Riuh Rintih Pemilik Jalanan

1/
Bunga-bunga di sudut kota itu
Layu mati diisap lintah-lintah bergelimang harta
Tanpa ampun keluarkan racun berbisa
Melumpuhkan mangsa dalam keadaan sekarat
Terdengar riuh rintih bunga jalanan itu
Tapi sebentar raib disumbat koin-koin berangka

2/
Menegok luka menengok duka
Membalik muka tak kunjung jumpa
terperangkap dalam isi senandung duka
Berlunglai lunglai meraup sampah
Bertahun waktu mengais rejeki
Pada seonggok sampah buangan si buncit sangar
Sampai kini belum jua berubah
Cukup saja untuk mengganti dinding tua
Bagaimana mau maju
Sampah kota ini masih tidur di saku saku jahil

3/
Percakapan kemarin mendalam makna
Buat hati merindu suka
Memang aku lagi dalam suka
Tapi suka di atas duka
Tertawa ria bercanda duka
Bagaimana mungkin hal itu terjadi
Sementara mereka terkungkung dalam mimpi suka?
Kenyataan mereka adalah duka luka
Suka hanya mimpi belaka
Masihkah kau bercanda tawa
Sementara pemilik jalan itu kepanasan memungut remah yang jatuh dari mejamu?

Resah di Jalanan Itu

Tuhan, aku kemarin bertemu mereka yang terbungkam
Hidup dalam rumah berkolong sampah
Makanan basi
Minuman jijik
Semuanya mengerikan

Tuhan,
aku mendengar mereka mengaduh
Melolong bak anjing penjaga rumah
Meminta sesuap nasi dan seteguk air
Tapi, lolongan itu berlalu tanpa ada yang berbalik muka
Bukankah itu malang Tuhan?

Tuhan,
Kala aku hendak kembali
Telingaku menangkap keluh
Kesah yang esensial dari mereka pemilik jalanan itu
“Tuhan dimanakah Engkau?
Kenapa Engkau menutup mata?
Demikian keluh resah mereka  dibarengi tangis putra-putrinya
Masihkan Engkau bersembunyi?

Latest posts by Flori Fanto (see all)