Perjuangan Petani Kendeng dan Eksploitasi terhadap Perempuan

Perjuangan Petani Kendeng dan Eksploitasi terhadap Perempuan
Foto: KOMPAS

Nalar Politik Akhir-akhir ini, kabar tentang perjuangan para petani Kendeng kian semarak. Terlebih ketika aksi demonstrasi pada Selasa (21/3/2017) di Istana Negara (Jakarta) bertajuk “Aksi Semen Kaki” menyisakan duka-cita dengan meninggalnya seorang petani Kendeng perempuan (peserta aksi) bernama Patmi.

Patmi, salah seorang warga asal Pati, Jawa Tengah, meninggal dunia seusai melakukan aksi mengecor kaki dengan semen. Ia diduga terkena serangan jantung. Kabar duka inilah yang cukup membuat publik terhenyak.

Atas peristiwa tersebut, tentu kita patut bertanya-tanya. Mengapa sampai ada korban jiwa dalam aksi tersebut? Apa yang mereka perjuangkan hingga harus bertaruh nyawa seperti itu?

Kronologi Kematian Patmi

Selasa, 14 Maret 2017, sejumlah petani Kendeng, Jawa Tengah, menggelar aksi demonstrasi dengan mengecor kaki di depan Istana Negara, Jakarta Pusat. Mereka memprotes tindakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, yang telah menerbitkan izin lingkungan baru bagi PT Semen Indonesia.

“Kami melihat Gubernur Jawa Tengah ini tidak mematuhi perintah Presiden Jokowi. Padahal, Presiden kan pimpinan tertinggi di negeri ini. Saya jadi bertanya-tanya ada apa, kok bisa Gubernur Jawa Tengah berani melawan perintah Presiden Jokowi,” kata Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto di Istana Negara, Senin (13/3/2017).

Seperti diketahui, dengan terbitnya izin tersebut, kegiatan penambangan karst PT Semen Indonesia di Rembang masih tetap berjalan. Padahal sudah ada Putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap dan Perintah Presiden untuk memoratorium izin. Namun pada 23 Februari 2017, Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah kembali mengeluarkan izin lingkungan.

Aksi ini sendiri merupakan aksi lanjutan setelah sebelumnya melakukan aksi yang sama pada 12 April 2016 lalu. Kala itu, 9 (sembilan) perempuan asal Rembang, Jawa Tengah, melakukan aksi mengecor kaki dengan semen di depan Istana Negara, Jakarta Pusat.

Senada dengan aksi kedua kali ini, mereka menuntut Pegunungan Kendeng Utara bebas dari pabrik semen yang didirikan oleh PT Pabrik Semen. Karena bagi mereka, keberadaan pabrik semen hanya akan menghabisi lahan mata pencaharian mereka sebagai petani.

Aksi demonstrasi di tahun lalu itu pun mendapat respon positif dari pemerintah. Melalui perwakilan Presiden, yakni Kepala Staf Presiden Teten Masduki dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, pemerintah menyampaikan bahwa izin lingkungan pabrik semen untuk sementara waktu dicabut.

Meski demikian, Ganjar Pranowo selaku pemerintah daerah setempat kembali meneken izin lingkungan untuk pembangunan pabrik semen tersebut. Hal inilah yang kemudian memicu para petani Kendeng kembali menggelar aksi dengan cara yang sama, yang sayangnya berakhir tragis dengan kematian salah seorang peserta aksinya (Patmi).

Menurut Ketua Bidang Advokasi Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur, warga pedesaan di kawasan bentang alam karst Kendeng sudah memulai aksi kolektifnya pada Senin, 13 Maret 2017. Mereka memprotes pemerintah pusat, terutama Pemda setempat, atas beroperasinya kembali pabrik semen milik PT Semen Indonesia.

Isnur menilai, beroperasinya kembali pabrik semen di Kendeng, adalah bentuk pelanggaran hukum, mengabaikan putusan Mahkamah Agung yang sebelumnya sudah membatalkan izin lingkungan pabrik semen.

Aksi protes ini pun berlangsung hingga ke depan Istana Negara pada Selasa, 14 Maret 2017. Dan pada Kamis, 16 Maret 2017, puluhan warga dari Kabupaten Pati dan Rembang datang menyusul dan bergabung melakukan aksi pengecoran kaki.

“Bu Patmi adalah salah satu dari yang mengecor kaki dengan kesadaran tanggung jawab penuh. Beliau datang sekeluarga, dengan kakak dan adiknya, dengan seizin suaminya,” kata Isnur melalui keterangan persnya di kantor LBH Jakarta.

Sebenarnya, lanjut Isnur, almarhumah Patmi berencana pulang kampung bersama dengan sebagian peserta aksi lainnya. Dan 9 orang di antaranya akan tetap melanjutkan aksi pada Selasa, 21 Maret 2017.

“Sebagian besar warga akan pulang ke kampung halaman, sementara aksi akan terus dilakukan oleh sembilan orang. Bu Patmi adalah satu yang akan pulang sehingga cor kakinya dibuka semalam, dan persiapan untuk pulang di pagi hari,” terang Isnur kembali.

Tim dokter dari Rumah Sakit Islam sendiri pun sebelumnya sudah memantau kondisi para petani Kendeng. Ibu Patmi dinyatakan masih dalam keadaan sehat.

Akan tetapi, sekitar pukul 02.30, Patmi mulai mengeluh. Badannya tidak nyaman. Mengalami kejang-kejang, lalu muntah setelah mandi. Pihak rumah sakit pun segera membawanya ke RS St. Carulus Salemba.

“Menjelang sampai di rumah sakit, dokter mendapatkan Bu Patmi meninggal dunia. Pihak RS St. Carolus menyatakan bahwa Bu Patmi meninggal mendadak sekitar pukul 02.55 dengan dugaan serangan jantung,” lanjut Isnur.

Jenazah Patmi pun dipulangkan ke desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati untuk dimakamkan di desanya pada Selasa pagi. Sebagian dari mereka yang melakukan aksi semen kaki juga langsung pulang menuju Kendeng.

“Kami segenap warga negara Republik Indonesia yang ikut menolak pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng berduka atas kematian ibu Patmi dalam aksir protes penolakan di seberang Istana Presiden ini,” lanjut Isnur menunjukkan kedukaannya.

Terkait bagaimana nasib aksi semen kaki selanjutnya, untuk sementara ini pihak pengunjuk rasa yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) menundanya.

Respons Pemerintah

Di hari sebelumnya, Kepala Staf Presiden Teten Masduki mengundang massa aksi ke Istana Negara. Mereka berdialog panjang lebar tanpa menghasilkan buah manis berupa kesepakatan. Massa menolak tawaran Teten.

“Tidak ada hasil,” ujar Koordinator JMPPK.

Sementara Teten menjelaskan bahwa pihaknya meminta para petani yang melakukan aksi semen kaki berhenti hingga Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KHLS) keluar pada April 2017 nanti.

“Kami sampaikan ke para masyarakat Kendeng yang tadi hadir di KSP (Kantor Staf Presiden) supaya mereka bisa berhenti dulu, tunggu hasil KLHS,” tandas Teten sesuai pertemuan.

Harapan itu, karena kajian KLHS ini tidak bisa dilakukan hanya dalam sehari. Sehingga sembari menunggu, lanjut Teten, lebih baik aksi semen kaki di depan Istana dihentikan.

Sebelumnya, tambah Teten, pihaknya sudah melakukan pembahasan dengan PT Semen Indonesia. Ada kesepakatan yang dihasilkan, yakni proses penambangannya sementara waktu dihentikan. Jalan akses juga dijanjikan untuk diperbaiki karena rusak akibat alat berat tambang.

“Rencana peresmian pabrik mungkin ditunda dulu,” lanjut Teten.

Adapun respons pemerintah terkait kabar meninggalnya Patmi, Presiden langsung menginstruksikan agar pemerintah membantuk untuk kepulangan jenazah. Ia menyampaikan bahwa pemerintah turut berduka cita atas musibah tersebut. Ia meminta agar masyarakat melakukan aksi dengan cara yang tidak mengambil resiko pada keselamatan diri.

“Menyampaikan aspirasi adalah hak dalam demokrasi. Namun, kami (pemerintah) menghimbau untuk tidak melakukan aksi yang membahayakan bagi kesehatan,” terangnya.

Di samping itu, Teten juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat sedang mengupayakan jalan terbaik atas penolakan warga Pegunungan Kendeng.

“Tuntutan mereka kan sudah kita rekomendasi. Mudah-mudahan ini hasil KLHS akan selesai akhir Maret. Mungkin nanti jadi rujukan lah. Tapi akan (kami) bicarakan terus sama Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian BUMN, dan juga pemerintah daerah setempat (Pemrov Jawa Tengah),” imbuh Teten.

Menolak Eksploitasi dengan Eksploitasi

Sebelum peristiwa meningganya Patmi, seorang aktivis perempuan Roostien Ilyas sudah memberikan pandanganna. Menurutnya, pelibatan perempuan dalam aski cor kaki itu berisiko dan merupakan eksploitasi pada kaum perempuan.

“Kenapa yang menyemen kakinya harus perempuan? Makanya saya menyayangkan hal ini, padahal masih banyak cara-cara lain,” terang Roostien.

Mestinya, lanjut Roostien, sebelum melakukan aksi demonstrasi atau menyampaikan aspirasi, hendaknya menggelar aksi teatrikal yang didahului dengan diskusi mendalam dari berbagai aspek.

“Bukan hanya aspek sosiologis cara yang dipakainya, tetap juga aspek medis psikologisnya,” lanjutnya.

Sebelumnya juga, Aliansi Perempuan Rembang Bangkit (APRB) melaporkan aksi semen kaki di depan Istana Merdeka, Jakarta, itu ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Bareskrim Polri, Kamis (16/3/2017). Alasannya, karena aksi tersebut membahayakan keselamatan jiwa para peserta.

“Kasihan ibu-ibu itu, kesehatan gimana. Ganti bajunya, tidurnya, terganggulah,” terang salah satu perwakilan dari APRB, Triningsih, seper ti dilansir VIVA.co.id.

Laporan tersebut, tambah Triningsih, bertujuan agar aparat penegak hukum menghentikan aksi pemasungan kaki tersebut. Kemudian, memproses hukum aktor intelektualnya.

“Kita tidak berbicara terhadap sikap pembangunan pabrik PT Semen Indonesia di Rembang. Namun yang sangat miris di hati saya, dan pada umum kaum hawa adalah model penyampaian pendapat yang menurut saya tidak menggambarkan perilaku perempuan yang sebenarnya, dan terkesan ada eksploitasi perempuan,” tuturnya kembali.

Selain menuturkan bahwa aksi menyemen kaki petani Kendeng berisiko pada kesehatan (mengancam nyawa), Triningsih juga meyakini bahwa orang Rembang asli yang notabene petani tidak punya pemikiran ke arah sana.

“Pasti ada penggeraknya,” tegas Tri.

Dalam laporannya, pihak APRB menuturkan bahwa ada dua orang aktor yang mendalangi kegiatan ini. Ia pun meminta pihak kepolisian untuk memprosesnya secara hukum.

“Bukti-bukti juga sudah sampaikan. Tadi bertemu Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Bareskrim Rita Wulandari Wibowo,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: