

Akan tetapi, di sini, kita menemukan prosedur abstraksi yang sangat khusus. Artinya, dari semua tingkah laku manusia, tidak semuanya masuk ranah seorang bidang ahli hukum. Itu lantaran adanya prosedur abstraksi dengan kerangka acuan yang sangat khusus tersebut, yang berarti seorang ahli hukum memilih aspek-aspek yang masuk di ranahnya saja.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa kerangka acuan legal bidang ahli hukum yang tetap terdiri dari model tingkah laku manusia. Dengan demikian, kita mempunyai model kewajiban, tanggung jawab, dan kesalahan yang jelas.

Hal-hal yang sudah tetap seperti ini (kerangka acuan) terjadi karena adanya statuta atau preseden. Jadi, ahli hukum bisa mengetahui kapan suatu kontrak bisnis menjadi korup, kapan pengendara mobil kita anggap abai, dan hal lainnya.

Baca juga:

Ahli sosiologi bisa mengamati hal yang sama. Akan tetapi, berbeda dengan seorang ahli hukum yang mengacu pada kerangka yang telah statuta atau preseden atur, sosiolog malah sebaliknya. Ia keluar dari statuta atau preseden. Seorang ahli hukum memusatkan perhatian pada konsepsi resmi suatu situasi, sedangkan seorang sosiolog lepas dari konsepsi-konsepsi yang bersifat resmi.

Dari teori yang di atas, sedikitnya bisa kita tarik kesimpulan bahwa sosiologi memandang sesuatu seharusnya berada di luar konsep diri resmi, otoritatif, dan yang masyarakat terima secara umum. Albert Salomon mengemukakan alasan-alasan yang meyakinkan bahwa konsep “masyarakat”, dalam pengertiannya yang modern, bisa muncul hanya ketika struktur “masyarakat” tersembunyi di dalam bangunan. Suatu serambi luar yang menyembunyikan hal tersebut dari penglihatan umum.

Bila sudah sepakat bahwa “masyarakat” muncul berada di bawah realitas resmi, yaitu suatu dunia motif dan kekuatan yang tidak dapat kita pahami dalam hubungannya dengan realitas sosial secara resmi, maka pandangan sosiologis bisa pakita hami sebagai semacam ungkapan-ungkapan, seperti “melihat tembus”, “melihat di balik” dengan kata lain, terlepas dari tipu muslihat.

Bilamana sudah jelas teori-teori tersebut di atas, kita akan jauh lebih paham tentang apa yang seharusnya ahli sosiologi teliti. Lebih jelasnya, sosiologi bukanlah semata-mata meneliti masalah yang tidak sesuai tafsiran-tafsiran resmi menurut masyarakat. Akan tetapi, meneliti dari titik pertama permulaan masalah tersebut terjadi dari segi sistem bekerja, apa yang menjadi presuposisinya, dan bagaimana semuanya terikat menjadi satu.

Halaman selanjutnya >>>

    Thoriq Ad Dakhil
    Latest posts by Thoriq Ad Dakhil (see all)