Rumah Tuhan

Rumah Tuhan
Ilustrasi: Gereja Kristen Kudus

Saya sengaja menggunakan kata “Tuhan” pada judul Rumah Tuhan ini. Dalam konteks Indonesia, kata “Tuhan” menjadi universal bagi setiap pemeluk agama dan keyakinan. Apa pun agama dan keyakinannya, hati menjadi nyaman menyebut kata “Tuhan” ketika berbicara tentang Tuhan dalam agama dan keyakinan.

Berbeda ketika menggunakan kata “Allah”. Dalam konteks Indonesia, kata “Allah” hanya digunakan oleh pemeluk agama Islam dan Kristen. Orang Kristen berbeda dengan Islam ketika melafalkan atau mengucapkan kata “Allah” ini. Islam mengucapkan kata “Allah” dengan tebal. Dengarkan orang salat ketika bertakbir Allahu Akbar. Itu dibaca tebal. Yang Kristen mengucapkan kata “Allah” dengan tipis. Dibaca “Alah” atau “Al-lah”.

Beberapa tahun yang lalu, Malaysia melarang penggunaan kata “Allah” untuk selain non-Muslim. Menurut saya, Malaysia keterlaluan ketika melarang non-Muslim seperti Kristen menggunakan kata “Allah” dalam kitab suci atau khotbah-khotbah gereja dll.

Sikap Malaysia tersebut menurut saya tanpa dasar yang kuat, kecuali fanatisme akut dan monopoli bahasa keagamaan. Padahal Islam dan Kristen sama-sama lahir di Jazirah Arab. Maka tidak heran jika istilah-istilah kebahasaan Islam dan Kristen ini banyak memiliki persamaan.

Kita lihat Alkitab yang diterbitkan di Indonesia, maka di sana kita akan banyak menemukan kata “Allah”. Dalam hal ini, Anda boleh tidak bersepakat dengan saya dan membela Malaysia. Tapi, harus menggunakan cara-cara akademik.

Oh ya, kembali pada judul tulisan, Rumah Tuhan. Rumah Tuhan itu banyak, tidak hanya masjid dan musala. Setiap tempat ibadah umat manusia yang di dalamnya mereka melakukan doa, munajat dan sembahyang, serta mendekatkan diri pada Tuhan, maka itu Rumah Tuhan.

Rumah Tuhan itu ada masjid, gereja, pura, candi, kuil, sinagok, klenteng, biara, dll (lihat QS al-Hajj [22]: 40). Dengan berbagai bahasa dan istilah, nama Tuhan dalam rumah-rumah ibadah tersebut dipuja, diingat, disebut, dirindukan, diucapkan berkali-kali, dilebur dalam mantra dan doa, dipanggil saat meminta, diagungkan, dan dimuliakan.

Anda boleh menyebut Yang Maha Esa dan Maha Kuasa itu dengan nama Allah, Tuhan, God, Lord, Bapa, Gusti, Pangeran, Sang Hyang Tunggal, dll.

Anda yang membaca tulisan ini boleh tidak sepakat dengan pendapat saya. Bahkan, bukan hanya boleh, tapi sangat boleh tidak sepakat. Dan saya anjurkan Anda jangan sepakat agar Anda memberikan saya ilmu yang lain jika Anda membantahnya.

Oh ya, di sini saya sebenarnya ingin berbicara masjid, salah satu Rumah Tuhan yang digunakan umat Islam untuk rukuk dan bersujud berserah diri kepada-Nya.

Kenapa masjid? Karena saya Muslim. Tiap hari masuk dan keluar masjid untuk bersilaturrahmi pada Tuhan dan hamba-hamba-Nya.

Pagi-pagi, sekitar pukul 04.30 masuk masjid. Siang, sore, dan waktu senja juga masuk masjid untuk salat berjamaah. Lima kali sehari. Oleh karena itu, saya ingin mengulasnya di sini bagaimana kita seharusnya memaknai dan hadir ke masjid untuk menunaikan salat berjamaah dll.

Terus terang, ini dakwah dan ajakan agar saya dan Anda yang membaca tulisan ini semakin cinta untuk selalu salat berjamaah di masjid. Saya sudah katakan dakwah. Tidak ada masalah dengan dakwah asal tidak maksa dan mengandung hal yang melanggar hak kemanusiaan atau, bahasa lainnya, tidak nyambi munkar.

Apa bedanya masjid dan musala? Rumah Allah itu maksudnya rumah kasih sayang dan cinta Allah diturunkan. Orang yang rajin ke masjid, secara ideal, seharusnya ia pengasih dan penyayang.

Masjid itu secara harfiah bermakna tempat sujud. Musala secara harfiah bermakna tempat salat. Apa bedanya?

Masjid, selain sebagai tempat  ibadah salat dan salat berjamaah, juga tempat ibadah salat Jumat dan ibadah i’tikaf bisa dilaksanakan di dalamnya. Sedangkan musala hanya tempat salat dan salat berjamaah saja. Bahasa sederhananya: Jumat dan i’tikaf dilaksanakan di masjid, tidak di musala.

Lihat juga: Politisasi Agama

Setelah tahu apa itu masjid dan musala, mari kita mencari formulasi baru terhadap makna masjid. Masjid yang menjadi tempat salat berjamaah dan Jumat sebenarnya tidak hanya bermakna ritual dan teologis saja. Masjid sebagai tempat berjamaah dan berjumat juga bermakna sosiolosgis dan solidaritas.

Ketika hadir ke masjid untuk berjamaah dan berjumat, sebenarnya kita tidak hanya sedang melaksanakan perintah Tuhan sebagai komunikasi vertikal, menunaikan kebutuhan ruhani dalam bingkai kewajiban beribadah dan memburu pahala berjamaah yang 27 derajat itu. Tapi, juga sedang melaksanakan hubungan sosial dan bersolidaritas sosial sebagai komunikasi horizontal.

Masjid itu wadahnya. Salat berjamaah, salat Jumat, dll, adalah penarik atau umpannya, dan kita adalah isinya. Dalam wadah tersebut, kita melebur dalam ketuhanan dan kemanusiaan, vertikal dan horizontal.

Masjid, salat berjamah, dan Jumat bisa menjadi proteksi sosial bagi jamaahnya. Seperti di masjid tempat saya sering melakukan salat berjamaah dan Jumat, ketika ada salah satu jamaahnya tidak kelihatan, maka takmirnya bertanya pada Pak RT atau tetangga dekatnya kenapa si A tidak kelihatan. Apa sakit. Kalau sakit, nanti takmirnya memberikan pengumuman bahwa setelah salat berjamaah akan jenguk si A bareng-bareng.

Itulah sebagian dari makna kita bermasjid, berjamaah, dan berjumat. Begitu pula kita melihat rumah-rumah Tuhan selain masjid. Meletakkan fungsinya pada nilai-nilai universal ketuhanan dan kemanusiaan.

Dakwah. Mari kita kembali ke Rumah Tuhan. Peradaban indah dan besar selalu dibangun di atas pijakan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Peradaban Borobudur salah satu contohnya.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Abd Walid (see all)