Pernikahan: Menyingkap Pilihan Bebas dan Revolusioner

Pernikahan: Menyingkap Pilihan Bebas dan Revolusioner ealam Pandangan Frederich Nietzsche
©Hitched

Sejak manusia menyibukkan diri dengan konsep, pertanyan-pertanyaan tentang manusia (keberadaannya) akan ditonjolkan, seperti pertanyaan tentang hakikat manusia, asal-usul manusia dan tentang nasib manusia serta tentang ketentuan hidupnya. Pertanyan ini akan memudahkan setiap individu membuka cakrawala berpikir agar dengan segera menyingkap segala realitas yang mungkin masih keliru.

Realitas yang masih keliru lebih mengarah pada penilaian rasional. Segala realitas yang telah ditelisik oleh rasional mengindikasikan bahwa realitas itu masih dipertimbangkan nilai kebenarannya dan keabsahannya.

Begitu banyak realitas yang sudah dan sedang kita geluti yang mungkin harus dibenahi kembali, agar nilai dasarnya bisa ditemukan. Salah satu realitas yang yang perlu disingkapi adalah konsep pernikahan yang dianut oleh bangsa Indonesia.

Pandangan yang dianut oleh masyarakat umum, terutama di Indonesia, sering kali menganggap pernikahan sebagai sebuah keharusan atau kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu. Pandangan ini lebih didasarkan pada asumsi sosial dan budaya yang telah terbentuk dalam masyarakat daripada pemahaman yang mendalam tentang esensi pernikahan sebagai pilihan individu.

Latar belakang lahirnya tulisan ini adalah penulis melihat bahwa masyarakat Indonesia melihat pernikahan merupakan suatu keharusan. Dan adalah suatu keanehan dan kejanggalan apabila seseorang ditemukan dirinya tidak menikah. Saya menilai bahwa pernikahan merupakan sebuah konsep semata yang bukannya mengandung nilai keharusan tetapi pilihan.

Penulis menolak konsep keharusan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pernikahan karena penulis lebih menekankan pentingnya individu dalam menentukan jalan hidupnya sendiri dan menolak ikatan-ikatan sosial yang membatasi kebebasan dan kreativitas manusia. Sebab pernikahan bukanlah sebuah keharusan, melainkan pilihan yang harus didasarkan pada kehendak dan nilai-nilai pribadi dan bukannya kolektif.

Dalam kenyataan selama ini bahwa masyarakat cenderung terpaku pada norma-norma dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya tanpa mempertanyakan atau memverifikasinya lebih lanjut. Hal ini menyebabkan kurangnya kreativitas dari seorang individu untuk mengekspresikan dirinya ke dalam wilayah yang lebih luas, yang bertujuaan untuk berkosentrasi pada perkara bersama ketimbang hanya berkutat pada urusan pribadinya.

Pandangan bahwa pernikahan adalah keharusan adalah salah satu contoh dari pemikiran yang diadopsi tanpa pemikiran kritis yang mendalam. Manusia seharusnya berusaha untuk menemukan makna yang mendalam dalam setiap konsep, termasuk pernikahan. Keputusan untuk menikah harus didasarkan pada kesadaran yang bertanggung jawab dan pertimbangan rasional.

Baca juga:

Menerima sesuatu tanpa pertanyaan lebih lanjut hanya akan menghasilkan kehidupan yang dangkal dan tanpa makna. Pemikiran kolektif dalam masyarakat, seperti pandangan bahwa semua orang harus menikah, harus ditinjau secara kritis untuk menemukan kebenaran sejati.

Keputusan hidup haruslah didasarkan pada pertimbangan rasional dan kesadaran individu, bukan hanya mengikuti motif yang telah dirancang oleh orang lain serta mengembangkan kesadaran diri dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Hal ini berarti bahwa individu harus mengambil keputusan mereka sendiri dan tidak hanya mengikuti arus atau norma sosial yang ada.

Dalam konteks pernikahan, mengingatkan kita bahwa keputusan untuk menikah seharusnya didasarkan pada pilihan individu yang berdasarkan pada pemikiran kritis dan kesadaran diri. Pernikahan bukanlah sebuah keharusan yang harus dijalani oleh setiap orang, tetapi merupakan pilihan yang harus dipertimbangkan dengan matang.

Kehidupan yang bermakna tidak dapat dicapai dengan hanya mengikuti konsep dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh masyarakat atau budaya. Setiap individu harus berani menantang konvensi dan menggali nilai-nilai yang sesuai dengan dirinya sendiri. Pernikahan juga harus dipandang sebagai sebuah institusi yang dapat memberikan nilai tambahan dalam kehidupan seseorang, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah lumrah.

Nietzsche menekankan pentingnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan refleksi diri. Individu harus mampu mempertanyakan dan memverifikasi setiap konsep atau nilai yang diterima.

Dalam konteks pernikahan, hal ini berarti seseorang harus bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia ingin menikah, apa yang ia harapkan, dan bagaimana hal tersebut dapat memperkaya hidupnya.

Nietzsche menyoroti bahaya dari mengikuti tanpa mempertanyakan. Jika seseorang menikah hanya karena tekanan sosial atau karena merasa bahwa itu adalah hal yang diharapkan, ia mungkin akan mengalami kekecewaan dan merasa terjebak dalam kehidupan yang tidak memenuhi kebutuhan dan nilai-nilainya yang sebenarnya.

Pilihan untuk menikah haruslah didasarkan pada keinginan yang autentik dan kesadaran diri yang mendalam. Konsep pernikahan harus menekankan pentingnya kebebasan individu.

Halaman selanjutnya >>>
Isidoras Sungardi
Latest posts by Isidoras Sungardi (see all)