Perempuan-Perempuan yang Bangkit

Perempuan-Perempuan yang Bangkit
©ArtDoc/NP

Sebagai seorang penulis perempuan yang mempunyai perhatian besar kepada sesama kaumnya, Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin—yang selama ini orang kenal sebagai Nh. Dini—mengabadikan berbagai pengalaman perempuan-perempuan dalam buku-bukunya. Sekumpulan cerpen yang ia tulis antara 1953-1983 kemudian terbit untuk ia sebarkan secara gratis ke sekolah-sekolah.

Dalam buku tersebut, terdapat sepuluh cerpen yang sangat menyentuh. Bahasa prosanya yang khas dan berbagai macam alur membuat pembaca makin tenggelam ke dalam cerita. Deskripsinya terutama mengungkapkan perasaan tak berdaya perempuan atas tubuhnya, namun menyertakan penolakan pasrah terhadap keadaan.

Berawal dengan cerpen berjudul Dua Dunia yang sekaligus menjadi judul buku, Nh. Dini memaparkan betapa perempuan-perempuan di masa itu terkungkung dengan kewajiban-kewajibannya menjadi calon istri yang baik untuk pria yang orang tuanya pilihkan. Hal ini tidak terlepas dari kebutuhan ekonomi bagi orang tua tersebut.

Sebetulnya persoalan semacam ini adalah perdagangan manusia yang paling halus karena keluarga sendiri yang melakukan. Nh. Dini mengungkapkan perasaan dan pikiran Iswanti:

“Tapi aku sangat menyesal karena namaku dibuat mencari keuntungan. Dan keuntungan itu cuma untuk dibuang-buang di meja judi.”

“Kalau Bapak mau, boleh saja. Tapi jangan kami, aku dan Kanti, ikut pula terbawa-bawa untuk pengganti jasa.”

“Aku tak peduli macam hukum mana pun juga. Terlalu tak ngopeni perasaan kemanusiaan.”

Perbedaan pandangan generasi tua dengan perempuan muda saat itu juga tercetus dalam Pendurhaka, ketika Nh. Dini menuliskan pendapat Yati:

Aku ingat, Bunda selalu mendahulukan anaknya laki-laki dalam segala hal yang enak. Bunda perbuat apa yang Nenek perbuat terhadapnya dulu.

Ah! Bunda sangat tidak tahu cara hidup dan bergaul orang-orang zaman kini. Sejak Ayah meninggal, dia tak tahu bahwa hidup bergerak di mana-mana, tidak hanya di lingkungan rumah keluarga itu saja. Bunda tak tahu pula bahwa anaknya yang lari dari rumah hanya untuk mencari hidup yang sebenarnya hidup.

Perjuangan perempuan selalu melibatkan perempuan yang lain. Pada Istri Prajurit, ia ceritakan persahabatan antara Ningsih yang berlatar keluarga keraton yang sangat ketat dalam pingitan anak perempuan dengan Niek yang mempunyai kedudukan kebangsawanan jauh lebih rendah dan lebih bebas berperilaku.

Ketika putri semata wayangnya meninggal menyusul gugurnya sang suami, Ningsih bertekad meniru ketegasan dan semangat Niek, setelah mereka mengomunikasikan apa yang seharusnya ia perbuat dalam bela rasa:

“Kauputuskan sendiri persoalan cinta dan kawinmu dengan Garjo dulu. kenapa kau kini tidak menguasai ketegasan itu lagi. Aku tak percaya kau hanya punya satu saat saja untuk menunjukkan ketegasan kepada mereka.”

“Aku belum punya kesempatan.”

“Begitu banyak kesempatan yang terbuang malahan, karena kau tak menyadari bahwa itu adalah satu kesempatan.”

Aku berhenti sebentar. Kurasa aku terlalu keras mendesaknya. Dan aku mengubah suaraku agak lembut, … .

Budaya yang menempatkan perempuan-perempuan lebih rendah dari laki-laki, sejak anak-anak, begitu kental pada masa itu. Di luar persoalan perempuan yang harus tunduk pada kewajiban sebagai istri dan anak yang berbakti, ada juga persoalan mistik mengenai nama dalam pewayangan yang orang anggap mempunyai konsekuensi berat pada kehidupan perempuan yang menyandang.

Terkisahkan tentang Prita, putri seorang pedhalang dalam cerpen Jatayu:

Anak perempuan menjadi adik dari anak sulung laki-laki. Tapi alangkah beda umur antara kedua anak itu. Dan dia, anak perempuan idaman bapaknya itu, mendapat nama Prita, nama yang sangat dipenuhi harapan oleh orang tua itu untuk mnjadi manusia yang baik, seperti Prita pada ibu Pendawa dalam cerita wayang.

Tapi nama itu terlalu berat, tak terdukung oleh gadis itu, kata orang-orang sekampung. Karena setelah menjelang umur enam belas tahun, Prita ternyata sakit keras. Sakit malaria tropika yang menggerogoti otak dan syarafnya.

Halaman selanjutnya >>>

Patricia Pawestri