Produksi dan Konsumsi Sastra Pop: Religious Lit dan Cyber Lit

Produksi dan Konsumsi Sastra Pop: Religious Lit dan Cyber Lit
©Unplash

Sastra populer merupakan salah satu genre sastra yang paling digandrungi pembaca. Menurut KBBI, sastra pop dipandang sebagai karya sastra yang dianggap populer dan baru dikenal setelah zaman post-modernism.

Kemunculan kebudayaan populer dikaitkan dengan Revolusi Industri di Eropa. Dengan dilatarbelakangi oleh trauma anarki akibat Revolusi Prancis ketika masa menjadi begitu dominan, kebudayaan populer muncul sebagai alternatif lain dari bentuk reproduksi massal (Mahayana, 2005: 320).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sastra populer juga merupakan sastra masa. Sastra populer tidak menampilkan permasalahan kehidupan secara intens. Sebab jika demikian, sastra populer akan menjadi berat dan berubah menjadi sastra serius (Nurgiantoro, 1998: 18).

Sebutan sastra populer mulai merebak setelah tahun 70-an. Sering pula sastra yang terbit setelah itu dan mempunyai fungsi hiburan belaka, walaupun bermutu kurang baik, tetap dinamakan sebagai sastra populer atau sastra pop (Kayam, 1981: 82).

Sebagai salah satu produk yang dilahirkan dari ‘rahim’ budaya populer, sastra populer mendulang perhatian dari banyak orang. Ketertarikan publik terhadap kehadiran sastra populer dapat ditengarai dari dua sudut pandang, yakni internal dan eksternal.

Dalam terminologi internal, dapat diungkapkan bahwa sastra populer mengusung tema-tema yang lekat dengan kehidupan publik sehingga tidak heran kalau banyak yang meminati sastra pop. Kemudian jika ditelisik dari terminologi eksternal, dapat dikatakan bahwa pembaca tidak perlu memeras otak untuk memahami karya sastra populer.

Pembaca zaman milenial tampaknya enggan untuk bekerja keras hanya untuk menafsirkan sebuah karya sastra sehingga dapat dipahami. Formulasi cerita yang disuguhkan oleh sastra populer pada umumnya seragam sehingga pembaca sudah bisa menebak kira-kira apa yang ingin diungkapkan.

Sastra populer di Indonesia mulai dikenal pada masa pemerintahan Hindia-Belanda abad 19. Pada zaman itu, sastra jenis itu bertemakan cerita-cerita tentang kehidupan para nyai, cerita-cerita gaib, dan cerita percintaan yang tidak jarang dibumbui seks. Jenis bacaan tersebut ditulis, baik oleh orang Cina-Melayu maupun pribumi.

Baca juga:

Karya pertama yang mengawali bangkitnya sastra populer di masa ini salah satunya berjudul “Sobat Anak Anak” karya Liem Kim Hok. Bacaan ini dianggap hanya menampilkan cerita yang ringan dengan tujuan untuk menghibur (medium.com).

Tujuan tersebut menempatkan sastra populer sebagai karya sastra yang tak mendidik karena hanya menghibur. Tak heran kalau sastra populer kemudian dianggap tidak pantas dan layak untuk diteliti apalagi diajarkan di sekolah.

Namun seiring berkembangnya zaman, sastra populer mulai banyak ditemui, meskipun pada masa kolonial Jepang perkembangannya surut akibat adanya pergolakan politik. Setelah kemerdekaan, barulah sastra populer mulai dikenal luas sampai pada tahun 1990-an dan 2000-an, di saat karya-karya baru bergenre populer bermunculan dan mendapat sambutan yang cukup hangat dan masyarakat.

Tema-tema yang diusung dalam sastra pop itu kemudian beranjak ke soal percintaan, asmara dan seks dengan masalah yang cenderung dibuat-dibuat. Tentunya tema-tema itu dibalut dengan bahasa yang renyah dan sederhana sehingga mudah untuk dipahami oleh publik.

Karakter yang melekat pada karya sastra populer umumnya tidak terlalu serius seperti pada ‘Siti Nurbaya’, ‘Pada Sebuah Kapal’, dan yang lainnya.

Ada beberapa karya sastra bergenre populer. Pertama, teenlit merupakan salah satu jenis sastra populer yang diperuntukan bagi remaja dengan tema yang berkisar seputar cinta dan persahabatan. Salah satu contoh teenlit  adalah ‘Cintaku di Kampus Biru’.

Kedua, chicklit merupakan salah satu karya sastra yang menampilkan cerita mengenai wanita lajang yang sedang mencari cinta dan juga pekerjaannya. Meskipun chicklit dan teenlit sama-sama mengulas kehidupan perempuan, namun sesungguhnya kedua genre sastra populer itu memiliki perbedaan yang tampak jelas.

Chicklit, bila dilihat dari asal katanya, merupakan subgenre yang mengisahkan perempuan dewasa. ‘Chick’ berarti sosok wanita muda protagonis yang mandiri, umumnya masih lajang, gaya hidup kosmopolit, mengalami pelbagai problematik percintaan, sedang mendambakan “The One” atau “Mr. Right” alias kekasih pujaan (Anggoro, 2004: 85).

Halaman selanjutnya >>>
Jetho Lawet