Ramalan BI Meleset, Ekonomi RI Malah Tumbuh 3,5 Persen

Ramalan BI Meleset, Ekonomi RI Malah Tumbuh 3,5 Persen
©IDX Channel

Market News Bank Indonesia (BI) mengakui ramalannya tentang pertumbuhan ekonomi dalam negeri meleset.

Seperti diungkapkan Gubernur BI, Perry Warjiyo, realisasi pertumbuhan ekonomi pada Kuartal III malah tumbuh 3,5 persen (year on year). Padahal BI menargetkan sebelumnya sebesar 5 persen.

“Pertumbuhan ekonomi Kuartal III terus terang memang meleset,” kata Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR, Kamis (25/11).

Sebelumnya, BI memperkirakan bahwa kinerja ekonomi sepanjang tahun ini akan berangsur pulih. Hal itu tercermin dari kinerja ekonomi periode Mei hingga Juni di saat kasus Covid-19 melandai.

Namun, perkiraan ternyata berubah. Ketika memasuki Juli hingga Agustus, kasus Covid-19 varian delta malah melonjak.

“Juli hingga Agustus, kita lihat begitu cepatnya varian delta dalam dua bulan mencapai 56.000 kasus kematian setiap hari.”

Diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III menurun drastis jika dibandingkan dengan Kuartal II-2021 yang mencapai 7,07 persen (year on year). Lonjakan kasus harian pandemi yang tidak terprediksi diyakini menjadi penyebab utama.

Selain itu, kinerja ekonomi pada Kuartal III-2021 karena konsumsi rumah tangga juga tercatat melambat; hanya tumbuh 1,03 persen (year on year). Padahal BI sudah memproyeksi konsumsi rumah tangga dapat tumbuh di kisaran 2,06 persen.

Penurunan konsumsi rumah tangga tersebut dinilai terjadi karena adanya pemberlakuan pembatasan mobilitas masyarakat (PPKM) guna mengendalikan pandemi Covid-19 saat itu. Hal ini menyebabkan masyarakat kelas menengah atas tidak dapat melakukan kegiatan pariwisata.

“Konsumsi yang kami perkirakan bisa tumbuh 2,06 persen hanya tumbuh 1,03 persen, khususnya untuk kelas menengah atas. Bukan karena dana, tapi karena enggak bisa konsumsi. Kelas menengah atas tersier ya lebih ke hotel, restoran, traveling, bukan kebutuhan pokok.”

Kendati demikian, BI tetap berkomitmen untuk membantu pendanaan dari sisi vaksin, biaya kesehatan. Komitmen ini dituangkan dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur BI dalam rangka Pembiayaan Penanganan Kesehatan dan Kemanusiaan guna Penanganan Dampak Pandemi Coronavirus Disease (Covid-19).

Dalam kesepakatan tersebut, BI akan melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp215 triliun di 2021 dan Rp224 triliun di 2022.

“Di situlah kenapa vaksin kami bayar, biaya kesehatan kami bayar. Tahun ini Rp215 triliun dan Rp224 triliun di tahun depan. Ini komitmen kami memastikan vaksinasi, pembukaan sektor tidak alami kendala pendanaan.”

Baca juga: