Perempuan dan Mimpi-Mimpi

Perempuan dan Mimpi-Mimpi
©Kompas

Kehidupan setelah menikah bagi perempuan sangat menyita waktu, bagai dua sisi mata uang, satu sisi itu sangat melegakan dan membahagiakan. Pernikahan adalah salah satu dreamlist yang menduduki rating atas dalam prioritas perempuan dewasa, apalagi sebuah pernikahan yang dilalui dengan laki-laki impian, saling mencintai dan dalam hubungan yang sehat, didukung keadaan finansial yang baik, serta dikaruniai buah hati yang sehat.

Di sisi lain, ada mimpi perempuan yang sering kali menjadi problem ketika perempuan mempunyai keluarga, yakni masalah karier. Peran perempuan dalam keluaga ibarat jantung; dia yang menghidup-hidupi keluarga. Apalagi di bangsa “timur” seperti ini.

Perempuan mengandung, melahirkan, mengASIhi, dan mengasuh anak dipandang suatu kewajaran, bukan sebuah pilihan bagi perempuan tersebut. Belum lagi kewajiban mengurus rumah dan melayani suami adalah sebuah kewajiban.

Tugas-tugas tersebut sangat menyita waktu dan emosi ketika tidak ada support system yang baik dari suami dan lingkungan sekitar. Kesibukan baru inilah yang akan mengubah banyak hal pada diri perempuan termasuk masalah kariernya yang merupakan salah satu bentuk mimpi yang dulu diperjuangkan.

Meskipun terdengar klise, kemandirian finansial bagi seorang perempuan yang sudah berkeluarga sangat penting, meskipun suami sudah mencukupinya. Selain sebagai sebuah bentuk harga diri perempuan tersebut dan keluarga asalnya, memiliki pekerjaan menjadi wadah aktualisasi diri yang bisa menjaganya tetap percaya diri dan merasa lebih berarti.

Self respect itu penting untuk kesehatan mental seseorang. Namun, ketika keadaan dalam keluarga tidak mengizinkan untuk seorang perempuan bekerja dan meneruskan karier, tidak jadi masalah selama diputuskan dan disepakati bersama dengan kesadaran penuh. Seorang istri bisa meminta apa yang dia butuhkan ketika dia harus berada di rumah tanpa mempunyai penghasilan sendiri, dia harus mencari celah untuk tetap bisa mengaktualisasikan diri dengan melakukan hobi dan kemanfaatan lain.

Kesepakan tersebut juga harus diimbangi dengan penghargaan dari seoramg suami atas pengorbanan istrinya tersebut. Hal tersebut bertujuan agar istri tetap bisa menghargai diri sendiri.

Pada prinsipnya, perempuan harus sadar dengan hak, juga kewajiban di mana pun dia tinggal, tanpa harus menunggu seseorang memperjuangkan keberadaannya. Kesadaran itu yang sering tidak muncul karena berbagai faktor; perempuan dianggap sebagai lapisan sosial nomor dua, perempuan dianggap sebagai pelengkap laki-laki saja, perempuan dianggap sebagai makmum (dalam pemahaman agama), dan karier tertinggi perempuan umumnya adalah menjadi tiang sebuah rumah dalam keluarga.

Baca juga:

Di sini sentimen gender sangat  terasa, stigma masyarakat kita sangat kuat, sehingga mimpi seorang perempuan untuk berkarier dan mempunyai kemandirian finansial hanya berakhir di angan-angan saja, kecuali mereka berpendidikan dan berwawasan terbuka serta bagi para perempuan beruntung yang didukung oleh keluarga yang memberikan pemahaman bahwa dalam sebuah keluarga, suami istri mempunyai peran yang sama dalam mengelola pekerjaan domestik, mengurus anak, dan dalam mengejar mimpi atau mengaktualisasikan diri. Suami istri bisa bekerja sama dalam segala hal.

Sistem pendukung yang baik untuk perempuan bukan hal yang mudah didapatkan ataupun dibentuk. Butuh kesadaran banyak pihak, hal ini bisa diantisipasi salah satunya dengan membuat perjanjian pra-nikah agar suami dan istri sama-sama jelas ada peraturan yang mereka sepakati bersama.

Sebenarnya, pekerjaan domestik bisa dilakukan bersama, kerja sama dan berbagi tugas, atau dengan menjalin komunikasi yang baik di antara keduanya Hal ini akan sangat sulit dilakukan ketika suami berasal dari keluarga yang memegang prinsip patrilineal yang kaku. Urusan dapur, sumur serta mengurus anak mutlak tanggung jawab istri, suami kerja mencari nafkah saja dan harus dilayani.

Sebenarnya seorang suami akan lebih mudah menerima keadaan untuk belajar mengerjakan pekerjaan domestik, selama keluarga suami tidak mendoktrin bahwa sebuah hal memalukan seorang laki-laki membantu mencuci pakaian, menyapu rumah, mencuci piring, dan sebagainya, atau bahkan menyebutnya seperti banci. Kasus seperti itu sangat banyak terjadi dalam masyarakat kita, memaksa mereka berada dalam pilihan sulit ketika akan melanjutkan berkarier.

Kasus depresi dan masalah kesehatan mental banyak terjadi pada perempuan setelah menikah dan melahirkan. Post partum syndrome, baby blues, depresi, dan sebagainya. Seberapa banyak laki- laki yang menyadari dan belajar dari banyak kasus yang sudah terjadi di sekitar kita?

Judul-judul berita yang menyayat hati pembaca/pemirsa; “Seorang Ibu membu*** balitanya”, “Seorang Ibu Tega Memutila** Anaknya Sendiri”, “Seorang Ibu Nekat Bunuh Diri”, dan yang sekarang sedang viral adalah seorang polwan membakar suaminya sendiri, dan masih banyak lagi berita-berita serupa.

Lalu apa reaksi kita? Masihkah menuduh mereka gila dan kurang iman? Atau kita mulai sadar, relasi dalam keluarga yang tidak sehat mengakibatkan seorang istri depresi sangat berbahaya tanpa terlihat dan ternyata banyak sekali terjadi

Seorang laki-laki berstatus suami wajib memahami kondisi istrinya. Apa yang dia impikan, apa yang dia rasakan, apa yang ingin disampaikan kepadanya? Bukankah pernikahan itu bincang-bincang santai yang kadang diulang-ulang antar pasangan?

Baca juga:

Jangan sampai perempuan-perempuan yang juga punya potensi besar mengikhlaskan mimpi-mimpinya menjadi fosil karena berkorban untukmu. Lumayan kalau berkorban untuk kemaslahatan keluarga, kalau hanya berkorban demi egomu? Kalau memang bisa menjadi support system yang baik, partner yang menyenangkan, kenapa tidak?

Namun, jika seorang perempuan dengan sadar ingin fokus mengurus keluarga dan anak-anak tanpa paksaan, apresiasi hal tersebut, dia istimewa. Berbahagialah para wanita apa pun pilihanmu.

Prioritaskan dirimu, kamu berhak merayakan mimpi-mimpi yang mungkin kamu susun sebelum kamu menyusun mimpi berkeluarga. Kamu bisa bernegosiasi dengan keadaan; bersama- sama suami mengerjakan tugas domestik dan berkarier, bekerja dan mengasuh anak dengan berbagai pilihan pengasuhan.

Esti Budi Utami
Latest posts by Esti Budi Utami (see all)