Peringatan Rakyat: Kemiskinan Polman yang Terpelihara

Peringatan Rakyat: Kemiskinan Polman yang Terpelihara
Calon Bupati Polman 2018-2023; Jenderal Salim Mengga (JSM) & Andi Ibrahim Masdar (AIM)

Bukan rahasia lagi, kemiskinan Polman, sampai hari ini, masih terpelihara dengan baik. Keterbelakangan, mental pengemis, semua masih menghiasi wajah masyarakat kita secara umum.

Kita semua tahu, KPU Polman (Polewali Mandar) sudah menetapkan kalian, Jenderal Salim Mengga (JSM) dan Andi Ibrahim Masdar (AIM) sebagai pasangan resmi Calon Bupati Polman Periode 2018-2023. Itu terselenggara tepat di Gedung SLB Pekkabata, 12 Februari 2018.

Dan untuk itu, surat ini secara terbuka kutujukan pada kalian semua sebagai putra-putra terbaik Polman hari ini. Sebab, mau tidak mau, suka tidak suka, tentunya salah satu dari kalianlah yang akan membawa perubahan penting untuk Polman 5 tahun ke depan.

Menimbang dinamika keterbelakangan roda perekonomian masyarakat Polman, dan atas dasar fakta yang tidak bisa dinafikan, bahwa terjadi ketimpangan yang semakin parah antara yang kaya semakin kaya dengan yang miskin semakin miskin. Begitu banyak pengangguran horizontal serta hal-hal lain tentang situasi kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat yang masih parah. Maka, surat ini aku beri judul Peringatan Rakyat: Kemiskinan Polman yang Terpelihara.

Sebelum terlalu jauh, saya patut jelaskan maksud judul surat peringatan terbuka ini. Agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita. Jangan kalian berpikir aku menuduh sebagai aktor yang memelihara kemiskinan, terutama kepada Andi Ibrahim Masdar sebagai petahana, Bupati Polman 2014-2018.

Yang saya maksud, kemiskinan Polman yang terpelihara selama ini adalah akibat kegagalan sistemik semua mekanisme pemerintahan Kabupaten Polman sebagai rumah bersama. Ada kegagalan mewujudkan keadilan sosial-ekonomi secara linear-transformatif di hampir seluruh aspek tatanan masyarakat Polman.

Jangan pula kalian berpikir aku main-main. Aku serius mengatakan dan tegas, ketimpangan demokrasi ekonomi kita masih begitu parah di kabupaten Polman tercinta ini. Seperti seriusnya kalian dalam menjanjikan, kalau perlu, bahkan mengarang-ngarang cerita agar kalian bisa mendapat simpati masyarakat luas. Tetapi, saya pikir, putra terbaik seperti kalian tidak akan seburuk itu dalam berpolitik. Aku yakin.

Tidak usah terlalu jauh menunjukkan data kemiskinan Polman yang terpelihara selama ini. Kita semua tahu, di Polman, terdapat 16 kecamatan. Semua terdiri dari 132 desa/kelurahan, yang ironisnya, kebanyakan di antaranya adalah rakyat yang termiskinkan.

Jika kalian turun ke masyarakat secara langsung, aku peringatkan satu hal, jangan hanya menceritakan tentang segala kelebihan dan kekayaan melimpah yang kalian miliki saja. Tapi cobalah bertanya, ada berapa masyarakat setiap desa yang pergi merantau ke Malaysia (dan negara atau daerah lainnya) dan menjadi budak-budak pembangunan di sana. Tanyakan lebih serius lagi, mengapa mereka merantau? Seperti apa parahnya yang dialami oleh mereka? Berapa pengangguran dalam setiap desa itu?

Baca juga:

Di situ kalian akan tahu betul betapa menderitanya masyarakat kita. Jelas, kita semua terlibat dalam labirin penderitaan rakyat yang terjadi selama ini. Aku tidak butuh teori-teori filsafat kemiskinan untuk mengungkapkan ini semua.

Sekarang aku mengajak berpikir secara sosio-kultural. Terserah mau pakai teori sosial ala Weberian, Durkheim, ataupun gaya Marxian sebagai standar metodologi yang akademis dalam membaca situasi sosial-masyarakat kita. Atau terserah pakai teori sosial apa saja, yang penting jangan ala Hitler atau Soeharto. Sebab pandangan seperti itu justu malah akan tambah mematikan.

Fenomenanya seperti ini. Dalam masyarakat Polman, begitu banyak lagu-lagu daerah yang memuat tentang “to sumombal, to tuna, to kasi-asi”. Ini fakta. Bahkan aku berani menyatakan, pola seperti ini adalah karakter khas lagu Mandar.

Sayangnya, surat ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Ali Baal Masdar. Sebab dia pasti lebih piawai soal lagu-lagu. Meski lagu-lagu yang pernah dirilisnya hanya memuat unsur kampanye saja, agar menarik perhatian masyarakat. Tidak pernah sama sekali aku dengar lagu-lagunya yang memuat cerita kemiskinan Polman, atau Sulbar secara umum, seperti yang aku ceritakan ini.

Tanpa berbicara tentang teori-teori kepercayaan, aku sudah bisa menduga,sedikit banyak kalian semua sudah tidak asing lagi dengan fenomena lagu-lagu daerah yang saya maksudkan. Lagu yang begitu banyaknya beredar di masyakarat tentunya tidak lepas dari konteks realitas yang dialami segenap rakyat Polman yang penuh dengan kemiskinan; tentang ketidakadilan demokrasi ekonomi hingga perantauan “sumombal” jadi pilihan terpaksa bagi mereka. Demikianlah kenyataan para “to matuna kasi-asi” selama ini di Kabupaten Polman.

Saya di sini dalam rangka mengingatkan situasi nyata tentang kemiskinan Polman yang terpelihara selama ini kepada pasangan resmi Calon Bupati Polman Periode 2018-2023. Jika berkenan ingin lebih tahu dalam menyoal lagu-lagu itu, silakan bertanya kepada Ali Baal Masdar selaku Gubernur Sulbar. Sebab beliau cukup handal dan pakar di bidang lagu daerah. Bahkan cukup berhasil menjadikan seni musik sebagai style kampanyenya. Walaupun isi musiknya, sejauh ini, tidak pernah mendendangkan narasi kemiskinan yang parah, yang nyata dari masyarakat kita tercinta ini.

Sangat penting isi surat peringatan ini untuk bapak-bapak sadari, dan menjadikannya sebagai panduan mendasar, atau basis utama di dalam langkah-langkah memajukan kabupaten kita ke depan. Aku berani mengatakan, “laknat-murka absolut” dari rakyat pada kalian jika poin-poin yang saya ingatkan ini dikesampingkan, bahkan dilupakan dalam kerja nyata pemerintah kabupaten kelak.

Retas Kemiskinan Polman yang Terpelihara

Polman ke depan, kita tidak mau lagi mendengar, menemukan maraknya fenomena masyarakat kita merantau, karena ketidakberdayaan mengelola sumber daya alamnya yang melimpah gemah ripah loh jinawi itu. Apalagi hanya karena alasan tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang-pangan. Ini fakta yang tidak pernah sama sekali diperjuangkan secara serius, berkenyataan-berkelanjutan. Yang berkenyataan hanyalah kampanye janji-janji manis berkelanjutan itu.

Halaman selanjutnya >>>
Nasaruddin Ali
Latest posts by Nasaruddin Ali (see all)