Refleksi Hari Buruh: Pengusaha tanpa Usaha

Refleksi Hari Buruh: Pengusaha tanpa Usaha
Foto: Academic Indonesia

Pada 1 Mei 2018, diperingati sebagai Hari Buruh Internasional di seluruh penjuru dunia.

Faktanya, aku sendiri sebagai kaum buruh salah satu Fotocopy di dekat kampus UIN Sunan Kalijaga tidak terlalu bangga dengan peringatan tersebut. Padahal, kawan-kawan yang ngaku aktivis banyak sekali yang melakukan aksi di berbagai sudut jalan raya. Kenapa?

Siapa Musuh Kaum Buruh?

Kita semua tahu bahwa setiap kita memiliki dimensi-dimensi yang berbeda satu sama lain; dalam diri dan luar diri. Dalam diri kita, sejatinya sudah ada kerangka perbudakan antara nafsu dan akal-hati nurani.

Diri kita sendiri dituntut oleh banyak keinginan, sehingga terkadang kita mengeluh karena tidak dapat memenuhinya, dan pada puncaknya akan mencari jalan ke luar diri. Sebut saja kita dituntut nafsu untuk memiliki HP Android, tapi tak punya uang. Akhirnya kita pun keluar diri mencari pekerjaan. Betul?

Seorang buruh ketika sudah masuk pada dunia kerja di luar dirinya, pasti memiliki keluhan yang menimbulkan perasaan tertindas oleh perusahaan. Ya, namanya juga manusia. Apalagi dibentak-bentak sama si Bos.

Rasa tertekan dan keluh dari seorang buruh pada umumnya adalah sebuah konsekuensi. Bahwa ketika seorang memutuskan untuk menjadi buruh perusahaan, maka secara otomatis harus mengikuti aturan perusahaan. Tak peduli seberapa besar perusahaan menimbun kekayaannya sendiri.

Nihilnya, rata-rata para buruh meminta gaji yang besar, dengan beban kerja yang sangat kecil. Ini jelas karena nafsu, bukan keterampilan. Maka salah ketika seorang buruh membenci si Bos yang memarahinya karena keteledoran dalam bekerja. Dengan kata lain, tidak profesional.

Kaum buruh semestinya bekerja secara profesional, sehingga dalam situasi tertentu, dia bisa mengkritik atasannya. Misalnya, uang makan dikurangi.

Buruh yang profesional boleh menggugat. Tapi bagaimana dengan buruh yang kerja apa adanya? Nah, ini yang susah di negeri kita. Kebanyakan kaum buruh tidak berketerampilan. Lantas, ketika ada TKA kerja di Indonesia, pemerintah yang disalahkan. Hadeeehhh, ingin jadi tuan tanpa kerja di negeri sendiri.

Lihat juga: Peringati Hari Buruh, Aksi Mahasiswa Ini Serupa Laku Preman

Udah tahu, kan, musuh kaum buruh siapa? Perusahaan yang sewenang-wenang terhadap karyawan yang sudah bekerja secara profesional. Catat, profesional!

Karena pada umumnya, seorang pengusaha berambisi untuk mendapatkan penghasilan sebanyak-banyaknya, dari modal yang seminimal-minimalnya. Termasuk modal gaji buruh. Sebisa mungkin kecil. Apalagi buruh yang kurang terampil alias coba-coba dan seikhlasnya saja. Sehingga seorang Bos adalah dalang dari ketidakadilan kaum buruh yang digaji rendah.

Setidaknya, ada dua pandangan soal seorang pengusaha dalam dunia kerja, dalam hal ini musuh kaum buruh.

Pengusaha yang Tidak Berusaha

Kita sudah umum menyebut seorang bos perusahaan sebagai pengusaha. Padahal, data membuktikan bahwa seorang bos tidak berusaha.

Kalau kata buruh: enak jadi Bos, bisa jalan-jalan. Ya, kan? Justru yang pantas disebut pengusaha adalah si kaum buruh itu sendiri, yang banting tulang keringat jatuh dan sebagainya.

Dan inilah kenapa saya tidak bangga dengan hari buruh. Selain menghinakan kaum buruh yang sebenarnya tertindas bukan terhormat, juga Bos saya rajin dan ikut bekerja bersama saya. Romantis pokoknya.

Pengusaha yang Mengusahakan Buruh untuk Berusaha

Ini agak sedikit masuk akal. Karena perusahaan merupakan ladang lapangan kerja. Sehingga seorang pengusaha berusaha membuat buruh berusaha atau bekerja. Walaupun pada kenyataannya keuntungan si pencipta kerja selalu lebih diuntungkan.

Jadi, kalau kaum buruh mau demo, gak usah di jalan-jalan. Berisik. Cukup kalau gaji turun atau kamu selalu salah di depannya, bilang aja: coba sesekali sampean yang kerja, Pak. Biar saya tahu hasil kerja sampean. Biar adil; siapa di antara kita yang paling terampil?

Keesokan harinya, kamu dipecat.

___________________

Artikel Terkait:
Ali Munir S
Ali Munir S 4 Articles
Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta | Anggota komunitas menulis Gajahwong dan LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga