Rahasia Konsistensi Amien Rais

Rahasia Konsistensi Pak Amien Rais
Amien Rais | Net

Terlepas dari konsistensi Amien Rais, secara pribadi, beliau adalah sosok yang sangat relijius, sangat cerdas, dan sangat cinta keluarga. Beliau tidak segan mendorong keluarganya untuk memberi sumbangsih bagi masyarakat di sekitarnya.

Sebelum reformasi tahun 1998, tidak banyak yang paham sosok salah satu tokoh nasional, Bapak Amien Rais. Baru setelah era ini, beliau dielu-elukan sebagai lokomotif reformasi. Banyak yang terpesona dengan beliau pada waktu itu.

Seiring berjalannya waktu, satu per satu mulai mempertanyakan konsistensi Amien Rais. Sebab, beberapa kali kedapatan tidak sinkron satu sama lain. Beda antara ucapan dan perbuatan beliau. Bahkan karena itu, beliau diberi macam-macam julukan dan panggilan yang tidak bersahabat.

Ketika reformasi bergulir, Shuniyya masih duduk di bangku SMAN 4 Yogyakarta. Waktu itu Shuniyya sudah berteriak bahwa Pak Amien Rais bukanlah Lokomotif Reformasi. Beliau hanyalah “Macan Ompong”. Tak pelak Shuniyya diserang di sana-sini oleh banyak sahabat yang mengidolakan beliau.

Demikian pula ketika menjadi mahasiswa Fisipol UGM tahun 2000, Shuniyya lantang meneriakkan Pak Amien Rais hanyalah “Macan Ompong” di depan putra sulung beliau, Mas Ahmad Hanafi Rais, yang tentu saja mukanya jadi “merah padam”. Dan juga banyak mahasiswa yang kontra dengan pendapat Shuniyya, bahkan kemudian memusuhi, karena waktu itu Pak Amien Rais menjadi idola, dielu-elukan sebagai tokoh reformasi..

Namun, kemudian Shuniyya sama sekali tidak berbicara apa pun lagi tentang sosok Pak Amien Rais. Karena beliau secara gamblang pernah menyatakan bahwa politik yang dijalani ibarat kakus/WC. Kira-kira begini kalimatnya:

“Ibarat WC dicitrakan kurang bagus, sebagai tempat pembuangan, kotor, bahkan menjijikkan. Tapi cobalah masuk, nongkrong di atas klosetnya, apalagi sambil menghisap rokok. Nikmat luar biasa. Semua kesan tentang WC akan hilang. Itulah politik. Orang hanya bisa teriak sumbang dari luar, akan beda ketika sudah langsung terjun.”

Dari sinilah kita bisa melihat dan tidak perlu lagi berkomentar tentang beliau, bukan? Bahwa beliau adalah “orang yang sangat konsisten untuk tidak konsisten” sudah terjawab. Bahwa beliau kadang beda antara ucapan dengan perbuatan juga sudah terjawab sekaligus.

Terlepas dari itu semua, terkait konsistensi Amien Rais, secara pribadi, beliau adalah sosok yang sangat relijius, sangat cerdas, dan sangat cinta keluarga. Pak Amien tidak segan mendorong keluarganya untuk memberi sumbangsih bagi masyarakat di sekitarnya. Sosok suami yang hebat, sosok ayah yang dahsyat.

Beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat menyayangi ibundanya. Akhirnya, sebagai pribadi, beliau adalah teladan bagi keluarganya. Bagaimanapun juga beliau telah memberi warna bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Segala yang baik dari beliau mari kita teladani. Juga segala yang tidak baik menurut kita tentu jangan kita contoh, apalagi kita teruskan. Jangan sampai hari ini kita menuding-nuding beliau hanya karena kita belum punya kesempatan berbuat seperti yang beliau lakukan itu.

    Latest posts by Shuniyya Ruhama (see all)