Reposisi Gerakan Pemuda: Menyambut Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta

Menyambut Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta
Foto: NET

Dengan reposisi gerakan pemuda dalam menyambut Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta, ke depan, gerakan pemuda, yang jika dimaksimalkan setinggi-tingginya, benar-benar akan mencipta sejarah, tak sekadar memberi makna.

GKR Mangkubumi pernah berujar, “Sebab zaman itu bergerak, pemuda pun harus bergerak mengikuti ritme perubahan zamannya. Kata-kata itu secara tegas ingin menggeliatkan kembali pendapat filosofis dari seorang filsuf Yunani bernama Heraclitus: Pantha Rei! Bahwa, di dunia ini, tak ada yang abadi dan berubah selain daripada perubahan itu sendiri.

Buku Fitroh Nurwijoyo Legowo, Pemuda Bergerak: Menuju Kejayaan Nusantara, juga tak lain hendak menggeliatkan pandangan filosofis tersebut. Ia merenungkan arti pentingnya sinergisitas antara gerakan pemuda dengan renaisans dan keistimewaan Yogyakarta.

Itulah yang menjadikan buah pikirnya ini layak kita pandang sebagai satu pedoman khusus bagi pemuda. Terutama bagi mereka yang ingin menelaah secara serius bagaimana harusnya gerakan pemuda itu eksis atau meng-ada di tengah arus perubahan zaman yang juga semakin menggeliat ini.

Ditulis dengan gaya penulisan yang jeli menelisik perubahan zaman, Fitroh hendak mengajak kita sebagai pemuda untuk bersama-sama membangun sebuah gerakan pemuda. Gerakan yang bisa beradaptasi dengan alam hidup manusia. Sembari tetap kritis dalam pemyikapan-penyikapannya.

Ya, itulah gerakan pemuda yang akan mencipta sejarah melalui gerakan pemikiran dan kesadarannya. Mereka mencipta sejarah guna membangun tujuan menuju kejayaan Nusantara, bukan sekadar memberi makna atas realitas (hlm. 88).

Secara historis, pemuda memang acap kali berperan dan bergerak dalam posisinya yang sangat strategis. Peran dan gerak mereka selalu menyimpan banyak harapan akan perubahan. Bahkan dunia sering kali menghadapi masa-masa tak terduga ketika kendali kemudi berada di tangan para pemuda—sebuah kenyataan yang punya pembenaran rill dalam sejarah.

Lihatlah, misalnya, bagaimana gerakan pemuda di Perancis tahun 1986 yang hampir saja menumbangkan Jenderal De Gaulle di pucuk kekuasaan. Atau lihatlah, misalnya, sejarah di Amerika Latin di mana aksi-aksi para pemuda diawali dari adanya Manifesto Cordoba di Argentina tahun 1918—sebuah manifesto yang menjadi deklarasi hak pemuda pertama di dunia, dan sejak itu menghantarkan pemuda memainkan peran yang konstan dan militan dalam kehidupan politik.

Di negeri kita sendiri, yakni Nusantara, sudah banyak literatur sejarah yang membenarkan peran signifikan dari para pemuda melalui gerakan pemikiran dan kesadarannya. Tanpa perlu disebutkan lagi dalam tulisan ini, yang jelas, mereka tak hanya sebagai pelopor pembangunan cita-cita bangsa yang bebas-merdeka. Mereka sekaligus menjadi pengawal, pengemban, dan penjaga alam yang penuh nuansa kejayaan tersebut.

Adalah benar bahwa gerakan pemuda memang terbilang minoritas. Meski demikian, gerakan ini adalah minoritas kreatif. Sebab hendak membangun pemuda yang punya cakrawala berpikir luas dan visi yang jauh ke depan. Dan tentu tidak semua orang bisa berlaku demikian. Ini pulalah yang sekaligus menjadi tantangan terbesar kita sebagai pemuda Nusantara.

Dalam gerak berpikir dan penyadarannya, fakta akan adanya perubahan zaman tentu hal yang sangat utama yang harus mereka sikapi. Arus deras modernitas bukanlah hal yang harus kita takutkan, melainkan sesuatu yang juga sangat penting untuk kita ikuti.

Hanya saja, bagaimana kita menyinergikan arus modernitas itu dengan kearifan lokal yang sudah tertanam dalam alam budaya dan berpikir kita? Di sinilah letak pentingnya gagasan Fitroh. Gerakan pemuda harus menempatkan Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta sebagai konsepsi atau kerangka kolektif. Itu diperlukan bagi kebutuhan perjumpaan dan kesinambungan kultural.

Ia menulis:

Dalam gerakan pemuda, kita harus menempatkan kembali semangat renaisans dan Keistimewan Yogyakarta (kultural yang hidup), dinamis dan interpretatif terhadap modernitas dalam kaitannya yang erat dengan konsepsi kesinambungan budaya dan fitrah manusia.

Jika tidak ada upaya kesinambungan antara modernitas dengan kearifan budaya masa lampau, Renaisans dan Keistimewaan, maka kita bakal tergulung oleh arus globalisasi ke arah apa yang disebut Giddens sebagai kemunculan impresif “masyarakat kosmopolitanisme global” (hlm. 91).

Pertanyaannya, bagaimana peran pemuda menjalankan tugas Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta? Jawaban atas pertanyaan inilah yang saya kira menjadi nafas penulisan Pemuda Bergerak: Mencapai Kejayaan Nusantara ini.

Sebab gerakan pemuda terkesan mandul sebagaimana bisa kita telisik dewasa ini. Dan buku tersebut menawarkan konsepsi progresif guna membangkitkan gairahnya kembali.

Meminjam perkataan Chairil Anwar, kita perlu “menyediakan api” bagi pemuda agar mereka bisa bertindak sebagai splendor veritatis: orang yang mampu memberi sumbangan relevan dalam pergulatan hidup sekian juta manusia yang mendambakan gemerlap cahaya kebenaran.

Mengingat pentingnya peran pemuda sebagai pembawa obor (penerang), maka tak ada alasan untuk tidak segera membangkitkan pemuda sebagai kekuatan pencerah, terlebih di masa-masa genting seperti hari ini. Maka satu-satunya solusi adalah reposisi gerakan pemuda, yang dalam buku tersebut, disandingkan sebagai upaya menyambut Renaissans dan Keistimewaan Yogyakarta.

Melalui upaya tersebut, diharapkan akan kembali political will pemuda dalam melembagakan nilai dan hasrat meraih kemanusiaan: modern, maju, dan progresif. Bahwa reposisi tersebut berusaha menempatkan peranan gerakan pemuda sebagai kaum yang oleh Gramsci sebut “intelektual organik”—sebuah kelompok intelektual yang santun, namun aktif dan kritis.

Demikianlah harapan yang hendak Fitroh wujudkan melalui buah pikirnya yang jeli menawan. Bahwa dengan reposisi gerakan pemuda dalam menyambut Renaisans dan Keistimewaan Yogyakarta, ke depan, gerakan pemuda, yang jika dimaksimalkan setinggi-tingginya, benar-benar akan mencipta sejarah, tak sekadar memberi makna. Bukan sebagai viator mundi, melainkan sebagai faber mundi.

  • Judul: Pemuda Bergerak: Mencapai Kejayaan Nusantara
  • Penulis: Fitroh Nurwijoyo Legowo
  • Pengantar: GKR Mangkubumi
  • Penerbit: DPD KNPI DIY
  • Tahun Terbit: Yogyakarta, Cet. I, 2016

___________________

Artikel Terkait:
Maman Suratman
Maman Suratman 18 Articles
Mahasiswa Filsafat UIN Yogyakarta