Puisi, Politik, Sihir, dan Kita?

Puisi, Politik, Sihir, dan Kita?
©Freepik

Manusia memiliki perbendaharaan kata bahasa verbal yang tidak terbatas. Dengan bahasa, manusia senantiasa beralih dari tidak fasih menjadi fasih, dari yang biasa menjadi estetik, dari yang tadi hanya celotehan mampu menjadi kreasi.

Dalam dunia psikologi, teknik framing dalam bercakap menjadi hal yang baik untuk dipadankan dalam keseharian. Sederhananya, teknik ini mengarah kepada “bukan apa yang engkau katakan, melainkan bagaimana engkau mengatakannya”. Bahasa diucapkan kemudian orang lain memahami, dengan ini kita saling terhubung satu sama lain.

Manusia ada berarti ia berpikir dan berbicara, menunjuk dan menyimpulkan. Sebagaimana berpikir dan merenung, mengungkap dan membuktikan.

Meski begitu, otak yang didesain dengan hebat. Faktanya, manusia adalah makhluk yang lemah akan akal dan hawa nafsu. Mereka tidak pernah selalu berada di titik yang paling benar. Banyak orang yang baik dan banyak orang yang benar, tetapi puncak kebaikan adalah cinta.

Apakah cinta adalah puisi dengan diksi syahdunya atau politik yang naik turun elektabilitasnya? Apakah cinta adalah sihir dengan mantra-mantra ataukah mungkin ia adalah kita?

Manusia terdiri dari dua partikel, yakni kemanusiaan dan hewani. Jauh di dalam hati ini, banyak sekali sifat tamak, culas, iri, dendam, dengki, dan sebaik-baiknya yang tersimpan adalah cinta. Cinta itu sendiri adalah keberkahan aktivitas kebaikan yang dirutinkan, sementara bahasa adalah perpindahan makna-makna.

Pemikiraan Abraham Maslow yang merupakan teoritikus yang banyak memberikan inspirasi dalam teori kepribadian menyebut lima tingkatan hierarki kebutuhan manusia dalam bentuk piramida kebutuhan.

Pertama, kebutuhan fisik yang bersifat bilogis seperti makanan, oksigen, air, dan sebagainya.

Baca juga:

Kedua, kebutuhan akan rasa aman. Bisa berupa kebutuhan akan kebebasan akan rasa takut, kekacauan dan kebutuhan perlindungan diri. Kebutuhan ini memiliki tujuan agar manusia menjadi lebih baik dan berbudi luhur.

Ketiga, kebutuhan akan kepemilikan dan cinta. Kebutuhan ini lebih mengarah pada bahwa dalam hidup manusia selalu membutuhkan sesamanya.

Keempat, kebutuhan untuk dihargai. Maslow menggambarkan kebutuhan ini menjadi dua bagian: cenderung mengarah pada harga diri, lalu merujuk pada sebuah penghargaan dari orang lain. Keinginan memiliki prestise atau reputasi tinggi, bernilai, dan lain-lain.

Kelima, kebutuhan aktualisasi diri. Ketubuhan ini meliputi perubahan sudut pandang serta motivasi, dan harapan untuk tumbuh, berkembang, dan utuh.

Kembali kepada sifat alamiah manusia yang lemah, kerap kali diperbudak hawa nafsu dan tidak pernah merasa puas terhadap kebutuhan dasarnya maka terbitlah suatu tindakan yang halus, lembut dan samar melalui perantara mantra sihir. Sihir itu sendiri diartikan sebagai ilmu atau tata cara pemakaian bantuan kekuatan ghaib.

Meskipun sebenarnya kita sudah berada di zaman peradaban yang cukup maju, sayangnya hal mistik ini masih subur dipercaya dan dilakukan sebagian orang guna mewujudkan impiannya. Sihir tersebar meluas di kota-kota kecil. Banyak sebab, di antaranya adalah keinginan harta yang melimpah, kekuasaan, rasa percaya diri, termasuk juga jampi-jampi memalingkan hati.

Sihir ini bertujuan untuk mengubah wujud yang satu menjadi wujud lain yang diinginkan dengan meminta bantuan setan. Medianya adalah mantra yang dibaca, ditulis atau diamalkan pada angin yang berembus untuk memengaruhi tubuh, akal, dan hati seseorang yang akan disihir untuk menjadikannya sakit, menanamkan rasa ingin selalu marah atau untuk menimbulkan rasa saling cinta di antara dua orang dan sebagainya.

Nusantara dalam konteks kesukubangsaan dapat kita maknai sebagai wilayah budaya, wilayah etnik atau bahkan bisa dimaknai sebagai wilayah politik. Nusantara memiliki warisan intelektual dalam bentuk sastra yang merefleksikan leluhur kita adalah seorang yang cerdas, romantis, dan hebat. Mereka banyak berpikir untuk mencipta sajak yang sampai sekarang dapat kita nikmati dengan indah bait-bait puisinya.

Baca juga:

Puisi adalah jalan sunyi dari kisah yang senyap. Di sana menyelinap doa, harapan, kata-kata mutiara, petatah-petitih, bujuk rayu, dan sebagainya. Kata-kata bijak dari masa lalu mengatakan, “Jika politik bengkok, puisi yang akan meluruskannya.” Barangkali kita punya kesadaran untuk bergerak, menyatukan kekuatan moral, merajut asa dengan gembira dan melawan korupsi dengan puisi.

Puisi adalah sahabat yang paling jujur. Ia menerima curahan hati, luapan emosi, suara-suara yang menyentuh kalbu dengan tabah. Puisi mengajarkan kepada kita untuk memercayai keajaban Tuhan lewat afirmasi positif diri dari kata-kata paling ikhlas yang dipuisikan sanubari.

Puisi juga mengajarkan bahwa untuk marah manusia tidak perlu memakai bahasa kasar yang menyebut isi kebun binatang atau benda-benda kotor yang ada dalam toilet. Dalam puisi, keadaan marah bisa diucapkan merdu “pagar makan tanaman atau lintah darat”.

Dengan puisi sebenarnya menuntun manusia tidak butuh meluapkan emosi dengan berapi atau tidak butuh sihir-sihir untuk mewujudkan mimpi karena sejatinya ini hanya akan membawa pada jalan kesesatan yang nyata.

Adapun pemikiran Al-Ahazali, seorang ulama dan intelektual yang banyak melahirkan karya dalam bidang filsafat, fikih, akhlak, tasawuf, dan sebagainya, mengungkapkan bahwa agama adalah sumber dari ketenteraman jiwa manusia. Semoga hati kita selalu teguh berada di jalan yang benar.

Andi Dhea Firdayana
Latest posts by Andi Dhea Firdayana (see all)