Runtuhnya Mazhab UIN Jogja

Runtuhnya Mazhab UIN Jogja
UIN Jogja (Foto: Kampuscenter.com)

Mazhab UIN Jogja, terutama yang konsentrasi menghasilkan hukum Islam, memerlukan pembacaan komprehensif ketika membicarakan isu-isu keagamaan kontemporer.

Hidup yang tidak teruji tidak layak untuk dihidupi. Itulah sepenggal kalimat dari Socrates yang terkesan angkuh, tapi benar.

Kenapa Socrates rela minum racun untuk mempertahankan pendapatnya? Coba kawan baca buku Plato yang berjudul Republik, apa dialog-dialog Socrates dengan sahabatnya ketika bicara pengetahuan, etika atau politik ada yang tidak masuk akal dan tidak bijak?

Apa yang dikatakan Socrates memang belum diketahui publik. Mirip UIN Jogja, meskipun dikritik oleh banyak pihak sekalipun oleh negara, tapi sebagai institusi pendidikan yang otonom harus mempertahankan pendapatnya.

UIN punya produk legislasi hukum Islam, termasuk tentang cadar. Menurutku, sudah benar ketika punya “fatwa” tentang sebuah perkara hukum. Situasinya akan beda jika UIN tidak punya Fakultas Syariah dan tidak punya produk hukum Islam. Maka UIN tidak berhak mengeluarkan sebuah fatwa atau surat keputusan karena tidak punya sandaran rasionalisasi suatu masalah.

Kalau ada yang menyatakan bahwa UIN dibiayai dari uang rakyat yang karenanya harus berpihak pada rakyat dan tidak boleh diskriminatif, seharusnya pernyataan ini runtuh karena UIN itu punya produk hukum Islam, termasuk soal yang difatwakan.

Yang tidak setuju bisa melakukan adu argumentasi yang ilmiah. Kalau pendapatnya benar menurut dalalah nash, dia boleh berpendapat beda. Tapi, kalau rasionalisasi masalah yang diajukan UIN lebih berbobot dan ilmiah, semua harus taat, karena UIN lembaga pendidikan dan di mana pun lembaga pendidikan itu otonom.

Konsep yang dulu pernah saya pelajari di UIN ada istilah “jaring laba-laba keilmuan teoantroposentris integralistik”. Dalam budaya pemikiran umat manusia itu ada 3 kategori, yaitu hadloroh al nash (budaya teks, terutama kitab suci), hadloroh al ilm (ilmu alam, sosial, sains dan teknologi), dan hadloroh al falsafah (budaya filsafat, terutama dialektika, etika, estetika). Ketiga model ini tidak bisa saling melepaskan diri satu sama lain.

Hadloroh al ilm, yaitu ilmu-ilmu empiris, tidak akan punya karakter yang berpihak pada kehidupan manusia dan lingkungan hidup jika tidak dipandu oleh hadloroh al falsafah. Sementara hadloroh al nash (tradisi teks agama) yang dikombinasi dengan hadloroh al ilm, tanpa mengenal nilai humanities sedikitpun, akan mudah terbawa pada Radicalism- Fundamentalism. Untuk itu, diperlukan hadloroh al falsafah.

Begitu juga budaya filsafat. Ia akan terasa kering jika tidak terkait isu-isu keagamaan dan problem-problem yang dihadapi oleh hadloroh al ilm. Di titik tengah integrasi-interkoneksi ketiga entitas inilah UIN dibangun.

Mazhab UIN Jogja, terutama yang konsentrasi menghasilkan hukum Islam, memerlukan pembacaan komprehensif ketika membicarakan isu-isu keagamaan kontemporer. Akhir-akhir ini, seolah-olah Mazhab UIN Jogja absen membaca realitas kontemporer, terutama yang berkaitan dengan politik yang menggunakan isu-isu agama.

Begitu pun dalam geopolitik global tentang pertarungan pemaknaan teks dan pembajakan terhadap agama untuk urusan politik, seperti yang terjadi di Timur tengah.

Sebenarnya, diskursus nasional yang digulirkan kemarin adalah momentum kembali merebut hegemoni wacana keagamaan dalam tataran nasional. Menata kembali apa yang selama ini terhenti, terutama dalam paradigma.

Mazhab UIN Jogja harus seperti al Azhar asy-Syarif Mesir yang menjadi sumber hukum produk legislasi Islam. Bukan malah dikritik oleh luar UIN, tapi tidak mau menjelaskan secara sistematis.

___________________

Artikel Terkait:
Aly Mahmudi
Latest posts by Aly Mahmudi (see all)