Pondok Pesantren; Kilas Balik dan Kesederhanaan

Pondok Pesantren; Kilas Balik dan Kesederhanaan
Foto: Okezone

Pondok pesantren sedari dulu memang istimewa. Hingga sekarang, pamor lembaga pendidikan ini masih berdiri kokoh di jagat nusantara. Tiap tahunnya, ribuan santri mendaftar ke berbagai pondok yang tersebar luas.

Bagian uniknya lagi, saat lembaga pendidikan lainnya kebingungan mencari model kurikulum, pondok pesantren tak sekali pun kehilangan cara untuk menjadikan santrinya sebagai insan kamil. Kita tahu, pesantren seolah-olah tak pernah lesuh dan tak akan mati untuk terus berkarya bagi peradaban manusia.

Tiap pesantren adalah baik untuk santrinya. Tidak masalah Anda mondok di mana. Selama Anda mampu memaksimalkan potensimu, bersiaplah menjadi santri yang luar biasa. Saya pikir, pondok pesantren adalah satu tempat terbaik untuk urusan didik-mendidik anak manusia.

Namun begitu, tidak ada tempat di dunia ini yang tanpa cacat. Pondok pesantren, sekali pun baik bagi santri, tetapi selama nilai-nilai luhur pesantren tinggal semboyan, maka jangan mengharap banyak pada pesantren. Artinya, pesantren yang begitu masyhur, begitu bernas dibanggakan dalam sejarah, itu karena menjalankan nilai-nilai mulia pesantren.

Apa saja nilai-nilai pesantren? Salah satunya, kesederhanaan. Besarnya nama pesantren selalu berhubungan dengan kesederhanaan.

Lalu apa maksud dari kesederhanaan itu?

Pesantren tidak memilih siapa santri yang harus diterima mondok. Semua orang boleh mondok, tanpa syarat keturunan dan darah. Itulah kesederhanaan. Pesantren mengayomi santri tanpa pilah-pilih. Tiap santri wajib dibimbing. Itulah kesederhanaan.

Tiap santri bersarung dan berkopiah yang sama panjang dan tinggi, tanpa terkecuali. Itulah kesederhanaan. Tiap santri makan-minum, tidur-bangun sama-sama berjatah sama dan adil. Itulah kesederhanaan.

Kesederhanaan di pesantren mengajarkan bahwa santri adalah makhluk Tuhan yang unik dan sama hak dan kewajibannya. Tidak ada santri istimewa karena keturunan dan kekayaannya. Santri adalah satu kepala yang harus sama-sama tunduk pada seorang kiai yang mendidiknya. Jadi, kesederhanaan adalah nilai dan sikap proporsional pada situasi yang tidak bisa lebih.

Nilai-nilai konkret kesederhanaan di atas perlu terus dirawat. Tidak boleh berganti dengan nilai-nilai yang merusak.

Oleh sebabnya, tulisan ini saya hadirkan karena kegelisahan mengenai kesederhanaan itu sendiri. Betapa saya menyayangkan bila suatu pesantren yang malah memanjakan santrinya dalam memenuhi kebutuhannya. Makan-tidur begitu nyaman. Fasilitas lengkap dan mewah. Macam mondok begitu laiknya hidup di hotel; yang tak mau santrinya sengsara karena hidup sederhana.

Dan saya percaya bahwa kealiman seseorang ditentukan oleh beratnya perjalanan mencapai tujuannya. Saya belum pernah menemui contoh seorang alim lahir dari kemewahan hidup. Orang besar dan mulia selalu sederhana dan menyakitkan dalam menjalani prosesnya.

Mungkin saja inilah sebabnya kenapa pesantren dewasa ini begitu jarang membuahkan santri yang alim dan berbudi luhur. Ya itu tadi, karena nilai kesederhanaan di pesantren mulai luntur.

Kurang lebih begitu.

Baca juga:

    Muhdar Muhrianra

    Pengajar di SMA Islam Baiturrahman
    Muhdar Muhrianra
    Share!