Politik Popularitas di Bima

Politik Popularitas di Bima
©Kompasiana

Politik popularitas sepertinya menjadi bahasa yang tepat dalam memaknai dinamika Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), saat ini. Peristilahan ini lahir dari kuatnya dominasi politisi yang ikut serta meramaikan kontestasi politik menuju kursi nomor satu di Bima. 

Dari beberapa calon yang mendaftarkan diri di partai politik (penjaringan), di antaranya Indah Damayanti Putri (Bupati Bima, incumbent) yang secara tegas mendeklarasikan maju menjadi calon bupati Bima dan mendaftarkan diri di partai Gerindra. Disusul Dahlan M. Noer (Wakil Bupati Bima, incumbent) mendaftarkan diri di Partai Gerindra.

Ada kemungkinan berdua kandidat ini akan maju bersama dan berpasangan lagi di Pilkada 2020 mendatang. Hal ini bisa dilihat dari bahasa politiknya Dalhan M. Noer yang mengatakan siap maju menjadi calon Bupati Bima dan calon Wakil Bupati Bima. Maju menjadi calon orang nomor 1 di Bima siap dan menjadi orang nomor 2 juga siap. Di sini bisa kita dilihat bahwa komunikasi politik Dahlan M. Noer sepertinya sedang memainkan emosional Indah Damayanti Putri yang digadang-gadang kandidat yang terkuat di Bima.

Adapun calon lain seperti Syafruddin (mantan Bupati Bima periode 2013-2015) mendaftakan diri di partai Nasional Demokrat (Nasdem), Edy Mahyudi (anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat periode 2019-2024) mendaftakan diri di Partai Amanat Nasional (PAN), dan sederet kandidat lainya, seperti Murni Suciyanti, Herman Alfa Edison, dan lain-lain. Sambil menunggu penjaringan dan komunikasi politik, koalisi partai dan pasangan calon kemungkinan akan muncul kandidat-kandidat baru.

Fenomena Politik Popularitas

Akhir-akhir ini, dinamika politik di Bima memang banyak diwarnai politik popularitas. Sudah banyak nama-nama yang dipopulerkan di publik, baik di dunia politik eksekutif (kepala daerah) maupun legislatif. Dan, kini panggung politik di Bima didominasi warna-warni fenomena politik popularitas.

Politik jualan popularitas sangat menjanjikan karena popularitas bagian tak terpisahkan dari demokrasi, terutama demokrasi yang cenderung prosedural. Bukan pada demokrasi yang dimaknai sebagai substansi dari demokrasi itu sendiri.

Tanpa mengurangi kehadiran politik semacam itu (popularitas) di panggung politik di Bima sebagai realitas politik yang tak terhindarkan. Yang lebih penting daripada itu adalah pendidikan politik, bukan pada ambisi kekuasaan semata yang dikedepankan. Sebab, jabatan politk tidaklah dimaknai sedangkal pemahaman itu.

Jabatan politik adalah kekuasaan yang di mana kekuasaan tersebut diduduki oleh individu yang dipercayakan oleh masyarakat. Individu yang dipercayakan harus siap mendedikasikan hidupnya untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat, memperbaiki kehidupan orang banyak, dan memberikan jaminan keselamatan dan keamanan bagi masyarakatnya. Itulah amanah yang diemban bagi siapa saja (individu) yang diberikan oleh masyarakat kekuasaan kepercayaan.

Harus disadari oleh para elite-elite politik, juga partai politik, seharusnya mengingat bahwa dalam menyelesaikan persoalan yang kompleks di tengah masyarakat, baik itu berupa kemiskinan, kriminalitas, pengangguran, dan lain-lain, tidaklah cukup dengan bermodalkan popularitas.

Baca juga:

Ia membutuhkan kekuatan pemikiran dan gagasan yang visioner. Hanya dengan kekuatan pemikiran dan gagasan yang dapat mendorong suatu daerah untuk tetap mampu menemukan jalan keluar dari berbagai problem yang melilit. Tidak terkecuali daerah Bima. Sekali lagi, bukanlah popularitas. Dan harus disadari bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang digerakkan dengan gagasan-gagasan yang besar.

Bayangkan daerah Bima menjadi daerah yang maju sebagaimana daerah-daerah lain. Justru kita tidak memiliki daya saing untuk menjadi yang maju, termasuk dalam dunia politik. Hal ini karena budaya politik kita tidak dibangun berdasarkan kontestasi politik gagasan dan politik pemikiran, melainkan popularitas. Cermin budaya politik ini adalah cermin budaya politik rendahan.

Hadirnya para elite politik yang mendominasi kontestasi politik di Bima sulit dinafikan bahwa ini adalah kontestasi politik popularitas, bukan pada politik pemikiran dan politik gagasan. Politik ide dan gagasan sepertinya belum punya tempat di Bima. Karena itu, politik di Bima belum beranjak naik dari politik rendahan.

Kembali dikatakan bahwa hanya dengan kekuatan pemikiran yang mampu menggerakkan suatu daerah menjadi maju. Tanpa merendahkan kehadiran elite-elite di Pilkada Bima hari ini. Apa gagasan yang dibawa oleh mereka untuk membangun Bima lima tahun ke depan?

    Latest posts by Mahmud (see all)