Populisme Politik Jokowi dan Demokrasi ala Yogyakarta

Populisme Politik Jokowi dan Demokrasi ala Yogyakarta
©Antara

Yang mendukung populisme adalah mereka yang berharap banyak pada alam demokrasi. Mereka percaya bahwa demokrasi adalah cara terbaik dari sekian banyak cara yang berpretensi pada kebaikan tertinggi.

Tampilnya Jokowi sebagai figur politik terkemuka di Indonesia cenderung merebak beragam optimisme segenap kalangan, terutama mereka yang percaya akan hari esok. Optimisme tersebut tersua bahwa nantinya akan lahir sebuah masa depan bumi pertiwi yang sudah lama kita idam-idamkan, yang itu sebelumnya hampir tak pernah mewujud, bahkan untuk sekadar sebagai harapan sekalipun.

Tak hanya desain gayanya yang merakyat yang pada kenyataannya seolah menyihir mereka yang menengoknya, tetapi lebih kepada kebijakan-kebijakan politiknya yang secara praktis mampu mengubah rasa tawar menjadi manis. Dapat terkatakan bahwa yang terakhir inilah yang mungkin bisa kita kedepankan sebagai dalih betapa Jokowi dengan gaya dan kebijakan politiknya yang khas benar-benar tampil sebagai harapan satu-satunya bagi bangsa yang memang kemalangan hidup sudah lama merundungnya.

Segenap pembaca mungkin akan bertanya-tanya: apa maksud penulis berucap manis atas diri seorang Jokowi? Mengapa penulis mencoba mengarahkan bahwa berkarakter khas ini adalah harapan yang selama ini menjadi impian rakyat Indonesia?

Tidak. Penulis sama sekali tak ingin berpretensi pada pengagungan Presiden ke-7 Republik Indonesia ini. Tak ada maksud memuliakannya, apalagi sekadar mempromosikannya tanpa sebab yang memadai. Penulis hanya mencoba memberi pengantar awal kepada segenap pembaca ke perihal tajuk yang penulis ajukan.

***

Seperti kita ketahui, tampilnya sosok Jokowi dengan kebijakannya yang khas, berbeda dari pemimpin sebelumnya, berhasil menarik “populisme” dalam nuansa perbincangan dan perdebatan. Banyak orang mendebat bahwa adakah populisme hanya menjadi sekadar sebagai kedok politik para pemimpin? Benarkah kebijakan-kebijakan populis sesungguhnya lahir dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat?

Sebelum berlanjut, adalah utama untuk membincang terlebih dahulu seputar atau perihal populisme itu sendiri. Apa itu populisme? Mengapa populisme digadang-gadang sebagai pembawa angin segar di dunia yang sudah penat kompleksitas persoalan ini? Bagaimana teori dan penerapannya dalam alam demokrasi seperti di Indonesia?

Sejumlah jawaban atas pertanyaan itulah yang akan mengisi penuh bagian tulisan ini. Dan selanjutnya, ulasan ini juga akan memperlihatkan bahwa agenda demokratisasi, sebagaimana para pemimpin populis canangkan seperti Jokowi, tampak senada dengan apa yang pernah salah seorang pemimpin Raja Mataram besut, Sri Sultan Hamenku Buwono IX.

Seperti kita ketahui, melalui percikan pemikirannya, dalam hal ini “Tahta untuk Rakyat”, HB IX mampu menjelmakan tatanan Kraton sebagai negeri yang punya kekhasan dalam model pengambilan kebijakan. Bahwa “Tahta untuk Rakyat” adalah percikan pemikiran sang Sultan hingga melahirkan demokrasi ala Yogyakarta.

Populisme sebagai Nafas Gerak Politik

Dalam aras demokrasi, populisme menjadi seperangkat alas yang tepat guna dalam mengubah atau mengangkat harkat-martabat manusia-manusianya. Input dan output demokrasi adalah rakyat (kepentingan dan kebutuhannya) di mana populisme menjadi alas yang senada dalam proses perealisasiannya.

Secara konsep, populisme menjadi seperangkat kepercayaan masyarakat akan pemimpin yang mereka nilai dapat mengakat harkat-martabat hidup mereka. Populisme menjadi semacam filsafat politik, sebuah paham yang mengakui dan menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat.

Sebagai napas dari gerak politik, populisme tidaklah menekankan popularitas (ketenaran) seseorang sehingga ia kita anggap populis. Jauh daripada itu, populisme senantiasa harus terejawantah melalui kepemimpinan yang membela kepentingan dan kebutuhan rakyat. Melalui apa? Yakni dengan seperangkat kebijakan-kebijakan yang langsung tertuju pada hal-hal mendasar dalam hidup dan penghidupan mereka (rakyat).

Populisme sama sekali tak boleh kita gunakan dalam rangka menggambarkan retorika politik individu atau partai politik. Menilainya demikian, populisme hanya akan terbawa ke konotasi yang peyoratif. Ia akan dianggap sebagai “lip service” yang hanya tertuju pada penyenangan orang banyak tanpa bukti yang jelas dan memadai.

Alhasil, pemberian harapan tak lebih sekadar pepesan kosong. Begitulah realitas yang kini menjerat arus kebudayaan kita dari dulu hingga sekarang, dan mungkin juga kelak.

Tujuan kunci di balik populisme terletak pada partisipasi politik secara aktif. Rakyat tanpa kecuali harus punya kesempatan yang sama-setara sebagai bagian riil dari masyarakat. Mereka harus berperan aktif dalam segenap pemerintahan yang hari ini melulu mengatasnamakan diri mereka dengan tendensi tanpa kelamin.

Hemat kata, keutamaan populisme adalah keutamaan rakyat. Kehendak populisme berdasar pada kehendak dan kedaulatan rakyat. Populisme jangan kita salah arahkan.

Demokrasi, Ruang Penyemaian Populisme

Secara umum, yang mendukung populisme adalah mereka yang berharap banyak pada alam demokrasi. Mereka percaya bahwa demokrasi adalah cara terbaik dari sekian banyak cara yang berpretensi pada kebaikan tertinggi. Mereka percaya bahwa demokrasi memungkinkan untuk berpartisipasi dan berperan penuh dalam upaya-upaya pemerintahan.

Halaman selanjutnya >>>