Pohon Kristen?

Pohon Kristen?
Pohon Natal

Nalar Warga – “Kang, tolong pohon Kristen di samping pesantren itu ditebang!” pinta Kiai Bakar tiba-tiba pada seorang santri. Santri itu pun bingung dan belum mengerti. Ia melihat ke kanan-kiri pesantren.

“Iya, pohon cemara itu. Tebang segera. Itu pohon Kristen!” tukas Kiai Bakar lebih tegas.

“Pohon Kristen? Apa maksudnya? Lagian itu pohon ditanam oleh Kiai Ahmad. Beliau sendiri yang menanam tiga tahun lalu,” gumam santri dalam hati.

“Sebelum menebang cemara itu, aku harus minta izin Kiai Ahmad dulu.”

“Punten, Kiai. Kulo disuruh Kiai Bakar untuk menebang cemara yang ada di samping pesantren, Pripun?” kata santri pada Kiai Ahmad.

“Hah! Cemara ditebang? Wit-witan apik ngono arep ditebang, kenapa?” ucap Kiai Ahmad kaget.

“Nganu, Kiai, kata Kiai Bakar, pohon cemara itu pohon Kristen,” ujar si santri polos.

“Hah? Pohon Kristen ? Ada-ada saja Kiai Bakar itu, wit-witan nganggo agomo mbarang. Pohon Kristen lagi. Nggak ono iku. KTP saja dia tidak punya kok. Gak usah ditebang. Biar nanti saya yang menjelaskan ke Kiai Bakar.”

***

“Punten, Kiai, benar sampeyan nyuruh santri untuk nebang pohon cemara itu?” tanya Kiai Ahmad pada Kiai Bakar.

“Benar, Kiai.”

“Wit-witan apik ngono arep ditebang, kenapa?”

“Itu pohon Kristen,” jawab Kiai Bakar.

“Waduh, sejak kapan pohon beragama, Kiai?”

“Lha, itu yang dibuat pohon natal atau duplikatnya itu kan cemoro, Kiai.”

“Oh! Kalau begitu, pohon kelapa yang sampeyan tanam di belakang pesantren mesti ditebang juga.”

“Kok?”

“Lha, iya. Karena janur kelapa suka dipakai untuk upacara adat agama Hindu. Berarti itu pohon Hindu!”

Kiai Bakar terdiam.

“Sekalian kerudung santri-santri putri yang bentuk segitiga itu dibakar semua,” lanjut Kiai Ahmad.

“Kok?”

“Lha, iya. Karena segitiga itu simbol Yahudi.”

Kiai Bakar terdiam lagi.

“Sekalian juga pesantren ini dirubuhkan saja”, lanjut Kiai Ahmad lagi.

“Kok mbrentek tekan endi-endi,Kiai ?”, ucap Kiai Bakar kaget.

“Lha iya. Karena kuda-kuda penyangga atap bentuknya palang paték seperti salib”, jelas Kiai Ahmad.

Kembali Kiai Bakar terdiam.

“Mbok kita itu jangan membuat generalisasi suatu kasus yang tidak ada kaitannya. Yang penting itu substansinya; Cemara biso kanggo ijon-ijon ben seger ning mripat; jilbab sebagai penutup aurat; kuda-kuda bangunan bentuk salib sebagai penyangga atap gedung agar kuat. Apalagi pohon kelapa, banyak yang bisa kita manfaatkan dari pohon yang satu itu,” tutur Kiai Ahmad menasihati.

Kiai Bakar tersenyum manggut-manggut sambil mengelus-ngelus jenggotnya. Kemudian dia berhenti mengelus-ngelus jenggot dengan raut wajah kaget, karena dia ingat kalau Santa Claus juga berjenggot. Namun segera Kiai Bakar tersenyum kembali, karena dia tahu kalau jenggot juga tidak beragama.

*Antony Nuel Nuel

___________________

Artikel Terkait:

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet