Politisasi Agama

Politisasi Agama
Ilustrasi: http://liputanislam.com

Dalam penulisan opini ‘Politisasi Agama’ ini, penulis sengaja mengganti dan menyebut subjek pada setiap kalimat bahkan paragraf dengan sebutan kata “saya”. Dengan harapan representasi tersebut memudahkan pembaca hanyut dalam bacaan seakan mengalaminya sendiri.

Sejatinya sebagai pembaca memang haruslah demikian. Karena apalah arti dari sebuah bacaan jika tidak merasakan apa makna dari yang dibaca.

Baiklah akan saya mulai. Silakan dinikmati dan jangan lupa sembari diseruput kopinya bagi yang suka ngopi. Bagi yang tidak suka ngopi, ditemani segelas teh juga tidak jadi masalah. Bagi yang tidak suka keduanya, mohon untuk santai membacanya, jangan keburu emosi. Sebab tulisan ini disadari sangat kontroversial apalagi bagi yang tidak biasa dengan bacaan di luar bungkus.

Yang perlu diingat oleh pembaca bahwa tulisan ini tidaklah berangkat dari ruang yang kosong tapi diambil dari fakta berupa pengalaman dan penelitian selama di kampus dan bergaul dengan teman yang secara agama berbeda dengan penulis sebagaimana berikut:

Sebelum dilahirkan saya tidak menginginkan diri ini menjadi muslim tapi saya terlahir dari rahim ibu yang beragama islam maka agama saya juga islam.

Di sisi yang berbeda saya juga punya banyak teman yang kebetulan agamanya kristen. Saya coba tanya kepada mereka “mengapa agama anda kristen”? Jawabannya sama karena mereka terlahir dalam sebuah keluarga yang kebetulan agama ayah dan ibu saya kristen.

Pada titik ini saya berpendapat bahwa beragama bukanlah suatu pilihan tapi takdir yang telah tuhan tetapkan.

Seiring berjalannya waktu, saya tumbuh menjadi besar, saya didoktrin dan diajarkan oleh orang tua saya bahwa islam adalah satu-satunya agama yang paling benar dan yang lain salah. Oleh karenanya orang islam akan masuk surga dan orang kristen masuk neraka.

Di sisi yang berbeda teman saya yang kristen juga punya keyakinan bahwa agama kristen adalah satu-satunya agama yang paling benar dan yang lain salah. Oleh karenanya orang kristen akan masuk surga dan orang islam masuk neraka.

Pada titik ini saya bependapat bahwa masing-masing agama baik islam atau kristen punya claim kebenaran, karenaya secara psikologi mereka meyakini bahwa agama mereka yang paling benar.

Pertanyaan dan pernyataan yang muncul kemudian: pertama, jika beragama bukanlah suatu pilihan melainkan takdir dari tuhan maka adilkah jika tuhan memasukkan mereka ke neraka hanya karena agama mereka kristen padahal menjadi kristen adalah suatu ketetapan darinya?

Tentu sebagai mahluk yang berakal saya tidak sepakat sebab saya sama sekali tidak terlibat dalam menentukan agama saya.

Kedua, setelah keduanya baik islam atau kristen adu klaim bahwa agama mereka yang paling benar. Lalu agama yang mana yang betul-betul benar? Tentu pertanyaan ini juga mudah dijawab bahwa semua agama benar menurut keyakinannya masing-masing. Maka amatlah lucu jika selalu berdebat soal agama.

Pada mulanya keberagamaan nenek moyang kita memanglah demikian. Coba saja lihat kembali sejarah keberagamaan umat islam pada awal islam era Nabi Muhammad Saw. Beliau Nabi Muhammad menyadari dan memahami betul bagaimana beragama yang benar sebagaimana tergambar dalam piagam madinah yang dia buat.

Dalam perjalanan berikutnya khususnya umat sekarang saya melihat adanya banyak kepentingan dalam hidup yang sangat kompleks ini baik kepentingan politik, ekonomi bahkan agama. Dari agama yang orisinal menuju agama yang terdistorsi. Politisasi agama sedemikian rupa hingga hilang keramah-tamahannya.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Imam Jasuli (see all)