Rindu dan Secangkir Kopi

Rindu dan Secangkir Kopi
©Kompasiana

Rindu dan Secangkir Kopi

Seperti biasa rinduku ini hanya berakhir pada secangkir kopi
Entah sampai kapan ini
Mengunci diri dalam sepi menanti
Saking lamanya menanti sampai lupa bagaimana caranya berdiri

Musim berganti tapi tidak dengan hati
Karena hanya satu ruang di sini
Dan kamulah yang menempati
Pantaskah kusebut ini puisi?

Atau hanya tulisan yang tak berarti
Yang pasti ini adalah kata hati
Untukmu yang sedang kunanti
Rinduku hanya tertuang dalam secangkir kopi

Embusan Sang Bayu

Aku hantarkan sajak-sajak rinduku sebelum peluh kering di tubuh
Walau tak selembut buluh perindu aku titipkan pada sang bayu sebelum enggan berembus
Rinduku yang menggelayut di ujung dedaunan kalbu tak pernah pupus
Berlalu bahkan kian melagu melantunkan simponi merdu yang mendayu-dayu

Walau sajak rinduku hanya ibarat embusan sang bayu semilir di musim salju
Namun bulir-bulir rinduku ibarat secawan arak penyejuk bunga harapan di taman hatiku tak pernah layu
Walau sajak rinduku hanya ibarat luapan kisah klasik ilusi merindu bayangan semu
Namun kisah kasih yang dianggap semu ini telah menuntun aku menemukan kembali dendang kalbu yang pernah aku gandrungi dulu

Merindu di keriuhan deburan kalbu seperti jejak di tepian pantai yang kerap tersapu ombak cemburu
Kadang membuat aku seperti pengemis dungu
Namun tak pernah aku meragu karena hanya pemeran yang telah diatur sutradara

Yang maha tahu dan cemburu pun pupus seketika itu
Dan kali ini sebelum cakrawala senja memerah saga
Aku titipkan sebaris kerinduan dan kesetiaan padamu
Yang ada di tatap mata hatiku

Dalam Doaku Masih Ada Kamu

Setiap malam aku masih bertelut
Menyebutkan namamu dalam barisan doaku
Sekali pun aku tak pernah mengutukmu
Dalam kemarahan dan kekecewaanku
Kau tak perlu datang untuk sebuah maaf

Aku sudah mengirimkanya dalam doa yang ku lantukankan pada sang pemilik hidup
Jika menemuiku menjadi harapmu
Datanglah dalam nyanyian doamu
Kita akan bertemu dalam ketetapan-Nya
Perpisahan kita bukan buah kebencian

Kita hanya tak bisa melangkah kebih jauh
Aku berhenti karena tak ingin saling menyakiti
Aku menyelamatkan hatiku dari luka
Dan aku menyelamatkanmu dari luka yang bisa saja kuciptakan
Aku tak pernah menyalahkan siapa pun

Aku tak pernah menyesali waktu yang sudah terlewat
Menangis pasti
Sakit pasti
Tapi aku tak memilih pasrah

Aku memutuskan untuk berserah pada-Nya
Jika hari ini kau temui aku
Lihatlah, tidak ada pantulan kebencian pada mataku
Hingga hari ini dalam setiap doa yang kupanjatkan masih ada namamu

Nyanyian untuk Tuhan

Mari hatiku, segera kenakan gaunmu
Yang telah engkau tenun di sepertiga malam
Dengan pernak-pernik air mata
Yang engkau pasang ke sepanjang jalan itu atas nama cinta

Bergegaslah ke pangung kehidupan
Di mana Tuhan yang akan kau persembahkan hadir di hadapanmu
Lagumu telah duduk di kursi paling depan
Sedari tadi sebelum menjelang petang

Di sisi kanan dan kirinya
Seluruh malaikat mengheningkan segala cipta dalam gema-gema doa
Embuskan napasmu kehadapan-Nya
Agar menyatu dengan firman yang senantiasa berdebar di hati

Melodi-Melodi Sendu

Biar badai menghantam nyali
Biar duri-duri tajam menghambat
Tak peduli kaki ini tak sanggup berlari
Namun ku masih tetap berjalan kembali

Hingga dunia tak lagi berputar
Hingga bunga tak lagi mekar
Ku coba sekuat tenaga tuk tetap tegar
Melawan nyala api yang berkobar

Agar ku tak jadi terbakar
Aku memang tak punya banyak harta
Yang sering kali manusia jadikan impian semata
Aku memang tak mampu menciptakan dunia

Karena aku hanyalah manusia biasa
Aku tuliskan pada setiap melodi dan nada
Mengalun merdu terdengar di telinga
Mencari setitik harapan pun asa
Dalam lagu-lagu yang tak kunjung tertata

Meski waktu kan tiba saatnya
Menjemput jiwa raga setiap manusia
Tak peduli siapakah ia
Menjalani takdir selanjutnya
Dari Tuhan yang maha kuasa

Lalik Kongkar
Latest posts by Lalik Kongkar (see all)