Puisi Sukmawati Perspektif Semanalisis Julia Kristeva

Puisi Sukmawati Perspektif Semanalisis Julia Kristeva
Sukmawati Soekarnoputri (Foto: Reuters)

Memahami puisi, termasuk puisi Sukmawati, tidak bisa dengan kata-kata kasar dan perilaku banalitas semata. Indonesia, selain dibangun atas gotong royong, sangat kental juga dengan nuansa sastranya.

Kita bisa cek kembali teks proklamasi dan teks Pancasila. Di situ, penuh dengan sastra. Lihatlah negeri ini sudah melahirkan sastrawan-sastrawan handal dan go international seperti WS Rendra, Taufik Ismail, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, dan masih banyak yang lainnya.

Dari kalangan sastrawan muda yang saya kenal, ada Hanif Irwansyah, Mushaf Dimyati, dan Sumir Elkaelan. Jadi, kita harus bangga dan perlu kita kembangkan nuansa keilmuan di bidang sastra ini agar kita tidak mudah terjebak oleh kata-kata.

Baiknya kita pahami terlebih dahulu apa pengertian dari puisi itu. Menurut Putu Arya Tirta Wijaya, salah satu sastrawan, mengatakan bahwa puisi aalah suatu ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada suatu makna. Jadi, puisi merupakan salah satu seni sastra yang mengungkapkan sebuah perasaan dan pemikiran oleh si penyair.

Kemarin kita digegerkan dengan puisinya Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap dan dinyatakan mengerdilkan bahkan merobek agama yang judul puisinya Ibu Indonesia. Puisi tersebut viral waktu dibacakan dalam acara pagelaran Indonesia Fashion Week 2018 di JCC Jakarta.

Berikut isi puisi Sukmawati: Ibu Indonesia

Puisi dari Sukmawati tentu bukan puisi yang lahir berdasarkan asumsi belaka, tetapi kandungan bahasanya penuh makna yang sangat dalam. Seakan-akan puisi tersebut lahir berdasarkan pengalaman hidupnya.

Untuk memahami puisi di atas, kita gunakan semanalisis-nya Julia Kristeva. Bahwa bahasa atau kata bisa bermakna banyak sesuai konteksnya masing-masing. Satu bahasa tidak harus dianalisis dengan linguistik-linguistik yang umum. Jangan dimaknai secara otoriter

Dari semanalisis, lahirlah istilah genoteks dan fenoteks. Genoteks itu adalah teks aslinya atau teks sumbernya. Jadi, puisi Sukmawati itu adalah genoteks, sedangkan fenoteks itu teks aktualnya, buah pikiran kita.

Seliteral-literal kita memaknai puisinya Sukmawati, tetap levelnya fenoteks. Jadi, tidak usah merasa paling diridai Allah, karena kita statusnya fenoteks, sama-sama dihasilkan dari pikiran (wacana).

Tafsiran kita terhadap puisinya Sukmawati itu tidak mungkin sama dengan apa yang dimaksud Sukmawati. Contoh sederhananya adalah arti kata jannah itu kebun. Ketika kita memaknai kebun seperti yang ada di kepala kita, tentu tidak menarik, karena yang kita tahu kebun itu tempat yang banyak nyamuknya.

Kalau di kampung, kebun itu kadang digunakan untuk buang air besar. Masa kita capek-capek beribadah terus? Tuhan menempatkan kita di kebun itu karena kebun yang kita pahami sebagaimana yang kita ketahui. Jadi, tergantung konteksnya.

Untuk mengetahui maksud kata jannah yang bermakna kebun, ya silakan cari tahu sendiri pada abad ke 6 atau 7 di Arab sana yang dimaksud kebun itu seperti apa. Jadi, akhir-akhir ini, sebagian masyarakat Indonesia mengalami mental yang kacau (jahlun murakkab), merasa paling benar, merasa paling memiliki Allah, sehingga caranya jauh dari tujuan.

Itulah banalitas (kekacauan dianggap biasa). Yang terjadi, bukan mendapatkan pengetahuan, tetapi semakin dekat dengan kebodohan. Kalau katanya Hannah Arendt, “The sad truth is that most evil is done by people ho never make up their minds to be good or evil.”

Tak Ada Realitas Hakiki

Puisinya Sukmawati dianggap sudah menistakan agama karena bahasanya yang membandingkan bahwa kidung lebih merdu dari suara azan. Kalau memang Sukmawati merasakan hal yang demikian, apakah itu menistakan agama?

Jika kemudian kidung membuat dia lebih khusyuk atau menjadi lebih baik hidupnya, apakah lantas itu menistakan agama? Inilah kemudian kenapa kita perlu berpikir jernih sebelum menyalahkan orang lain.

Maka, kata Julia Kristeva, tidak ada realitas yang hakiki. Realitas itu selalu representasi. Siapa yang merepresentasikan realitas? Ya manusia itu sendiri.

Jadi, realitas tidak selalu berbunyi tentang dirinya, tapi tergantung subjeknya. Semakin banyak yang menafsirkan puisinya Sukmawati, maka semakin banyak pula cara merepresentasikan makna setiap bahasanya.

___________________

Artikel Terkait: