Publik Indonesia Dukung Penyelesaian Konflik Israel-Palestina

Publik Indonesia Dukung Penyelesaian Konflik Israel-Palestina
©SMRC TV

Diskusi hasil penelitian terbaru SMRC mengenai tanggapan publik Indonesia terhadap konflik Israel-Palestina menarik. Selain hasil survei, diskusi ini juga menghadirkan para narasumber yang sangat kompeten. Kesimpulan utamanya adalah bahwa publik Indonesia memberi dukungan pada penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Pakar hubungan internasional, Dinna Prapto Raharja, mengajak Indonesia memperbarui strategi diplomasi yang lebih punya dampak pada penyelesaian konflik dan memiliki pengaruh positif ke Indonesia.

Selama ini, Indonesia kalah bersaing bahkan tidak mendapat manfaat dari produk-produk Israel, terutama teknologi, dengan negara-negara tetangga yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Israel dikenal sangat maju dalam bidang teknologi pertanian.

Luthfi Assyaukanie mempertanyakan pilihan Indonesia untuk mengisolasi diri dari hubungan dengan Israel. Dari 50 negara berpenduduk mayoritas Islam, 16 di antaranya sudah membangun hubungan diplomatik dengan Israel. Bahkan Mesir, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia, pun sudah sejak lama memiliki hubungan diplomatik.

85 persen negara di dunia juga sudah menjalin hubungan. Satu-satunya negara di luar negara berpenduduk mayoritas Islam yang menutup diri dari Israel adalah Korea Utara.

Lebih jauh, Assyaukanie melihat dinamika politik Palestina menggeser konflik yang sebelumnya persoalan tanah menjadi persoalan agama. Pada mulanya para pejuang Palestina berasal dari kalangan moderat, sekuler, bahkan banyak tokohnya datang dari kalangan Kristen.

Naiknya popularitas Hamas menjadikan isu konflik ini menjadi lebih kental bernuansa agama. Hal ini memengaruhi cara pandang umat Islam di luar Palestina, termasuk di Indonesia. Dalam survei SMRC ini, ada 65 persen publik Indonesia yang menganggap konflik ini sebagai pertentangan antara orang Yahudi dan Islam.

Sejalan dengan Assyaukanie, Akhmad Sahal menemukan gejala yang sama, yakni religionisasi konflik di kalangan Yahudi Israel. Gerakan Zionisme, menurut Sahal, pada mulanya adalah gerakan sekuler biasa yang tujuan utamanya menormalisasi kehidupan orang-orang yang berdiaspora sejak 2000 tahun lalu.

Namun demikian, kata kandidat Ph.D dari Universitas Pennsylvania itu, di dalam masyarakat Yahudi, suara mengenai gerakan Zionisme tidak tunggal. Setidaknya ada tidak kelompok Yahudi yang keberatan dengan ide tersebut, yakni kalangan Yahudi kiri, Yahudi ortodoks, dan Yahudi progressif.

Pendeta Martin L Sinaga memiliki kesimpulan yang cukup berbeda. Jika di kalangan Islam dan Yahudi (Palestina dan Israel) terjadi religionisasi konflik, di kalangan Kristen justru makin berkembang pandangan yang lebih sekuler mengenai konflik tersebut. Dia mengusulkan agar kelompok-kelompok sekuler, humanis, pasca-zionis dari pelbagai komunitas agama bisa lebih sering terhubung untuk menawarkan solusi damai bagi kedua entitas bersengketa tersebut.

Solusi dua negara di mana masing-masing pihak tidak saling menegasi perlu terus diajukan dan didukung. Dalam hasil survei SMRC yang dipresentasikan oleh Ade Armando tersebut, dukungan publik agar Indonesia membantu mencari jalan tengah untuk kedamaian Israel-Palestina mencapai 42 persen. Ini modal penting bagi pemerintah untuk bergerak.

Kiranya solusi dari Dewan Gereja Sedunia, seperti yang dikutip Pendeta Martin, perlu direnungkan. Mengakui adanya negara Israel agar dijauhkan dari ketakutan. Juga mengakui adanya negara Palestina untuk dijauhkan dari penindasan.

Saidiman Ahmad