Percakapan Rindu yang Tak Berujung

Percakapan Rindu yang Tak Berujung
Ilustrasi: Tumblr

Aku: Seperti waktu yang terus menggerus pesisir tersapu ombak yang kau kirimkan, maka izinkan aku berlayar mengarungi samuderamu malam ini.

Tidurlah, adinda. Pejamkan matamu dan jangan kau siksa dirimu. Sebab aku lebih tersiksa. Tidurlah. aku menunggumu di mimpi malam ini.

Dirimu: Buka jendela kamarmu pagi ini, wahai cucu Adam yang aku rindukan siang malam! Biarkan sejuknya kurang ajar mencumbui dinding kamarmu yang hangat oleh hembusan nafas tidurmu.

Biarkan udara saling berganti membantumu hidup. Biarkan rinduku menyelinap diam dalam dinginnya agar hangat mengikat belikatmu. Biarkan aku menjelmanya pagi ini, hanya pagi ini.

Aku: Terima kasih, manisku. Senyum dan wajah teduhmulah yang membuatku tak bisa memejamkan mata walau sekejap.

Aku tak ingin tertidur karena aku takut tak bisa melihat wajahmu yang cerah seperti rembulan yang sinarnya menyinari gelapnya malam. Aku merindu, manisku. Tak ingin pagi ini cepat berlalu.

Dirimu: Mengeja namamu setiap kesempatan. Merapal doa untukmu setiap waktu. Itulah caraku merindukanmu.

Aku: Aku rindu memang, tapi rindu sendiri tak bisa aku terjemahkan. Namun, kerinduan ini telah membuatku terkapar dan meratap.

Kau yang menimpakanku berton-ton rindu dengan sejuta lembar bayangmu, merebut tiap hempasan nafasku, mengikat tiap persendian tulangku. Dengan merindukanmu, aku menemukanmu.

Itukah kau yang mencintaiku yang melengkapi semua asaku yang bermain di atas taman hatiku yang selalu berdendang di ujung rinduku yang takkan hilang meskipun disapa mesra sang waktu? Itukah kau yang perlahan menaklukanku? Aku merindukanmu, manisku.

Dirimu: Aku mohon, temukan aku. Harus berapa lama lagi aku harus menderita? Harus berapa lama lagi tempat yang harus kusinggahi lalu memaksaku untuk kembali pergi?

Nyatanya jauh di dalam hatiku, aku lelah. Aku jengah.

Berpuluh-puluh kerikil telah melukai kakiku, memaksaku untuk tetap berjalan dalam kehampaan yang luar biasa. Kapan kau menemukan aku?

Aku lelah. Harus berapa banyak lagi luka yang kuderita agar kau menemukan aku?

Aku: Bersabarlah, manisku. Aku akan menemukanmu dan menjemputmu. Aku tak ingin lagi kau menderita. Karena deritamu adalah derita yang menyiksaku jua.

Ketahuilah, manisku, jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang. Karena manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan dan yang mampu membuka pikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan, hanya cintalah yang akan menyatukan kita.

Memang inilah semua suara hati yang hendak aku curahkan lewat kata-kata sederhana, tapi penuh mungkin bermakna.

Aku tersiksa dengan perasaan ini. Jahatkah aku mencintaimu mati-matian? Begitu amoralkah semua perasaan ini?

Jika memang iya, kenapa mesti cinta itu dicipta jika hanya menyakiti? Bukankah cinta itu adalah kebahagiaan sejati?

Dirimu: Tidak, Tuan, kau tidak jahat karena mencintaiku sebegitu dalam. Akulah yang jahat karena tidak dapat mencintaimu sedalam itu.

Dan benar, Tuan. Cinta adalah kebahagiaan sejati. Dan yang sejati tidak mugkin didapat dengan mudah. Benar, kan?

Bersabarlah sedikit lagi. Cinta ini butuh waktu.

Aku: Jika memang itu pintamu, aku bisa apa? Yang kutahu hanyalah mencinta.

Cinta itu tak datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah keterpautan jiwa. Dan jika itu tak pernah ada, cinta tak pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

Dirimu: Tak akan aku buat kau menunggu aku terlalu lama, Tuan. Percayalah, aku tidak setega itu. Bersabarlah sedikit saja. Aku hanya perlu diyakinkan oleh-Nya.

Aku: Terima kasih atas percayamu. Aku menunggu jawaban darimu, jawaban dari lubuk hatimu, karena aku lebih bahagia jika dirimu bisa berbahagia.

***

Aku: Di ujung sore ini, hujan turun bersama angin dingin yang membawa rinduku kepadamu. Aku merindukanmu, manisku

Aku rindu memang, tapi rindu sendiri tak bisa aku terjemahkan. Namun, kerinduan ini membuatku terkapar dan meratap.

Manisku, kapan kita bersua melepas rindu? Aku ingin menatap wajah teduh dan senyum tulus dari bibirmu.

Dirimu: Sore ini memang hujan, Tuan. Tapi, percayalah, aku tetap menjadi pagi yang akan kau lihat pertama kali, atau angin  yang setelah panas akan kau cari. Aku tetap menjadi apa-apa yang ingin kau miliki. Aku akan tetap seperti ini.

Aku: Akankah aku bisa memiliki dirimu dalam wujud, ataukah hanya menjadi angan dalam imajiku?

Sungguh aku tersiksa dengan rindu ini, manisku. Aku ingin memilikimu dalam wujud cinta yang diridhoi sang Pencipta.

*Ini saya ambil dari percakapan ‘Chat’ dengan salah satu wanita yang pernah dekat dan akhirnya menghilang.

___________________

*Klik di sini untuk membaca sajak-sajak lainnya.

Latest posts by Muh Ihsan Tahir (see all)