Problematika dan Tantangan Perguruan Tinggi

Problematika dan Tantangan Perguruan Tinggi
©Amonmawi

Tahun 2015 lalu, hampir di seluruh penjuru negeri, berbagai persoalan akademik di perguruan tinggi sering kali menghantui kawan-kawan mahasiswa yang mencoba bertahan dengan nalar kritisnya. Pihak kampus sempat memberhentikan Ketua BEM UNJ karena kritik.

Pers Mahasiswa (persma.org, yang terdeteksi antara lain adalah Aksara, Lentera, Media) mengalami intimidasi pembekuan lembaga, pencabutan anggaran, pelecehan, hingga penarikan penerbitan­ yang sudah susah payah menuangkan ide dan aspirasi dalam tulisan. Semua begitu mudahnya terjadi.

Ada banyak pencekalan yang terus bergulir atas tindakan yang katanya merugikan institusi perguruan tinggi tanpa pertimbangan kebenaran dan keadilan. Tembok-tembok kelas, pengaturan civitas akademik, stratifikasi dan kontrol waktu adalah bagian dari rekayasa perguruan tinggi mengekang naluri etis mahasiswa.

Proses “pembunuhan” nalar kritis mahasiswa oleh institusi perguruan tinggi patut kita waspadai.

Perguruan tinggi sebagai representasi “kebenaran” terbukti tidak dapat menerima kritik sebagai dialog antar-berbagai pemikiran, wacana, dan ide. Acapkali para mahasiswa menerima tindakan represif dan diskriminasi karena perbedaan pandangan dengan institusi perguruan tingginya. Represivitas adalah topeng yang mendefinisikan perguruan tinggi tak lagi mampu “berdialog” di tengah beragam persoalan yang mereka hadapi.

Syafi’i Ma’arif (2014) menegaskan bahwa mahasiswa adalah generasi pelurus, bukan generasi penerus. Artinya, mahasiswa bukanlah pewaris takhta kebangsaan yang telah ada, melainkan generasi dengan daya kritisnya yang siap memperbaiki dan membenahi setiap kehidupan bangsa yang bengkok dan tidak benar. Dari ilmunya, ada harapan mahasiswa mampu menuntun masyarakat menghadapi perubahan dan menyambut perkembangan zaman.

Tak Perlu Penekanan

Perguruan tinggi tak perlu melakukan penekanan terhadap mahasiswanya. Mereka tidak perlu melatih dan mendidikan para mahasiswa bagai barak pasukan yang patuh. Perguruan tinggi bukanlah sebuah mesin yang berperilaku dan bertindak mekanis dengan paket tertentu. Dalam era demokrasi, perguruan tinggi tak bisa melakukan justifikasi sendiri terhadap mahasiswanya tanpa proses peradilan terlebih dahulu.

Dalam pandangan Paulo Freire (1995), sistem ini ia sebut sebagai sistem pendidikan yang menindas. Sebuah sistem di mana seorang mahasiswa sebagai objek tanpa pengetahuan apa pun dan harus menerima apa pun yang perguruan tinggi ketahui. Pandangan bahwa kampus adalah wahana pendidikan untuk “memanusiakan manusia” perlahan memudar. Tentunya hal ini seiring dengan berbagai macam kontroversi di dalamnya.

Baca juga:

Menurut Freire, kegiatan pendidikan merupakan kegiatan memahami makna atas realitas yang kita pelajari. Pendidikan menuntut sikap kritis dari para pelaku, yaitu peserta didik (mahasiswa) dan pendidik (birokrasi kampus). Melalui pembimbingan dan pendampingan, mahasiswa wajib secara aktif memahami makna dari realitas dunia untuk perbaikan kehidupannya.

Banyak mahasiswa yang hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi, ingin segera meraih gelar sarjana, lalu sibuk bekerja mengabdi pada mesin-mesin kapitalis. Rupanya, hal ini adalah akibat dari adanya proyek-proyek kerja sama perguruan tinggi dengan berbagai macam perusahaan.

Upaya-upaya menormalisasi kehidupan kampus pun terlihat agar sesuai dengan karakter produk yang akan mereka hasilkan: pekerja yang patuh dan terampil. Akibatnya, pendidikan hanya menghasilkan manusia yang skolastik. Pandai secara intelektual, namun kurang memiliki karakter utuh sebagai pribadi.

Bila kondisi ini berlanjut, kritik adalah hal yang haram. Mahasiswa akan memosisikan dirinya hanya berkewajiban belajar serta dipersiapkan menjadi buruh-buruh baru.

Dinamika Intelektualitas dan Pergerakan

Arena kampus adalah lingkungan kehidupan yang penuh dengan dinamika intelektualitas dan pergerakan. Tempat dan masa transisi psikologis, intelektual, dan sosial. Berbagai pengetahuan dan wacana yang ada dalam kampus menjadi dasar intelektualitas dalam prosesnya.

Secara psikologis, para mahasiswa mengalami perubahan jiwa remaja yang belum sepenuhnya mandiri kepada jiwa dewasa yang mandiri. Di bidang intelektual, mereka berubah dari model pembelajaran sekolah menengah yang instruktif, berpusat pada guru di sekolah (pedagogi), menjadi model pembelajaran yang mempresentasikan pembelajaran self-directed. Lebih bertumpu pada kemampuan diri sendiri (andragogi) untuk mengolah informasi dan mengevaluasinya.

Perguruan tinggi sewajarnya terus berbenah dan mengevaluasi bahwa pergerakan adalah bentuk praktis sebagai wujud aplikasi dari teori-teori dalam di kelas. Artinya, dinamika kreativitas para mahasiswanya ini sebagai wujud mencari sebuah kebenaran dari pengetahuan yang mereka dapat dan bentuk pembuktian ilmiah dari sebuah pembelajaran di ruang kuliah.

Pergerakan ini adalah wilayah strategis pengembangan mahasiswa untuk tampil dalam perwujudan daya nalar kritis analitis menuangkan gagasan dalam kegiatan kemahsiswaan yang realistis dan berkualitas.

Halaman selanjutnya >>>
    Moh Ariyanto Ridwan
    Latest posts by Moh Ariyanto Ridwan (see all)