Raisa-Bella dan Infrastruktur ala Jokowi

Raisa - Bella dan Infrastruktur ala Jokowi
Raisa, Presiden Jokowi, dan Laudya Cyntia Bella. Ilustrasi: Kolase Tribun Bali

Akhir-akhir ini, kita mengalami patah hati yang berskala nasional. Dikabarkan bahwa seorang penyanyi cantik asal Jakarta, Raisa Andriani, telah menyelesaikan masa lajangnya dengan seorang lelaki asal Australia. Bagi fans berat Raisa, pastilah merasakan patah hati yang sangat.

Raisa memiliki suara yang bisa dikatakan langka. Tapi, sudahlah. Ngomong hal yang mengecewakan seperti itu lebih baik tak perlu dibahas. Itu justru dialami berbeda oleh orang nomor satu di Indonesia. Itu tak lain oleh Pak Joko Widodo.

“Satu dua hari lalu, saya banyak dikomplain masyarakat mengenai Raisa. Mereka bilang, satu lagi aset Indonesia lepas ke tangan asing. Setelah saya telusuri, memang ternyata suaminya orang Australia,” ujarnya yang direkam di koran Tribun Timur.

Aset negara memang sudah banyak direnggut oleh pihak asing. Bukan hanya sumber daya saja, tapi melainkan artis yang cantik pun ikut dipegang oleh tangan asing.

Bukan hanya penyanyi yang juga diserang, artis sinetron cantik kita juga, Cynthia Bella, resmi dipersunting Engku Emran. Yang bahkan juga dikenal asalnya dari Malaysia.

“Belum saya jawab sudah muncul lagi. Mereka bilang, Laudya Cynthia Bella nikah orang Malaysia,” ujar Pak Jokowi di koran dan waktu yang sama.

Menarik hati, namun juga menusuk hati. Karena ini merupakan sebuah kabar buruk. Baik itu bagi para penggemar kedua artis tersebut yang mungkin terciduk oleh adanya kabar serupa, maupun itu merupakan serangan halus dari tangan asing.

Namun, Pak Joko Widodo justru tetap mengingatkan kita betapa pentingnya nasionalisme dalam media.

“Lanskap ekonomi dan lanskap politik akan berubah. Unpad harusnya punya fakultas media sosial, jurusan meme, atau animasi. Kenapa tidak, karena ke depan itu yang kita hadapi. Sekarang boleh kita tertawa,” ujarnya kembali disambut tawa.

Siapa yang tak kenal dengan Beliau? Tentunya pak presiden memang harus merakyat. Beliau sangat khas akan wajahnya yang merakyat. Belum lagi pada awalnya beliau sangat peduli dengan infrastruktur.

Sebagai seorang pengamat politik, penulis merasakan kehangatan beliau yang memang terasa amat. Itu ternyata merupakan sebuah gerakan politis yang amat jelas dari beliau. Mungkin beliau sendiri menyadarinya dan tidak repot-repot membagikan ilmunya.

Dalam teori politik, kita akan menemukan dua gerakan politis. Dan teori tersebut dikumandangkan juga oleh seorang ahli politik, Michael Mann. Dua gerakan tersebut tidak lain adalah infrastruktur dan despotik (atau lalim).

Gerakan despotik ini lebih merujuk pada gerakan otoritas. Contohnya pada sebuah partai, partai berhak menunjuk wakilnya agar dapat terpilih nantinya pada saat pemilihan. Otoritas membuat kita bergerak secara despotik. Artinya, kekuasaan dapat membuat kita lalim. Kita bisa berbuat baik maupun buruk asal ada kuasa.

Jika kita melihat dari segi negatifnya, tentu gerakan ini sangat buruk untuk membantu masyarakat. Karena secara konkrit, hanya partai belaka saja yang dapat mempromosikan pemimpinnya. Dan entah apakah di luar partai itu bisa menjadi seorang calon pemimpin di pemilihan mendatang.

Sangat berbeda dengan infrastruktur yang dijalankan oleh bapak presiden kita. Infrastruktur terkesan akan bangunannya. Namun, dalam gerakan politis, itu justru lebih baik. Pasalnya, gerakan ini membawa ilusi semangat kebersamaan dan persatuan. Inilah gerakan yang dilakukan oleh pak Joko Widodo.

Gerakan tersebut dapat dilihat dalam komentar-komentarnya yang lalu dan bahkan sampai saat ini. Di saat para penggemar Raisa mengalami “patah hati nasional”, pak Jokowi malahan mengingatkan kita kalau patah hati disalurkan ke arah yang lebih baik, yaitu membuat perang media.

Secara politis, media merupakan medan yang tak bisa dibilang netral. Itu disebabkan oleh adanya dua kepentingan atau bahkan lebih yang saling bertarung satu sama lain.

Jika kita melihat dari segi despotik, media-media tertentu memiliki kekuasaan yang di mana kita tak tahu wilayah mainnya. Ini menjadi perang adonan. Jika ada yang merasa patah hati, maka keingat Raisa – Daud, tambah patah hatilah kita. Hak kuasa seperti itu, sebenarnya maunya apa coba?

Sedangkan di sisi lain, bapak presiden kita dengan ramahnya membangun kita ala infrastrukturnya. Sudahlah, itu yang terjadi di Raisa dan Daud, lebih baik dilupakan, dan tetap move on.

Tapi, jangan salah, pak Jokowi juga melakukan gerakan politis ala despotik dari segi positif. Misalnya, apa yang disebutkan di atas kalau despotik justru bergerak semena-menanya asal ada kuasa. Pak Jokowi siapa coba? Apa hubungannya dengan Raisa? Ya, pak Jokowi itu bapak presiden kita.

Kalau pak Jokowi sudah berkata seperti itu, mengapa kita gak move on?

Sebagai kesimpulan, baik Raisa-Daud maupun Bella-Engku yang bisa membuat patah hati nasional, kita justru bisa melakukan lebih dari itu. Yaitu menghidupi negara Indonesia.

___________________

Artikel Terkait: