Perlawanan Islam atas Liberalisme dan Komunisme

Perlawanan Islam atas Liberalisme dan Komunisme
Ilustrasi: Boekoe Theotraphi

Jika hanya sebagai agama, Islam niscaya akan dengan mudah diterima oleh masyarakat Arab. [Tetapi] kehadiran Islam adalah revolusioner. Sebab ia menolak sistem ekonomi, sosial, dan politik dengan segala implikasi moralnya yang telah membusuk di zamannya. ~ Asghar Ali Engineer

Membaca judul buku ini, saya sangat tertarik. Pada mulanya saya berharap buku ini merupakan rangkaian konsepsi Islam secara argumentatif. Menolak segala hal tentang kapitalisme yang merupakan alasan besar mengapa kemiskinan masih ada di era modern.

Namun, isi dalam buku ini jauh melampaui harapan saya. Bahkan komunisme pun menjadi sasaran kritikan yang tajam di dalamnya, termasuk kapitalisme.

Salah satu perdebatan filosofis dalam filsafat ekonomi dan kehidupan sosial secara umum adalah menyoal tentang “Keadilan”. Zakiyuddin Baidhawy menyuguhkan perbandingan kritis tentang konsepsi keadilan di antara tiga pandang besar dalam mazhab ideology, yaitu kapitalisme, komunisme, dan Islam.

Prinsip-prinsip keadilan kontemporer dari dua aliran besar ini tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan nyata. Komunisme berprinsip bahwa setiap manusia harus memiliki tingkat yang sama dalam kebutuhan barang dan jasa. Permasalahannya adalah membatasi kebebasan individu.

Di sisi lain, kapitalisme-liberalisme bersikap keras terhadap kepemilikan pribadi, pasar bebas dalam kapital. Sehingga ketimpangan sosial akan tetap ada. Kapitalisme tidak mampu menjawab secara tepat problem kemiskinan yang diakibatkan oleh pasar bebas.

Sisi berikutnya, Islam menentang teori itu. Demikian pula menyoal keadilan tentang kepemilikan.

Perbedaan yang tajam dari ketiganya menjadi sangat jelas. Kapitalisme-Liberalisme pada prinsipnya meyakini bahwa tidak ada yang memiliki dunia ini. Ia pun menekankan absolutisme self-interest serta multak terhadap kepemilikan individu. Inilah watak dasar dari prinsip kapitalisme itu.

Sementara Komunisme-Egalitarianisme menekan penuh kebebasan individu untuk dibatasi serta absolutisme terhadap kolektivisme. Sedangkan Islam berdiri di atas keadilan; bahwa pada awalnya kehidupan ini milik Allah. Kepemilikan individu terbatas; kepemilikan kolektif dijamin; serta segala hal tentang sumber daya bukanlah kepemilikan eksklusif.

Perbandingan di atas merupakan perdebatan filosofis yang sangat menarik. Ia begitu argumentatif diutarakan oleh penulis buku ini.

Islam adalah ajaran yang meyakini bahwa sumber daya alam ini diperuntukkan untuk semua mahluk. Kepentingan pribadi diatur oleh Islam, sehingga tidak merugikan kepentingan sosial. Demikian pula kepentingan social, selalu menekankan untuk kaum mustadafin.

Dalam perdebatan ekonomi politik, selain persoalan produksi, distribusi, dan regulasinya, persoalan konsumsi juga disoroti dalam buku ini. Bahwa konsumsi dalam pandangan Islam tidak murni hanya bersifat materialistis yang hanya untuk memuaskan keinginan tanpa batas, dan manusia bebas mengonsumsi apa saja. Tetapi, Islam mengajarkan kita bahwa konsumsi itu menyoal lahir dan batin, menyoal kesehatan dan spriritualitas.

Ia mengenal batas serta menekankan pada solidaritas sosial dan lingkungan di dalam segala hal penerapannya. Islam tidak mengajarkan untuk berfoya-foya sesuka ria, sementara saudara-saudara atau tetangganya hidup dalam kesengsaraan.

Islam tidak mengajarkan kita untuk makan enak dengan sendiri-sendiri di saat yang sama tetangga kita sedang kelaparan. Persoalan komsumsi di dalam islam begitu erat dengan persoalan ukhuwah, solidaritas, dan lingkungan.

Ketidakadilan ekonomi yang menciptakan kemiskinan massal di muka bumi. Hal itu bertumpu besar pada ketidakadilan regulasi di ranah distribusi. Di titik inilah regulasi itu berpihak dan dikendalikan penuh oleh kelas dominan tertentu.

Ya, dikendalikan oleh segelintir orang yang rakus, cinta yang berlebihan pada duniawi. Ketamakannya diperhamba oleh tipu daya perbendaan dunia. Ketidakadilan distributive-lah yang menjadi faktor utama terjadinya ketimpangan konsumsi di dalam kehidupan manusia.

Banyak hal yang diajarkan oleh Islam dalam mengatasi persolan itu. Salah satu yang paling mendasar adalah konsepsi Islam terhadap keberpihakannya kepada kaum mustadafin (orang-orang miskin). Bahwa menjadi seorang muslim adalah menjalankan misi sosial, membantu saudara-sauranya yang berada dalam kesusahan, tidak menciptakan hal-hal yang merugikan sesama umat manusia. Persoalan sedekah, zakat, baitul mal, merupakan perwujudan Islam dalam menangani problem ini.

Perdebatan yang hangat dalam buku ini juga adalah tentang peran sebuah negara kepada pasar sebagai titik pengumulan ekonomi-sosial.

Kapitalisme-Liberalisme berpandangan bahwa demi terwujudnya produktivitas kemajuan dalam kehidupan ekonomi sosial, maka intervensi negara terhadap pasar mutlak harus diminimalisasi sebisa mungkin. Tidak boleh ada intervensi dari negara. Sehingga, setiap individu yang mampu bersaing, bertahan. Pasar punya kekuatan dan kesempatan sebesar-besarnya dalam mengembangkan ekonominya. Dengan sendirinya, perekonomian akan berkembang di bawah mekanisme pasar bebas.

Hal ini berbanding terbalik dari pandangan Komunisme-Egalitarian. Bahwa justru peran Negara sangat dibutuhkan di sini. Negara harus mengambil alih pasar. Semua alat produksi mutlak disetir Negara. Agar tiada lagi individu yang memiliki alat produksi. Agar sebuah kesejahteraan dan kesetaraan ekonomi sosial tercapai dalam pengawasan/intervensi negara.

Tetapi, Sslam berpandangan berbeda. Negara memang mutlak mengintervensi negara. Ini adalah keniscayaan agar perekonomian umat terkontrol, sehingga tidak mengakibatkan kezaliman massal dan ketimpangan perekonomian umat manusia.

Meski demikian, di saat yang sama, Islam tidak melarang kepemilikan pribadi dalam mengelola pasar. Hanya saja, prinsip kepemilikan dan pengelolaan berkeadilan yang menjadi sorotan. Bahwa kita boleh saja memiliki alat produksi dan mengembangkannya. Dengan catatan, pengelolaan dan pengembangan itu harus sesuia dengan prinsip keadilan dan kemanusiaan di dalamnya. Sehingga kebutuhan invidu dan kepentingan sosial berada pada poros keseimbangan.

Bagi saya, paradigma ini (Islam) perlu menjadi pertimbangan dalam menjawab ketimpangan ekonomi sosial yang terjadi hari ini. Agar kaum kaya tahu diri dalam mengembangkan sektor perekonomiannya secara berkeadilan dan berkemanusiaan.

Alhasil, sampai kapan pun, Islam tetap anti terhadap sistem ideologi Kapitalisme-Liberalisme. Islam juga menolak ideologi Komunisme-Egalitarian yang mengenyampingkan individu secara radikal.

___________________

Judul: Islam Melawan Kapitalisme
Penulis: Zakiyuddin Baidhawy
Penerbit: Resist Book, 2007
Tebal: 262 hlm.

___________________

Artikel Terkait:
Nasaruddin Ali
Nasaruddin Ali 9 Articles
Mahasiswa Filsafat UIN Yogyakarta | Wakil Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta | Komisaris GMNI UIN Periode 2017-2018