Perempuan Merdeka Menginginkan Sapa dari Orang Asing?

Perempuan Merdeka Menginginkan Sapa dari Orang Asing?
©Pixabay

Seakan-akan perempuan merdeka itu tak memerlukan orang-orang. Bahkan mungkin juga, ia tak manganggap orang-orang. Ia cukup santai dan merdeka pada kesendiriannya.

Tepat pukul 16:38, di sebuah warung kopi Yogyakarta yang sedang ramai-ramainya pengunjung. Sore itu pengunjung mulai berdatangan, membuat setiap kursi yang kosong merasakan kemesraan pertemanan, persekawanan, persahabatan, serta orang-orang yang sedang berpacaran.

Perasaan mulai aneh ketika melihat peristiwa itu. Sebab aku tidak berada dari keempat kategori di atas. Setiap suara mulai teresapi oleh pikiran dan memaksa mata untuk fokus pada laptop.

Sore itu memang aneh buatku. Pikiran ke mana-mana menghilangkan konsentrasi melihat sekumpulan kemesraan dalam kata-kata yang bersahabat, seperti: jancuk, anjing, babi, bangke, dan lain-lain. Saat itu juga aku merasa menginginkan kawan yang kebiasaannya mengucapkan kata-kata itu.

Aku rasa dengan memperkenalkannya akan membuat tulisan ini agak menarik. Namanya Bang Kumis. Ia punya ukuran badan yang jauh dari kata ideal. Namun dengan pedenya ia berkata, “ukuran badanku adalah pemikat para perempuan.” Kurang lebih seperti itu.

Sering kali si Bang Kumis ini mengganggu orang-orang yang tidak mau bersahabat dengan kata-kata kotor atau orang-orang bermoral. Padahal kenyataannya, menurutku, ia malah menjauhi moral percakapan tanpa batas, “terlalu displin”.

Namun, menurut Bang Kumis, kata itu adalah lambang persabatan tanpa batas. Aku ngakak mengingat itu. Namun ada benarnya juga kata Bang kumis itu, persahabatan butuh ketotalan biar segala curiga bisa binasa dalam pikiran. Kita perlu melakukan pelatihan pendewasaan pikiran, terhadap orang-orang yang terlalu disiplin.

Cukuplah perkenalan Bang kumis, sebab ia bukan inti dari cerita ini. Mari kita kembali ke persoalan sore yang menjengkelkan itu.

Suara-suara itu tetap terdengar sangat jelas, dalam hati aku berkata jancuk. Namun, tepat disamping meja yang aku tempati, ada sosok perempuan yang biasa-biasa saja dengan peristiwa yang membuatku jengkel. Panggil saja ia dengan nama “perempuan merdeka”. Soalnya, sedari tadi ia tak menoleh ke kiri atau ke kanan, sebagai respons dengan suara-suara aneh itu.

Baca juga:

Ia merdeka dalam keadaannya. Agaknya ia tak memilih pusing dan memikirkan orang-orang di luar dari dirinya. Padahal ia juga sedang sendiri sama sepertiku, namun berbeda dalam respons.

Kebingungan dalam Keinginan

Gugup melihat keadaan itu memberiku isyarat: “kau perlu bertanya terhadap apa yang di pikirannya.” Tetapi apakah itu tidak berlebihan mengingat aku sebagai orang asing yang akan memunculkan diri di hadapannya? Di pikiranku, “perilaku yang akan aku lakukan itu akan terlihat aneh bagi orang yang baru di mata.”

Tetapi perempuan merdeka itu tampak santai dalam duduknya. Terlihat tak ada niat untuk menyapa orang-orang di sekitarnya. Fokus pada laptopnya adalah yang harus ia lakukan pada saat itu. Menurutku, terjadi Kekacauan pikiran terhadap keadaan yang memaksa diri atau punya keinginan bertanya. Namun berantakan dalam cara menyapa karena fokusnya tak teralihkan oleh apa pun.

Mengingat argumen Bambi Cahyadi penulis 70-an. Di Indonesia, orang mau makan suka kebingungan sendiri ketika sudah berada di depan meja kasir. Mereka terlongo-longo sambil bergumam, “mau makan apa ya aku?”

Mau makan saja bingung dan harus berpikir, bagaimana memikirkan negara yang makin korup? Berpikir makan saja kelimpungan. Itulah mengapa Indonesia sulit jadi negara maju.

Coba perhatikan orang bule. Saat memesan menu di restoran cepat saji, maka ia telah menentukan pilihan menunya ketika baru saja berniat makan di situ. Itulah bedanya.

Pendapat Bambi Cahyadi benar adanya. Namun, mengingat sebab-musabab dari perilaku ini adalah ketidaksanggupan memulai percakapan terhadap perempuan merdeka itu. Memikirkan akibat-akibat dan curiga yang terlalu berlebihan ketika ingin menghadap tepat di depannya dan berkata, “apa yang sedang mbak lakukan? Soalnya sedari tadi diam dalam fokusmu.”

Penasaran itu muncul dalam dudukku yang berlangsung lama. Karena ia benar-benar tidak teralihkan oleh apa pun. Entah ia sedang sibuk dengan pikirannya sehingga dialektika di luar darinya tidak jadi objek pikiran.

Halaman selanjutnya >>>

Iqbal Maulana
Latest posts by Iqbal Maulana (see all)