Politik Adu Domba ala Belanda

Politik Adu Domba ala Belanda
©Blogspot

Cara Belanda memang sederhana tapi smart, ingin berkuasa dengan ongkos murah.

Nalar Warga – Ada yang lucu di negeri ini. Apa itu? Orang yang menciptakan jargon politik itu bukan orang creative orisinal, tapi hanya copy-paste dari buku yang dibaca waktu kuliah dulu. Jadi tidak pintar-pintar amat.

Coba kita lihat sejarah masa lalu kenapa kebencian kepada Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang tidak tampak sama sekali. Padahal bangsa tersebut pernah menjajah Indonesia.

Tapi mengapa kebencian kepada Cina, dan mereka yang berbeda agama, berbeda mazhab, selalu mendapat tempat dalam isu politik? Mengapa?

Karena memang Belanda membuat konsep memecah belah persatuan Indonesia dengan konsep SARA. Dari situlah ia menggerakkan mesin ekonomi di negara jajahannya. Dengan secara tidak langsung, ia menciptakan musuh bersama. Dan orang makin tergantung kepadanya dan loyal.

Jadi, cara Belanda itu memang sederhana tapi smart. Karena ia ingin berkuasa dengan ongkos murah. Tak perlu memikirkan biaya memakmurkan rakyat secara nyata. Cukup ciptakan isu yang bisa menimbulkan konflik dan keresahan agar orang banyak tetap lemah.

Di era demokrasi bebas seperti sekarang ini, kembali pihak penjajah (baru) melakukan cara-cara lama itu. Yaitu, menggunakan kelompok dan gerombolan dengan menciptakan beragam isu agar kesatuan dan persatuan itu tercabik. Dan yang mudah digiring adalah golongan agama.

Cara membangkitkan emosi agama menggunakan cara lama, ya copy-paste dengan yang pernah dipakai Belanda dulu. Men-judge orang yang berbeda dengan sebutan “kafir”, menciptakan musuh bersama kepada etnis Cina.

Membesar-besarkan masalah sepele menjadi isu agama agar menjadi api membakar semangat bela agama, bela ulama, bela syariah islam. Bagi umat islam yang tidak sependapat dianggap liberal, murtad, menghina islam, dan banyak lagi istilah buruk. Dan memastikan yang tidak mendukung adalah musuh.

Para penjajah baru itu bukan orang Belanda, bukan Jepang, tapi mereka adalah bangsa sendiri sebagai proxy asing. Tujuannya tentu agar dapat berkuasa dan menerapkan cara Belanda menjajah negeri ini.

Gimana caranya? Ya tidak jauh dari cara Belanda: ciptakan kemiskinan dan kebodohan. Agar orang banyak makin tidak peduli dengan kompetisi dan hidup dalam fantasi agama.

Tapi cara-cara seperti ini sudah ditebak oleh mereka yang doyan piknik. Namun kalau lengah, bukan tidak mungkin mereka bisa jadi penguasa negeri ini. Dan Indonesia akan kembali terjajah oleh bangsanya sendiri.

*SalmaBrecht

Baca juga:
    Warganet