Pertarungan Marxisme dan Anarko Sindikalisme

Pertarungan Marxisme dan Anarko Sindikalisme
Getty Images

Gerakan buruh harus waspada dengan fenomena Anarko Sindikalisme yang tiba-tiba tumbuh di banyak kota di Indonesia.

Dalam sejarah perkembangan Marxisme dan gerakan buruh, musuh paling berbahaya adalah Anarkisme yang selanjutnya berkembang menjadi Anarko Sindikalisme. Selain di lapangan gerakan, musuh Karl Marx dalam debat dan pertengkaran di Internasionale 1 adalah Michael Bakunin, dedengkot Anarkisme.

Bakunin dikeluarkan dari internationale 1. Inilah awal pertarungan gerakan buruh internationale dengan Anarko.

Anarko Sindikalisme tidak cuma bicara tentang upah buruh, tetapi lebih jauh lagi, yaitu menolak negara beserta semua perangkatnya, baik itu polisi, tentara, undang-undang, dan lain sebagainnya. Kelompok ini menganggap negara sosialis juga merupakan penyakit yang harus dihancurkan. Masyarakat yang dulunya diatur oleh negara harus diganti dengan komunitas bebas.

Karl Marx menolak Anarkisme dengan tajam. Menurut Marx, tujuan dekat revolusi sosialis bukan masyarakat tanpa negara, tetapi sosialisme negara di bawah kepemimpinan proletariat.

Michael Bakunin menolak hal tersebut. Dia menyatakan, sosialisme negara adalah despotisme baru.

Marx maupun Lenin menolak terorisme Anarko. Marx menganggap Anarkisme sebagai Voluntarisme, yaitu anggapan bahwa revolusi secara hakiki tergantung pada kehendak revolusioner dan bukan dari syarat-syarat ekonomi objektif.

Kelompok Sindikalis adalah lanjutan dari pemikiran Anarkisme Bakunin yang berprinsip “aksi langsung” lewat sabotase, pemberontakan, mogok, dan lain-lain. Secara prinsip masih sama dengan anarko, yaitu menolak segala bentuk negara. Mereka ingin menyerahkan industri pada serikat-serikat buruh.

Bendera Anarko Sindikalis adalah warna hitam-merah, seperti yang terlihat waktu aksi di Bandung kemarin selain simbol huruf A.

Aly Mahmudi
Aly Mahmudi 12 Articles
Alumnus Filsafat UIN Yogyakarta