Realitas Sambaliwali dan Kondisi Manusianya

Realitas Sambaliwali dan Kondisi Manusianya
©Trek Earth

Realitas Sambaliwali kini cukup memprihatinkan. Meski akses transportasi sudah tersentuh oleh proyek pemerintah setempat, ada hal yang luput dari yang semestinya harus jadi perhatian utama.

Dari sudut pandang yang berbeda, berkaca dari anggapan masyarakat, desa yang berkedudukan di Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat ini dianggap hanya mungkin terbangun ketika infrastruktur pendukungnya benar-benar membumi.

Padahal, di tengah mulusnya akses penghubung antara desa A dan desa B, rancangan kerja pembangunan Desa Sambaliwali tidak mengindahkan kondisi sumber daya manusianya.

Mengapa demikian? Apakah karena paradigma berpikir masyarakat tentang kemajuan suatu  desa memang begitu? Atau ini tentang tata kelola pemerintahan Sambaliwali?

Tampaknya, kalau kita harus menyorot aspek di atas, terkesan ada yang salah memang. Namun perlu kita refleksikan kembali bahwa jika perihal itu terus berkelanjutan, yang ada hanya wajah desa yang itu-itu saja: masyarakat hidup dari hasil kerja sendiri; menggarap lahan; memanfaatkan apa saja yang dapat mereka kelola sebagai sumber penghasilan (menyadap aren, berkebun kakao, dan sebagainya).

Kita tidak bisa menafikan banyaknya masyarakat yang saat ini memilih merantau. Berkurangnya hasil produktivitas pertanian yang selama ini menghidupi mendorong mereka mencari sumber penghidupan yang lebih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal itu terlihat ketika lingkaran komunitas pemuda desa bernama Lantera Sambaliwali ikut terlibat berbincang-bincang soal kondisi desa. Kaum muda mencoba tangkas menyikapi masalah-masalah yang mulai tampak satu per satu. Di antaranya ialah maraknya penduduk desa beranjak meninggalkan kampung halaman untuk mengadu nasib di pulau seberang.

Ada apa dengan mereka yang merantau? Bukankah itu perihal yang lumrah dan mungkin saja atas pilihannya sendiri?

Baca juga:

Lagi-lagi ini lebih kepada sebab dan didesak oleh situasi di mana keberlangsungan hidup bergantung pada taraf produksi dari hasil potensi sumber daya alam.

Apakah mereka sudah tidak punya lagi harapan untuk bertahan hidup di desa? Mengapa mereka memilih untuk mencari sumber penghasilan lain di tanah rantau?

Berdasar pada realitas tersebut, hal itu yang mendorong Lantera Sambaliwali menyorot masalah yang ada di balik tindakan dan keputusan yang hampir sebagian masyarakat ambil. Terkesan ada anggapan mengenai desa yang sudah tidak menarik untuk mereka tinggali, dan juga tidak ada lagi sumber penunjang kehidupan yang menjamin.

Mendengar cerita dari orang-orang yang lebih dulu merantau, bahwa nominal upah yang lebih tinggi menarik minat dan keinginan mereka untuk meninggalkan desa. Jika hal tersebut masih tetap dengan keawetan tanpa adanya upaya untuk mencari solusi, yang terlihat mungkin akan makin banyak masyarakat yang dijemput oleh angkutan umum untuk menuju ke pelabuhan penyeberangan.

Pelibatan masyarakat secara penuh dalam kerja pembangunan di desa adalah bentuk terobosan baru dalam penentuan kebijakan dan keputusan arah pembangunan desa. Semisal, menciptakan ruang kerja yang diperuntukkan bagi masyarakat dengan memanfaatkan ketersediaan fasilitas dan program yang ada (BUMDES, misalnya). Juga pada potensi sumber daya alam yang melimpah sebagai sasaran yang dapat desa kelola.

Seperti yang Lantera Sambaliwali lakukan, yang tergerak dengan semangat untuk mewujudkan desa maju dan mandiri, mereka mencoba memulai dengan berfokus pada tata kelola potensi sumber daya alam. Misalnya, pemanfataan lahan, riset pangan, dan pelaksanaan kegiatan pendidikan pertanian alami yang mereka lakukan secara kolektif.

Hal tersebut mungkin tidak secara langsung dapat mengatasi masalah-masalah yang ada. Tetapi satu langkah gerak yang jelas akan membuahkan hasil yang riil. Ya, ketimbang hanya menjadi penonton akan keberlangsungan satu kondisi yang memprihatinkan dan kurang tersorot di beberapa kalangan.

Yang kita butuhkan juga adalah pentingnya relasi antara pemerintah dan beberapa kalangan. Dengan penguatan komunikasi dan terbangunnya interaksi yang baik, penyatuan cara pandang melihat kondisi dan situasi desa akan lebih kompleks.

Baca juga:

Pada konteks ini, bukan berarti tidak adanya usaha pemerintah mengatasi masalah tersebut. Hanya saja, pada sektor pembangunan sumber daya manusia, kita memerlukan perhatian lebih. Kita butuh tindakan nyata atas munculnya masalah-masalah yang berdampak kurang baik di lingkup masyarakat.

Melibatkan masyarakat sebagai bagian dari pelaku yang berpartisipasi dalam kerja pembangunan desa memang perihal yang jarang kita temukan. Hal ini bahkan sulit untuk kita lakukan. Karena kurangnya relasi pada masyarakat dan tertutupnya akses masyarakat dalam menyampaikan aspirasi terhadap para penggerak dan pengelola pemerintahan desa.

    Ridwan Rasyid