Rizky Amelia Melawan, Tak Mau Lagi Jadi Boneka Pemuas Syahwat

Rizky Amelia Melawan, Tak Mau Lagi Jadi Boneka Pemuas Syahwat
Rizky Amelia | Dok. JawaPos

Nalar Politik Di hadapan media dan masyarakat sipil, seorang anggota Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan bernama Rizky Amelia menyampaikan testimoni perihal kejahatan seksual yang menderanya selama ini. Ia menyampaikan itu di Kantor SMRC, Jakarta Pusat, Jumat, 28 Desember 2018.

“Saya sangat berbahagia sekali bisa berada di antara orang-orang yang bisa mempercayai saya, setelah sekian lama saya harus memendam penderitaan saya seorang diri,” ujarnya memulai.

Rizky Amelia adalah korban kejahatan seksual. Atasannya di Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan telah memperkosanya sebanyak 4 kali dalam kurun waktu 2 tahun terakhir.

“Saya mulai bekerja sebagai Tenaga Kontrak Asisten Ahli Dewan BPJS Ketenagakerjaan sejak April 2016. Dalam periode April 2016-November 2018, saya menjadi korban 4 kali tindakan pemaksaan hubungan seksual (perkosaan) oleh oknum yang sama: di Pontianak (23 Desember 2016), di Makassar (9 November 2016), di Bandung (3 Desember 2017), dan di Jakarta (16 Juli 2018).”

Di luar itu, ia mengaku mengalami berulang kali tindakan pelecehan seksual, baik di dalam maupun di luar kantor. Meski tindakan itu sudah berkali-kali ia laporkan ke anggota dewan yang lain, namun dirinya terus menjadi korban pelecehan dan pemaksaan hubungan seksual lantaran tak ada yang peduli.

“Saya merasa jijik dengan apa yang terjadi. Bila saya menghindar, saya selalu menghindar. Namun saya tidak selalu bisa menghindar, sehingga si pelaku—dengan beragam modus—berhasil 4 kali melakukan pemaksaan hubungan seksual di luar kantor.”

Di dalam kantor, lanjut Rizky, sang atasan juga berulang kali mencium dirinya, memintanya memegang kemaluannya, dan menggerayangi setiap lekukan tubuhnya.

“Kenapa itu bisa terjadi? Saya tidak punya jawaban yang pasti. Saya mungkin memang terlalu bodoh dan penakut untuk melawan.”

Ya, Rizky Amelia takut dengan sosok si pemerkosa yang memang adalah seorang tokoh yang sangat dominan, dihormati, dan bahkan ditakuti di lingkungan BPJS Ketenagakerjaan. Ia takut bahwa dirinya akan mendapat tindak kekerasan fisik atau menghancurkan hidupnya jika sampai membeberkannya ke khalayak publik.

“Saya takut tidak akan ada orang yang percaya. Faktanya, dengan kekuasaan dia, dia memang bisa membuat saya hanya berada berduaan dengannya di berbagai perjalanan dinas.”

Selain itu, Rizky Amelia juga takut kehilangan pekerjaan di BPJS Ketenagakerjaan yang memang merupakan sumber penghasilan yang ia andalkan untuk hidup.

“Saya malu untuk menyampaikan kasus kekerasan seks ini kepada keluarga, pacar, dan kawan-kawan saya. Saat itu, saya merasa hanya bisa berdoa agar penderitaan ini berakhir.”

Rizky Amelia bisa saja memutuskan untuk keluar kantor. Tetapi tindakan itu, baginya, tak menguntungkan. Sebab sang atasan sudah menidurinya sebanyak 4 kali. Dan kebejatan itu, apa pun risikonya, harus terkuak.

“Alhamdulillah, seorang teman kerja saya menyelamatkan saya. Dialah orang yang menyatakan bahwa saya tidak akan memperoleh apa-apa dengan mengakhiri hidup saya, sementara orang yang telah membuat hidup saya menderita akan terus melanjutkan petualangannya.”

Rizky pun lalu memutuskan untuk bertahan. Niatnya hanya satu: melawan kejahatan seksual!

“Pada 26 November, saya membaca postingan Instagram dosen saya, Pak Ade Armando, yang menyatakan: pemerkosaan terjadi karena perempuan lemah; karena itu, untuk melawan pemerkosaan, perempuan harus kuat. Saya terinspirasi oleh kalimat singkat itu.”

Kini, Rizky Amelia tetap dalam perlawanannya. Selain membeberkan chat mesum sang atasan, ia juga mengadukan kejahatan seksual itu ke Dewan Pengawas. Surat pun sudah ia kirikam ke Dewan Jaminan Sosial Negara. Pun demikian dengan surat khusus kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya berjanji pada diri saya untuk melawan!”

Rizky membuat pengakuan ini dengan penuh kejujuran. Ia berani mempertanggungjawabkan apa yang ia sampaikan ke publik.

“Saya tidak ingin menghancurkan reputasi BPJS Ketenagakerjaan. Tapi kejahatan seksual yang dilakukan seseorang yang memiliki jabatan sangat tinggi semacam itu tidak boleh dibiarkan.”

Rizky pun berharap agar dirinya bisa menjadi perempuan terakhir yang menjadi korban kejahatan seksual, di mana pun. Ia sadar bahwa kejahatan seks akan terus terjadi kalau korban diam dan orang-orang di sekitarnya juga diam.

“Saya mengakui bahwa kesalahan saya adalah saya terlalu lama diam. Saya tidak akan mengulang kesalahan itu. Diam bukanlah emas.”

Terakhir, Rizky berharap agar perlawanannya tidak sia-sia. Ia yakin jika semua orang bersama-sama melawan, akan banyak korban yang akan terselamatkan.

“Saya berterima kasih pada semua orang yang percaya pada saya dan membantu saya dalam melakukan perlawanan. Saya sepenuhnya berharap Anda semua dapat mendukung perjuangan ini. Bukan buat saya, tapi bagi seluruh perempuan yang bisa menjadi korban kejahatan seks di negeri ini.”

Redaksi NP
Reporter Nalar Politik