Putin, Quo Vadis?

Putin, Quo Vadis?
©Forbes

Menerka tujuan akhir Putin di Ukraina.

Nalar Warga – Perundingan ronde berikut antara Rusia & Ukraina direncanakan terjadi hari ini, 2 Maret, setelah tim perunding Ukraina berkonsultasi dengan pihak Amerika. Amerika memainkan peran besar di latar belakang, dengan Zelensky & Menlu Ukraina Kuleba (yang berada di Amerika) jadi corong.

Dari sisi propaganda, Zelensky sangat sukses, dibantu oleh raksasa media & platform Amerika, berhasil menyensor info-info asal Rusia, dan mendorong seluruh dunia Barat & pengikutnya mengisolasi Rusia.

Zelensky juga menggunakan kesempatan emas ini untuk memaksa Uni Eropa mengabulkan permohonan Ukraina masuk EU. Saat ini tidak ada politisi Eropa yang waras akan menentang Zelensky terang-terangan karena opini publik yang sudah tercipta menganggap dia pahlawan.

Saking suksesnya Zelensky memengaruhi Eropa secara emosional, ketika dia tampil di sidang Parlemen Eropa, penerjemah pidato ke Inggris tidak bisa menahan rasa haru, menangis suara tersendat.

Zelensky yang berasal dari profesi showbiz benar-benar menguasai panggung. Ketika parlemen Eropa sedang emosi-emosinya, dia mendesak “Buktikan kalau kalian benar-benar bersama kami.” Artinya, kabulkan permintaan kami masuk EU segera.

Tetapi politisi negara EU dominan, yaitu Jerman dan Prancis, bersikap dingin terhadap taktik emosional Zelensky: “Menjadi anggota EU bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam beberapa bulan.” (Politico).

Ditanya soal aplikasi Ukraina ke EU, sekretaris Kremlin Peskov mengangkat bahu. Menjadi anggota EU tidak berurusan dengan faktor keamanan strategis Rusia. Yang Rusia tentang adalah keanggotaan NATO, bukan EU. Silakan mau jadi anggota EU, menurutnya.

Ulasan media-media Barat berusaha memperlihatkan Cina meninggalkan Rusia sendirian, dengan berbagai argumen. Dari argumen-argumen yang sudah dilontarkan, menurut saya tidak benar. Misalnya, ada diberitakan cabang-cabang bank-bank Cina yang membatasi nilai transaksi Rusia.

Saya tidak tahu keabsahan info tersebut yang didasarkan atas gosip, tetapi kalaupun benar, itu tidak berarti ada kebijakan Cina meninggalkan Rusia. Bank-bank Cina yang harus beroperasi di luar Cina rentan terkena sanksi Amerika yang memaksakan juridiksi ekstraterritorial.

Artinya, juridiksi ekstrateritorial itu ketika satu negara memaksakan penerapan hukumnya di luar batas negaranya. Karena itu, ketika perusahaan-perusahaan Cina dikenai sanksi oleh Amerika, bahkan bank-bank Cina yang berhubungan erat dengan Amerika ikut menerapkan sanksi tersebut.

Sepert dengan Iran, untuk membantu Rusia, Cina menggunakan cara-cara lain, dan itu pun dilakukan dengan risiko sangat tinggi. Kasus ditawannya CFO Huawei di Canada juga karena urusan ini, Huawei dituduh melanggar sanksi terhadap Iran.

Untuk yang mengerti, termasuk Rusia pasti ngerti, usaha media-media yang menyimpulkan Cina tidak lagi membantu Rusia itu tidak benar.

Mantan editor GT juga mengungkapkan plesetan terjemahan FT (media Inggris) yang membuat terkesan Cina mengecam tindakan Rusia di Ukraina. Ucapan Menlu Wang Yi 痛惜 (tongxi) diplesetin jadi “deplored” oleh FT yang berkonotasi ekspresi ketidaksetujuan.

Arti dari istilah 痛惜 yang digunakan Wang Yi adalah “penyesalan mendalam” bahwa krisis Ukraina harus berakhir dengan cara demikian. Padahal bisa dihindarkan jika NATO mengindahkan ketidaksetujuan Rusia dengan ekspansi NATO ke depan pintunya.

Tujuan Amerika untuk mengadu-domba hubungan Cina & Rusia memang sudah diketahui semua pihak. Amerika juga tahu Rusia berani memutuskan masuk Ukraina jika tuntutannya tidak dipenuhi juga disebabkan ada Cina yang bisa membantu jika Rusia dikenai sanksi berat.

Berhari sesudah heboh sanksi-sanksi berat, suasana sekarang lebih hening karena Barat sudah kehilangan kemampuan menjatuhkan sanksi-sanksi lagi, sampai hal terkecil-kecil sudah dilontarkan oleh Barat, dan Putin tenang-tenang saja. Dengan demikian saatnya Barat yang mulai cemas, Eropa mulai introspeksi.

Halaman selanjutnya >>>
    Warganet
    Latest posts by Warganet (see all)