Rektorku Gonjang-ganjing

Rektorku Gonjang-ganjing
Rektor UIN Jogja (jaket biru), Yudian Wahyudi (Foto: Konfrontasi)

Wacana yang muncrat di mulut rektorku itu lucu karena ia mewakili kenyataan hidup mahasiswi bercadar ke depan ini.

Bersamaan dengan keputusan baru yang dikeluarkan rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, pemimpin sering diidentikkan dengan monster pengemplang segala bentuk macam aturan, baik aturan yang menggelikan atau lucu-lucuan sekalipun.

Melalui segala bentuk macam kebebasan pada otoritas sebagai penguasa, disadari atau tidak, mau menyadari atau tidak, hal ini merupakan ancaman serius bagi kita sebagai kalangan mahasiswa. Ibarat tokoh animasi, tindakan seorang rektorku yang sempat mengguncang media akhir-akhir ini mirip seperti Sullivan dalam Monster Inc.

Salah satu sisi lucu dari keputusan seorang rektorku, apalagi kalau bukan wacana-wacana yang muncrat dari pangkal (hak) sebagai penguasa. Banyak orang dibuat dilema dengan wacana-wacananya yang sering menggelitik, terlepas dari tujuan dan maksud pribadi atau kelompok.

Sepertinya memang betul, “tidak mungkin orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan kalau bukan orang tersebut salah urat.”

Wacana yang sempat mencuat di berbagai media hanya menyisakan luka sekaligus sesak di dada. Seumpama terror, maka bekas ketakutan sudah barang tentu susah untuk dihilangkan begitu saja.

Sepertinya suatu saat Pergerakan Mahasiswa UIN Jogja perlu melakukan investigasi atas keberadaan para kreatif di balik wacana yang muncrat dari pangkal (hak) sebagai penguasa; Siapa mereka, bagaimana mereka menggali ide, dan tak ketinggalan, jumlah penghasilannya.

Penulis punya dugaan bahwa mereka gerombolan mafia pengemplang segala bentuk macam tujuan (baca: aturan) itu adalah para filsuf. Tapi, berbeda dengan sosok yang sering dicitrakan bertampang muram dengan bulu-bulu tumbuh di telinga, para filsuf di balik wacana itu adalah orang-orang yang cakap melibati hidup dengan cara jenaka.

Diktum mereka paling juga tak jauh-jauh dari yang diyakini para jamaah Mahasiswa Pergerakan UIN Jogja yang akhir-akhir ini mulai dibungkam keberaniannya, yakni “untuk apa jadi pemimpin kalau tidak selucu mantan ketua DPR Setyo Novanto keturunan tiang listrik itu?”

Tampaknya tidak semua jenis wacana yang sempat mengguncangkan media itu dimaksudkan melucu. Tak jarang kita dapati wacana berupa petuah yang kenes, kritik nakal, protes, sindiran, gerundelan, harapan, atau curahan hati lebay mirip ungkapan novel Dilan yang sempat tenar beberapa minggu lalu.

Tapi, ciri umumnya adalah realitas. Di tengah gempuran mahasiswa kids zaman now yang miskin analisis kritis, wacana yang dibangun itu menjanjikan ironi. Dan mungkin itu sebabnya ia menjadi sedemikian lucu.

“Cadar merupakan simbol radikalisme,” misalnya. Kalimat sederhana itu seperti sebuah counter atas meluapnya wacana atau gairah semangat terhadap kepemimpinan rektor masa bakti 2017-2019. Kampanye tentang kalimat yang di atas hari-hari ini tampaknya sedang dtembakkan dengan gencar.

Simpatisan jajarannya berkumpul, tidak semua, tapi sebagian saja, seperti SEMA, DEMA, HMJ, beserta budak-budaknya, juga menggelar seminar kecil-kecilan. Bahkan kaos-kaos yang di desain untuk remaja mahasiswa alay yang belum lama dikhitan mempropagandakan idealnya kami mahasiswa progres, kritis, dan agresif.

Semarak dengan pertarungan media yang begitu banyak mengandung nilai busuk daripada baiknya, ada wacana pendataan kaum bercadar yang jelas-jelas melukai demokrasi mereka diam. Ada wacana terbentuknya peraturan MD3 dan naiknya bahan bakar secara tiba-tiba, kini peran Pergerakan Mahasiswa yang ada, linglung tak berdaya di hadapan kenyataan yang benar-benar pantas diperjuangkan. Kemudian siapa sebenarnya kamu mahasiswa?

Lihat juga: Cadar dan Diskursus Fikih UIN Jogja

Membayangkan hidup dengan di kelilingi banyak wacana yang menakutkan beberapa kalangan. Foto surat penyataan atau ucapan di media yang terang-teranagan akan terlihat gagah bila dipajang di media sosial, hasilnya sudah jelas; Jika perlawanan melempem, maka tunggulah penguasa dajjal eksis dengan segala bentuk kemenangan.

Wacana selalu menjadi tema konflik sosial yang seru. Tapi, kadang kala para filsuf kita mengangkat isi yang sering terlupakan dalam semangat persatuan dengan begitu banyak macam pertentangan. Sebut saja menyoal cadar.

Bagi kelompok “pangkat kontra”, pertanyaan yang sempat mencuat di media dan menimbulkan banyak pertentangan di kalangan umat manusia, itu sangat mungkin berarti tragedi secara mental juga kesempatan yang terabaikan.

Keikutsertaan media selama ini di dalam sistem birokrasi kampus (apalagi lebih) berikut dengan visi misi medianya bukan perkara susah jika harus membela dan menentang habis-habisan tindakan yang dirasa sangat melukai hak sebagian umat yang dikutuk atas nama kesempatan (baca: aturan). Mereka harus bekerja ekstra untuk menuntut demokrasi sebagaimana Indonesia yang hamil tua saat ini mengemban amanat dari seekor burung garuda lengkap dengan lima sila di dada.

Bahkan paham islam nasionalis sekaligus yang mendominasi paham di dunia kampus, kelucuan akibat adanya wacana, juga terjadi. Betapa banyak rakyatnya yang awalnya adem ayem jadi berantakan karena tidak sejalan kepentingan politik islam nasionalismenya.

Topik pengendalian diri banyak diwacanakan oleh para filsuf. Tidak hanya dalam kehidupan di kampus, tapi juga di Basabasi, orang menyebutnya itu tempat mereka ngopi. Mereka menyindir perilaku pemberontakan, kadang dalam nada-nada kasar ala presma, “Kamu itu siapa?”, atau kadang dengan kesantunan seorang priayi, “Diam adalah ibadah, semakin bungkam dekat dengan surga.”

Wacana-wacana itu agaknya yang membuat kehadiran seorang rektor di dunia kampus jadi hiburan sekaligus. Saya membayangkan suatu saat wacana-wacana yang muncrat itu dikompilasi dalam bentuk buku yang berjudul “Rektorku Gonjang-ganjing“.

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Rifai Descart (see all)