Reposisi HMI: Menggagas Arah Baru Ber-HMI

Reposisi HMI: Menggagas Arah Baru Ber-HMI
©Oase

Reposisi HMI: Menggagas Arah Baru Ber-HMI

Catatan Milad HMI ke-74 Tahun

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mempunyai perjalanan sejarah yang sangat panjang dengan melewati berbagai fase, mulai dari sejak kelahirannya sampai pada melibatkan diri (baca: HMI) mengkonsepkan dan memperjuangkan reformasi yang tertulis lengkap pada karya Agussalim Sitompul berjudul Sejarah Perjuangan HMI. Tidak salah jika pasca kelahirannya, HMI sudah merupakan wadah para mahasiswa yang berada di garis terdepan demi mempertahankan kemerdekaan.

Setelah melewati fase-fase itu, HMI tetap dan terus eksis hingga sekarang sebagai sebuah organisasi mahasiswa, perkaderan, serta perjuangan yang identik dengan nilai keislaman, keindonesiaan serta kemodernan yang merupakan basis pergolakan pemikiran para founding father HMI. HMI lahir tepat pada 5 Februari 1947 lewat tangan dingin Lafran Pane (1922-1991).

Dari sisi kecakapan intelektual para kadernya, HMI pernah melahirkan seorang maestro-pemikir handal (good thinker) sekaliber Nurcholish Madjid alias Cak Nur. Buah pikiran dan gagasan Cak Nur itu di dalam HMI kita kenal dengan sebutan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang itu merupakan kesimpulan sebuah perjalanan; perjalanan spritual, perjalanan intelektual beliau dari Amerika Serikat sampai ke Timur Tengah.

NDP yang digagas Cak Nur kemudian dan sampai sekarang dijadikan sebagai basic demand-ideologi perjuangan HMI demi merebut kepentingan umat dan bangsa. Bahwa pada NDP terdapat values (nilai-nilai) Islam (Quran) untuk mencapai iman, ilmu, dan amal di kemudian hari.

Saat ini HMI diperhadapkan dengan berbagai macam tantangan, baik dalam maupun luar negeri. Mulai dari banyaknya konflik kepentingan, benturan pemikiran, dan sengitnya pertarungan ekonomi-politik global sampai kepada lajunya perkembangan teknologi. Sehingga HMI mesti berupaya menempatkan dirinya pada posisi yang tepat.

Mengkritik HMI

Sejak awal kelahirannya, HMI sudah sangat mampu merespons dinamika kebangsaan yang terjadi pada saat itu. Bayangkan saja di saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan tahun 1945, berselang dua tahun kemudian HMI lahir sebagai teman berjuang untuk mempertahankan sekaligus mengisi kemerdekaan. Sehingga saat itu HMI sudah sudah berpotensi untuk menjadi salah satu tumpuan masyarakat Indonesia. Potensi itu dilihat Jenderal Soedirman lewat statement “HMI bukan saja Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi HMI juga Harapan Masyarakat Indonesia”.

Bukan hanya itu, organisasi yang identik dengan warna hijau-hitam ini didirikan atas beberapa kondisi yang sedang terjadi di masa-masa awal kemerdekaan, di antaranya:

Baca juga:

Pertama, kondisi Islam di dunia bahwa hampir umat Islam di seluruh dunia umat Islam mengalami kemunduran berpikir. Kedua, kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sudah merdeka tetapi masih proses penindasan terhadap masyarakat kelas bawah.

Ketiga, kondisi perguruan tinggi dan mahasiswa Islam bahwa kurangnya perhatian serius untuk ajaran agama atau aqidah dalam kehidupan mahasiswa dan terlalu kuatnya hegemoni sekularisme dan sosialis-komunis, sehingga menyebabkan aspirasi Islam dan umat Islam kurang terakomodir di kampus-kampus. Keempat, kondisi mikrobiologis umat Islam di Indonesia yang semakin terbelakang pemikirannya.

Mengenai latar belakang kelahiran HMI yang terkait pada kondisi Islam dan umatnya yakni tentang cara berpikir umat Islam di Indonesia, bahwa saat itu ketika umat Islam bicara soal agama berarti tujuannya hanya untuk kepentingan kehidupan setelah mati (akhirat) saja, sebagaimana penjelasan Kuntowijoyo dalam bukunya Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia (Ircisod, 2017). Padahal Islam itu universal—Islam juga bicara soal ekonomi, politik, hukum, sosial, budaya, sains, dan teknologi. Di situ dan pada soal-soal itulah HMI hadir.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, HMI sudah mulai kehilangan keautentikannya secara organisatoris dan originalitas secara etis. Misalkan, NDP yang adalah pedoman perjuangan kader jarang sekali diaktualisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, masih terdapat gagalnya HMI (kader) dalam menanggapi dinamika perkembangan zaman menuju revolusi 4.0 – 5.0 sebagai kausalitas dari kemodernan.

Bahkan Cak Nur sudah mulai curiga seperti dalam bukunya Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, yang mengatakan bahwa seakan-akan golongan yang akan menghalangi modernisasi itu umat Islam, termasuk para mahasiswa Islam. Padahal dengan ukuran tertentu, mahasiswa merupakan lapisan yang lebih terpelajar (rasional) daripada masyarakat. Sehingga kedudukan mahasiswa juga sering disebut “the nation’s best human material” itu justru sebagai “modernizing agent”. Termasuk di kalangan umat Islam ialah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Fakta lain yang tak bisa dipungkiri bahwa tendensi HMI dalam pertarungan struktural (dari Kongres sampai Konfercab) yang saya nilai terlalu pragmatis—bahwa tergantung siapa kandidat yang dekat dengan senior yang memiliki kekuasaan. Tentunya akan berimplikasi buruknya kemandiran kader terhadap perjalanan HMI itu sendiri.

Dari perspektif yang lain yakni dari segi internal organisasi bahwa, 1) HMI terlalu banyak terjebak pada masalah internal (struktural) yang berkepanjangan sehingga hilirnya kader akan kehilangan konsentrasi dalam merespons isu-isu keumatan dan kebangsaan, serta akan lambat merespons isu-isu yang kontemporer. 2) HMI sangat miskin gagasan dalam merespons fenomena bernegara hari-hari ini.

Hal di atas tentu disebabkan dari sisi internal kader HMI itu sendiri karena malasnya budaya membaca, kajian, diskusi, dan menulis atau memudarnya “tradisi intelektual HMI” sebagaimana pandangan Agussalim Sitompul (2006) dalam bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI.

Halaman selanjutnya >>>
Nardi Maruapey
Latest posts by Nardi Maruapey (see all)