Puskesmas Garda Depan Penanggulangan Covid-19

Puskesmas Garda Depan Penanggulangan Covid-19
©BBC

Nalar Politik – Direktur Eksekutif The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research (TII), Adinda Tenriangke Muchtar, menekankan pentingnya peningkatan kesiapan puskesmas. Ia harus senantiasa menjadi garda depan penanggulangan Covid-19 mengingat eksistensinya sebagai fasilitas kesehatan langkah pertama (FKTP).

Hal itu dinyatakan Adinda lantaran sejak kasus Covid-19 merebak di Indonesia di awal Maret, rumah sakit rujukan dan tenaga kesehatan (nakes) menjadi pihak yang paling diharapkan. Upaya menghalau dampak virus yang meningkat secara eksponensial ini masih terhalang kurangnya fasilitas.

“Masyarakat cenderung berbondong-bondong ke rumah sakit untuk melakukan cek Covid-19. Peran penting puskesmas sebagai FKTP, yang lokasinya terjangkau dengan lingkungan tempat tinggal, belum terlalu mendapatkan perhatian khalayak luas,” kata Adinda melalui keterangan tertulisnya di Jakarta (8/4).

Padahal, perannya sebagai FKTP ini cukup krusial. Apalagi dengan pemberlakuan pembatasan sosial selama ini atau PSBB nantinya, setidaknya bisa menjadi ruang informasi dan edukasi publik terkait Covid-19 dan skrining awal terhadap masyarakat sekitar.

“Seharusnya dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai langkah awal. Peran puskesmas harus dioptimalkan untuk ikut membantu mencegah penyebaran Covid-19.”

Adinda turut mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan menggalakkan pelatihan online untuk puskesmas. Menurutnya, penekanan pada prinsip pencegahan dan skrining, serta tindak lanjut setelah hasil diketahui, merupakan hal patut.

“Upaya IDI dan Kemenkes dalam melakukan pelacakan terhadap kesiapan puskesmas juga sangat tepat. Tidak hanya untuk meningkatkan peran penting puskesmas, namun juga sinergi para pihak di berbagai tingkatan dalam menghadapi Covid 19.

Baca juga:

Terkait dengan kesiapan ini, terang Adinda, salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah Participatory Action Oriented Training (PAOT). PAOT yang awalnya dikembangkan oleh International Labour Organization (ILO) sejak 1976 merupakan metode solutif yang dijalankan dengan beberapa prinsip, yaitu partisipatif, pintar, murah, sederhana, serta sukarela.

“Metode yang menekankan pada keikutsertaan para personel dan sumber daya puskesmas juga membuat pendekatan ini mudah untuk dilakukan.”

Pentingnya PAOT sebagai salah satu solusi alternatif untuk mendukung kinerja puskesmas dan pelayanan kesehatan primer yang paripurna juga merupakan salah satu catatan hasil studi kualitatif TII di Kota Gunungsitoli (Januari-Maret 2020). Studi yang didukung oleh Kedutaan Besar Selandia Baru tersebut juga mengangkat tentang potensi PAOT sebagai metode alternatif untuk mendukung puskesmas mencapai akreditasi dan memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna.

“Peran penting puskesmas sebagai garda terdepan penanggulangan Covid-19 harus didukung oleh kesiapan sarana dan prasarana. PAOT sebagai pendekatan yang sederhana dapat menjadi cara untuk mengecek dan memastikan kesiapan puskesmas.”

Selain itu, informasi dan edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan peran puskesmas harus digalakkan secara intensif oleh berbagai pihak. Khususnya melalui Dinas Kesehatan maupun lingkungan RT/RW sekitar.

“Keberhasilan untuk menanggulangi Covid-19 juga membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Termasuk kesadaran dan kepatuhan setiap individu untuk mencegah penyebaran Covid-19.”