Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani

Rekonstruksi Nalar Pemikiran Jamaluddin Al-Afghani
©Alif

Al-Afghani menjadi perintis penafsiran ulang Islam yang menekankan kualitas yang diperlukan di dunia modern.

Dunia Islam abad 20 ditandai dengan kebangkitan dari kemunduran dan kelemahan secara budaya maupun politik setelah kekuatan Eropa mendominasi mereka. Eropa bisa menjajah karena keberhasilannya dalam menerapkan strategi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mengelola berbagai lembaga pemerintahan. Negeri-negeri Islam menjadi jajahan Eropa akibat keterbelakangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Negara jajahan juga harus ditransformasi dan dimodernisasi mengikuti kemajuan Eropa. Kehidupan finansial dan komersialnya dirasionalisasi dan dimasukkan ke dalam sistem Barat. Setidaknya beberapa orang pribumi harus dibuat akrab dengan ide-ide dan etos modern.

Mereka yang tersisih dari proses modernisasi merasakan pengalaman yang menganggu menyaksikan negara mereka menjadi sangat asing. Mereka diperintah dengan hukum sekuler asing yang tidak mereka pahami. Yang terpenting, penduduk lokal dari semua lapisan masyarakat merasa kecewa dengan kenyataan bahwa mereka tidak bisa lagi menentukan nasib sendiri. Mereka merasa telah kehilangan semua bentuk hubungan dengan akar mereka, dan merasa kehilangan identitas keIslamannya.

Melihat fenomena hal semacam ini, muncullah kemudian pembaru di dunia Islam. Salah seorang yang pertama kali menyerukan pembaruannya adalah aktivis dari Iran, Jamaluddin Al-Afghani (1839- 1897). Dia melihat bahaya meniru mentah-mentah kehidupan Barat dan meminta warga dunia Islam untuk bersatu melawan ancaman Eropa. Mereka harus membangun budaya ilmu pengetahuan dalam dunia baru dengan cara mereka sendiri.

Oleh karena itu, mereka harus memupuk tradisi budaya mereka sendiri, artinya Islam. Islam harus merespons kondisi yang telah berubah dan menjadi lebih rasional dan modern. Umat Islam harus menentang penutupan pintu ijtihad dan mempergunakan nalar mereka sendiri, seperti yang dikehendaki Nabi dan Alquran. Inilah yang mengawali bangkitnya pembaruan pemikiran Islam pada periode modern.

Secara garis besar, pemikiran Al-Afghani tentang Pan Islamisme mengandung dua dimensi, yakni spirit untuk melawan kolonialisai Barat di dunia Islam dan spirit untuk melawan tirani pemerintahan. Dalam mewujudkan gagasannya tersebut, selain menganjurkan umat Islam untuk bersatu, dia mengajak umat Islam untuk kembali kepada Alquran dan Hadis dengan menggali nilai-nilai universalnya (membuka kembali pintu ijtihad).

Selain itu, umat Islam juga perlu mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, dalam konteks umat Islam seharusnya tidak anti-modernitas, melainkan selama hal tersebut tidak bertentangan dengan religius-etis Islam, maka sepatutnya (wajib) dipelajari.

Sekurang-kurangnya, jika melakukan rekonstruksi pemikiran Al-Afghani, kita akan menemukan relevansinya pada persoalan bangsa Indonesia saat ini, seperti perpecahan umat Islam Indonesia yang terbagi dalam berbagai aliran dan organisasi yang kadangkala menimbulkan perpecahan dan konflik disebabkan oleh fanatik aliran dan golongan yang berlebihan. Selain itu, Indonesia saat ini juga sedang mengalami ancaman disintegrasi.

Baca juga:

Karena itu, bagaimana kemudian aktualisasi gagasan Al-Afghani dapat diwujudkan dalam bentuk penguatan kembali solidaritas sesama umat Islam, rekonstruksi nalar pemikiran umat Islam dalam menyikapi khazanah Islam klasik (membuka pintu ijtihad), dan bersikap bijak dalam menghadapi modernisasi.

Nalar Pembaruan Al-Afghani (Pan Islamisme)

Al-Afghani adalah tokoh penting dalam pembaru Islam. Idenya masih tumbuh subur hingga saat ini, terutama tentang Pan Islamisme yang menyerukan persatuan umat Islam demi terwujudnya kesejahteraan umat.

Pan Islamisme Al-Afghani mengandung dua dimensi. Pertama, sebagai perlawanan atas intervesi dan dominasi Barat dengan, berpegang pada tema-tema ajaran Islam sebagai stimulasinya. Kedua, perlawanan terhadap pemerintahan yang tidak pro rakyat.

Al-Afghani merupakan salah satu tokoh pertama kali yang menyatakan harus kembali pada tradisi muslim dengan cara yang sesuai dari berbagai problem penting yang muncul akibat Barat yang makin mengusik Timur Tengah di abad ke-19 saat itu.

Dengan menolak tradisionalisme murni yang mempertahankan warisan Islam secara tidak kritis di satu pihak, dan peniruan membabi buta terhadap Barat di lain pihak, Al-Afghani menjadi perintis penafsiran ulang Islam yang menekankan kualitas yang diperlukan di dunia modern, seperti penggunaan akal, aktivisme politik, serta kekuatan militer dan politik. Menurutnya, perjuangan yang dihadapi oleh modernisme Islam merupakan kebutuhan untuk menciptakan pengertian solidaritas kelompok dalam rangka memperkuat kosntitusi moral kaum muslimin.

Sebenarnya inisiator idiologi dalam konteks Pan Islamisme cukup banyak dalam Islam. Namik Kemal, dialah yang pertama kali menulis pembelaan intelektual modern mengenai persatuan Islam, suatu fase yang di Barat diterjemahkan sebagai Pan-Islamisme

Mungkin para sarjana Muslim dan Barat jauh lebih mengenal Al-Afghani ketimbang Namik Kemal sebagai perintis utama “Pan-Islamisme”. Alih-alih bukan Al-Afghani yang merintis, malah popularitasnya makin meningkat setelah kematiannya. Tulisan-tulisan tentang Al-Afghani dalam konteks Pan Islamime mendapat proporsi kajian yang meluas.

Meski demikian, pemikiran Al-Afghani memiliki dimensi nilai universalitas yang tidak terikat dengan ruang dan lokus tertentu. Karena idenya bukan semata konsep kosong, tetapi juga telah mengalami pengujian yang panjang dalam proses dialektika dengan lokus yang beragam, mulai dari Afghanistan, Mesir, India, Iran, Prancis, Inggris, dan lainnya. Kendati demikian, dia digolongkan sebagai pembaru di Mesir mengingat pengaruh yang paling besar berdampak di Mesir.

Halaman selanjutnya >>>
Salman Akif Faylasuf
Latest posts by Salman Akif Faylasuf (see all)