Rektorat UIN Jogja Semena-mena, Gerakan Mahasiswa Malah Melempem

Rektorat UIN Jogja Semena-mena, Gerakan Mahasiswa Malah Melempem
Rifai, Aktivis GMNI Komisariat UIN Jogja

Nalar PolitikAktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Jogja), Rifai, menilai tindakan rektorat UIN Jogja telah berlaku semena-mena. Pelarangan mahasiswi bercadar yang akhir-akhir ini marak diberitakan, baginya, adalah bentuk pembungkaman kebebasan berekspresi.

“Tindakan rektorat seperti ini sangat menciderai demokrasi, terutama di dunia kampus. Tak boleh dibiarkan,” tegas Rifai saat diwawancarai pada Selasa (6/3/2018).

Dengan mengeluarkan keputusan larangan penggunaan cadar bagi mahasiswi, ia menilai ada semacam kekhawatiran berlebih dari rektorat UIN Jogja. Pengguna cadar tersebut dipandang rektorat sebagai bagian dari gerakan radikal Islam.

“Seakan-akan rektor ingin menyampaikan pesan lugas: ‘saya pancasilais, kalian fundamentalis’,” terangnya.

Sayangnya, lanjut mantan mahasiswa UIN Jogja ini, tak satupun ada respons nyata dari para mahasiswa. Bahkan, gerakan mahasiswa UIN Jogja sendiri malah terlihat melempem.

“Saya melihat ada ketakutan besar. Mereka memang merespons, seperti ditunjukkan Presiden Mahasiswa UIN Romli Muallim. Tetapi, respons itu hanya berupa wacana saja. Tidak ada aksi nyatanya di lapangan, ya tidak berguna,” sesalnya.

Ia pun menduga, melempemnya gerakan mahasiswa, dalam hal ini BEM UIN Jogja, adalah buah dari sikap pragmatis. Bahwa ketika mereka harus memilih melawan secara frontal, itu berpotensi mereduksi eksistensi mereka sendiri.

“Ancamannya kan nyata. Melawan rektorat itu ibarat melawan pemilik modal. Kalau pragmatis, ya wajar jika mereka melempem. Dana-dana untuk kemahasiswaan bisa dipotong. Yang rugi ya mahasiswa itu sendiri, kan?” terangnya kembali.

Selain itu, di kalangan gerakan mahasiswa ekstra kampus, seperti GMNI, HMI, dan PMII, aksi tersebut juga tak muncul. Selama wacana pelarangan mahasiswi bercadar oleh rektorat UIN Jogja ini berlangsung, tak satupun di antara mereka yang juga berani menunjukkan batang hidungnya untuk sekadar memberi respons.

“Ini sangat disayangkan juga. Mestinya mereka turun langsung, memobilisasi massa agar bergerak bersama menuntut rektorat UIN Jogja,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: