Pimpinan yang Berpengetahuan

Pimpinan yang Berpengetahuan
©Educational Training

Latihan tanggung jawab sudah lalu. Sekarang tiba saatnya melaksanakan tanggung jawab itu dalam masyarakat, sebagai pimpinan di dalam hidup sehari-hari.

Kenangkanlah apa yang saya uraikan tadi tentang tujuan perguruan tinggi, tentang harapan bangsa pada pelajar-mahasiswa yang tamat universitas atau sekolah tinggi. Kepadanya kita harapkan bahwa ia lambat laun akan menjadi pemimpin di dalam masyarakat yang butuh akan pimpinan yang berpengetahuan.

Ya, pimpinan yang berpengetahuanlah yang terasa benar kurangnya dalam negara dan masyarakat kita sekarang ini. Pemimpin selalu ada. Itu sudah pembawaan dari pergaulan hidup.

Manusia senantiasa hidup berkampung-kampung. Berbagai jenis usaha dalam perjuangan hidup dan untuk mencapai penghidupan yang lebih sempurna kita kerjakan bersama-sama. Hidup yang berkampung-kampung itu terbagi dalam berbagai macam golongan besar dan kecil, berusaha dalam pembagian pekerjaan, semuanya itu perlu akan pimpinan.

Jika tak ada pujangga yang berjiwa pemimpin, pimpinan kita serahkan kepada orang-orang yang biasa saja dan bersedia. Sebab pimpinan mesti ada!

Di dalam masyarakat dan negara kita yang baru merdeka, yang terbelakang pula dan segala rupa, kurang sekali tenaga ahli untuk memimpin. Berbagai jabatan negeri dan pekerjaan masyarakat di bawah pimpinan orang-orang yang tidak pada tempatnya. Dan karena itu, banyak sekali yang macet jalannya.

Banyak tenaga dan biaya yang tercurah untuk mencapai atau menyelenggarakan sesuatunya, tetapi hasilnya jauh dari memuaskan. Adakalanya terjadi: arang habis besi binasa. Banyak pimpinan yang berlaku dengan tidak ada atau kurang sekali rasa tanggung jawab.

Keadaan sesudah revolusi nasional memudahkan pula timbulnya keadaan semacam itu. Revolusi nasional mengubah sama sekali wajah negara, dari jajahan menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Ada Umwertung, tetapi bukan Umwertung aller Werte. Revolusi kita menang dalam menegakkan negara baru, dalam menghidupkan kepribadian bangsa, tetapi revolusi kita kalah dalam melaksanakan cita-cita sosialnya.

Tanggung Jawab Politik

Memang, suasana sesudah Revolusi yang mengganti hidup terbelenggu dengan hidup merdeka memberi kesempatan kepada orang baru untuk melaksanakan pandangannya sendiri tentang “hidup merdeka”. Kemerdekaan ia pergunakan untuk menguntungkan diri dan golongan sendiri. Dalam suasana semacam itu, cita-cita kalah dengan hawa nafsu.

Seperti saya terangkan di dalam pidato saya dahulu di Yogyakarta, Lampau dan Datang: pejuang idealis tertunda ke belakang, manusia profitir tampil ke muka dalam segala lapangan. Dalam alam merdeka dan negara yang demokratis, orang merasa dapat berbuat sesuka-sukanya. Risiko terasa tiada.

Dahulu, di masa pemerintahan kolonial, orang berpikir panjang sebelum memasuki gelanggang politik. Di alam merdeka sekarang, kini langkah itu mudah sekali. Dan alam demokrasi kita memberi keluasan pula kepada pendapat bahwa politik dapat segala orang yang berkepentingan kerjakan dengan tiada pengetahuan yang cukup.

Berpolitik tidak lagi berarti melaksanakan tanggung jawab tentang kebaikan masyarakat. Berpolitik ia pandang sebagai jalan untuk mencari keuntungan dan membagi-bagikan rezeki dan jabatan kepada golongan dan kawan-kawan sendiri.

Tabiat ini menimbulkan di dalam masyarakat efek yang kumulatif. Tidak saja partai yang berpengaruh dibanjiri oleh orang-orang yang tidak pada tempat di situ. Tidak saja jabatan-jabatan negara diisi dengan orang-orang yang tidak memenuhi syaratnya. Tetapi jiwa partai itu sendiri rusak karena perbedaan antara cita-citanya dan praktik yang dijalankannya.

Pembangunan ekonomi nasional tidak berlaku menurut dasar-dasar yang tertanam dalam Undang-Undang Dasar, melainkan menurut kepentingan orang-orang partikelir. Dalam teori negara, kita masih berpegang kepada cita-cita kolektivisme.

Di dalam praktik, di bawah pengaruh orang-orang partai yang berkepentingan, ia tempuh jalan ke kapitalisme kembali. Ekonomi nasional ia pandang identik dengan memindahkan perusahaan asing ke tangan orang-orang Indonesia partikelir dengan tiada mengindahkan persediaan kecakapan dan modal yang betul-betul ia perlukan untuk membangun ekonomi nasional yang sebenar-benarnya.

Karena semuanya ia pandang mudah dan semangat avonturir mengalahkan rasa tanggung jawab, timbullah anarki dalam politik dan ekonomi serta penghidupan sosial. Dengan akibatnya yang tidak dapat kita elakkan: korupsi dan demoralisasi.

Halaman selanjutnya >>>
Latest posts by Mohammad Hatta (see all)