Pidato Obama dan Refleksi Politik di Indonesia

Pidato Obama dan Refleksi Politik di Indonesia
©Liputan6

Dalam salah satu pidatonya, untuk pertama kali secara terbuka, Barack Obama dengan begitu keras mengkritik Donald Trump. Ia mengatakan bahwa kehadiran Trump di dalam ruang publik politik nasional Amerika adalah pantulan dari situasi sakitnya realitas politik di negeri itu.

“Apa yang terjadi dengan Partai Republik…yang memanfaatkan ketakutan dan kemarahan?”

Kritik itu ditujukan kepada Partai Republik yang dianggapnya tidak mampu mengendalikan liarnya Trump.

Terlepas dari motif di baliknya bahwa kritik yang dilontarkan memiliki agenda untuk menaikkan dukungan publik terhadap Partai Demokrat pada pemilu mendatang. Tetapi apa yang disampaikan oleh Obama sudah selayaknya menjadi bahan refleksi Partai Republik khususnya, dan rakyat Amerika pada umumnya.

Hal itu mengingat bahwa dalam menyikapi Trump yang terkadang membuat geram banyak pihak, akibat ulah Trump, mengakibatkan Partai Republik sendiri mengalami perpecahan internal.

Obama mengatakan bahwa situasi politik nasionalnya tidak sedang berjalan baik-baik saja. Situasi itu sangat terlihat ketika ada sebagian staf Trump secara diam-diam tidak melakukan perintah atasan mereka.

Sebuah sikap pembangkangan terhadap atasan adalah tanda bahwa sirkulasi darah yang lancar yang dapat menyehatkan tubuh demokrasi sedang mengalami penyumbatan.

Bagi Obama, demokrasi di Amerika tidak seharusnya berjalan demikian. Demokrasi yang dibangun di atas fondasi perpecahan tentu saja bukanlah menjadi demokrasi yang diinginkan bersama. Justru ini akan mematikan hidupnya demokrasi.

“Trump adalah suatu gejala, dan bukan penyebab, dari sakit yang melanda politik nasional Amerika.” Demikian Obama berkata.

Bagaimana politik Indonesia dapat belajar dari situasi yang terjadi di Amerika?

Baca juga:

Kita lemparkan saja sebuah kasus. Dan kasus itu kita ambil dari kasus yang paling dekat dengan kita saat ini, di mana banyak politisi kita yang ditangkap oleh KPK terkait kasus korupsi yang masih bisa senyum sumringah dan menaikkan dua jarinya. Tanda bahwa apa yang mereka lakukan tiada penyesalan sama sekali.

Politik tanpa “etika politik”, itulah yang terjadi di Indonesia hari ini. Ditampilkan dengan “perasaan tanpa malu” para politisi kita. Rupanya begitu mewarnai denyut nadi dinamika politik di Indonesia. Yang membuat darah naik siapa saja yang masih memiliki akal sehat.

Ternyata rasa “tanpa malu” itu tidak hanya melekat pada pendatang baru para koruptor yang baru ditangkap, yang menjadi terdakwa, dan yang terpidana (membangun istana dalam penjara). Senior mereka, yang telah purna menjalani masa tahanan yang selalu dibantu oleh remisi, sama juga. Menunjukkan sikap yang meluputkan diri dari kerangka etis.

Bagaimana tidak, tanpa segan lagi mereka bahkan mengajukan diri untuk mencalonkan kembali dirinya menjadi wakil rakyat. Situasi yang bertolak belakang dengan perasaan umum masyarakat yang menginginkan bahwa negara sudah seharusnya dibangun dengan cara-cara yang bersih, transparan, dan bertanggung jawab.

Dan apa boleh buat, dengan tampilnya para politisi jenis ini di dalam ruang publik politik, telah menjadikan politik sebagai panggung memperjuangkan ide-ide mewujudkan cita-cita negara menjadi makin menjauh. Politik digiring ke jurang depolitisasi politik.

Realitas politik semacam ini bukan lagi seperti yang disampaikan oleh Barack Obama di atas tentang adanya gejala, sebatas suatu tanda-tanda dari sakitnya politik suatu bangsa. Bukan lagi akibat dari gejala itu, tetapi telah menjadi sebab dari penyakit itu sendiri.

Jika diibaratkan sebuah penyakit, para politisi semacam ini adalah sebuah kanker ganas yang menyebabkan sakitnya perpolitikan nasional di Indonesia. Telah berada pada fase puncak penyakit yang akan mematikan tubuh yang hidup.

Dan kanker ganas yang telah menjadi sebab dari penyakit di dalam tubuh ini tentu tidak dapat dibiarkan.

Baca juga:

Maka, yang perlu dilakukan untuk menyehatkan tubuh politik nasional tidak lain penyakit itu harus dibuang. Agar terbebas dari penyakit kanker yang bersarang. Jika perlu, dimatikan agar lenyap sama sekali.

Memang masyarakat tidak bisa mengharapkan seratus persen tugas suci membersihkan kanker yang dapat mematikan jalannya roda negara dibebankan sepenuhnya kepada aparatus negara. Rakyat harus berpartisipasi secara aktif dalam mengontrol jalannya negara.

Dengan bantuan teknologi, partisipasi aktif warga masyarakat dapat dilakukan.

Negara bersih dari penyakit para koruptor, bersih dari cara-cara mengatur regulasi untuk monopoli, dan bersih dari berbagai macam manuver-manuver “negara bayangan” yang dikendalikan para oligarki sudah selayaknya menjadi tugas suci setiap elemen bangsa.

Kita bisa menggunakan instrumen apa saja. Dengan membangun komunitas-komunitas diskursus di dunia nyata dan maya. Dengan segala daya tekannya, kita berharap dapat menjadi pengontrol jalannya roda negara.

Sebuah negara yang bersih mendekatkan kita pada negara yang sehat. Dan negara yang sehat sudah pasti akan mendekatkan kita kepada apa yang dicita-citakan para pejuang ketika memerdekakan republik ini menjadi terwujud.

Edi Subroto