Personal Branding Why Not?

Personal Branding Why Not?
©SEJ

Jagat raya saat ini telah dikuasai oleh dunia digital. Setiap aktivitas yang kita lakukan hampir tidak pernah lepas dari pantauan digital. Komunikasi dengan saudara dan handai taulan yang jauh saat ini sudah sangat dimudahkan dengan digital. Jika rindu melanda, cukup dengan angkat gawai lalu swipe untuk video call, maka rindu pun akan terobati dengan segera.

Transaksi bisnis juga makin dimanjakan saat ini. Dahulu jika ingin berbelanja kebutuhan sehari-hari, ataupun membeli sebuah barang yang diinginkan, haruslah datang ke pasar atau toko yang menjual barang atau jasa yang kita butuhkan.

Tetapi dengan kecanggihan digital saat ini, bahkan sambil rebahan sekalipun, barang yang kita ingin beli tersebut sudah bisa sampai ke rumah kita dengan selamat. Berbagai marketplace dewasa ini makin membabi buta bahkan tak dimungkiri penyebab salah satu runtuhnya kerajaan supermarket besar dan ternama juga imbas dari kecanggihan digital market tersebut.

Menjamurnya profesi-profesi baru juga dampak dari kecanggihan digital saat ini. Konten kreator, selebgram, tiktok affiliate, kreator digital, food vlogger, beauty vlogger dan lain sebagainya mencuat dan menjadi primadona di kalangan milenial saat ini. Menjadi freelancer yang sesuai dengan passion mereka misalkan di bidang fotografi, videografi, wedding ataupun event organizer juga menjadi pilihan tidak sedikit anak muda kekinian.

Hal ini dapat menjadi peluang besar bagi mereka yang lihai dalam melirik fenomena yang terjadi sekarang. Dan salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat personal branding.

Setiap profesi yang kita tekuni tidak pernah lepas dari personal branding. Karena setiap profesi memiliki tujuan untuk dapat dikenal dan memperoleh kepercayaan masyarakat demi langgengnya profesi yang kita jalankan.

Urgensi personal branding dikemukakan salah satunya oleh McNally dan Speak (2004:21) bahwa personal brand merupakan persepsi yang tertanam dan terpelihara di benak orang lain, yang memiliki tujuan akhir agar publik punya pandangan positif terhadapnya sehingga dapat berlanjut kepada kepercayaan dan loyalitas. Personal branding menjadi penting karena masyarakat sekarang sangat haus akan “citra” yang ditampilkan oleh seseorang terlebih jika profesinya erat kaitannya dengan public figure.

Karena “keputusan” mereka untuk membeli, misalkan, bisa jadi karena “tergiur” akan personal branding yang diciptakan oleh pemilik brand bisnis tertentu. Bahkan bisa dikatakan wajib hukumnya untuk menciptakan personal branding bagi dirinya ataupun bisnis yang sedang mereka geluti, karena itulah letak keunikan yang dimiliki dan bisa jadi itulah nilai komersil dari diri maupun bisnisnya sendiri.

Baca juga:

Sebagai seorang dosen, juga sangatlah penting membangun personal branding. Walaupun bukanlah selebritis ataupun artis, namun dosen bisa dianggap sebagai “public figure” bagi para mahasiswanya. Pamor sebagai pendidik juga akan selalu disematkan oleh masyarakat kepada seseorang yang mengajar di perguruan tinggi tersebut.

Maka tidaklah heran jika seorang dosen dituntut untuk senatiasa menciptakan “citra” yang baik dan positif di depan mahasiswa ataupun masyarakat. Dan salah satu cara potong kompas untuk melihat personal branding seseorang adalah lewat media sosial yang mereka miliki.

Mau tidak mau, suka ataupun tidak, sosial media sekarang pun sudah menjadi bagian dari kehidupan pribadi seseorang. Ada yang memanfaatkan sosial media hanya sebagai pelampiasan untuk melepas rasa penat setelah seharian beraktifitas, scrolling reels dan video-video random di instagram, misalnya, terasa sangat menyenangkan dan cukup untuk healing sejenak demi menjaga kewarasan kita.

Ada yang menggunakannya sebagai media promosi produk dagangannya, memperkenalkan bisnis yang sedang dijalankannya, atau hanya sekadar menitipkan momen demi momen dalam kisah perjalanan hidupnya yang tertuang dalam galeri postingan yang mereka miliki.

Namun tak jarang juga ada yang memanfaatkan sosial media untuk membranding dirinya. Seseorang yang memanfaatkan media sosial sebagai “jalan ninja” untuk memperkenalkan “eksistensi diri” ke dunia pun memiliki tantangan tersendiri. Karena dibutuhkan konsistensi terhadap setiap unggahan yang mereka lakukan agar dunia mengenalnya sebagaimana apa yang menjadi kebiasaan atas apa yang mereka tampilkan di media sosial.

Menjelmakan personal branding yang baik juga tidaklah mudah. Kita harus konsisten dengan “branding” yang selama ini kita ciptakan. Walaupun secara pribadi, saya lebih tertarik untuk membranding diri saya sesuai dengan karakter asli dan passion yang saya miliki. Namun tetap mengindahkan value positif yang ada di dalam diri kita.

Memiliki kesadaran penuh atas setiap apa yang akan kita unggah karena apa pun yang sudah kita posting di media sosial, dalam waktu satu detik saja, sudah menjadi konsumsi publik dan jejak digital akan selalu bisa diakses sampai kapanpun walaupun mungkin sudah pernah kita hapus. Dalam menciptakan personal branding di media sosial, kita pun juga harus lebih hati-hati dan bijak karena dampak yang ditimbulkan akan bisa berkepanjangan sebab efek jejak digital tersebut.

Lantas bagaimana personal branding yang baik namun tetap menyenangkan? Tampilkan pada setiap postingan sesuai dengan passion yang kalian tekuni, secara konsisten dan telaten, entah itu hobi ataupun profesi yang sedang kalian nikmati saat ini. Namun tetap menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi sosok ideal yang mungkin jauh dari karakter asli yang kalian miliki.

Dan jangan lupa tetap meng-highlight value positif yang ada dalam diri kalian. Jadi kalian tidak akan merasa lelah karena membranding sesuatu yang memang kalian senangi. Sebagaimana ungkapan ciamik dari Frank Tyger “Doing what you like is freedom and liking what you do is happiness”. Tetap melakukan personal branding tanpa harus menjadi orang lain.

Baca juga:
Firda Zulfa Fahriani
Latest posts by Firda Zulfa Fahriani (see all)