Rupanya Ini Proyek Lentera Anak hingga Libas PB Djarum

Rupanya Ini Proyek Lentera Anak hingga Libas PB Djarum
©BN

Nalar Politik – Konflik antara PB Djarum dengan Yayasan Lentera Anak dan KPAI kian memanas. Warganet di sejumlah media sosial juga turut terbenam. Dugaan konspirasi pun makin mengalir.

Sebagaimana ditunjukkan Zulfikar Akbar, rupanya alasan Lentera Anak menggiring opini publik yang merugikan PB Djarum itu karena proyek. Ia terlibat kontrak Grants Program di Bloomberg Initiative To Reduce Tobacco Use dari Maret 2019 hingga Februari 2020.

Tertera di sana bahwa yayasan tersebut turut mendukung kebijakan Tobacco Control. Ia hadir untuk melindungi anak-anak dari paparan bahaya rokok dan promosi-promosi perusahaannya di ruang publik.

Diketahui pula bahwa proyek besar-besaran itu akan mempromosikan peningkatan tarif cukai tembakau di tingkat nasional. Ia juga akan mempromosikan larangan TAPS (Tobacco Advertising, Promotion, and Sponsorship) serta kebijakan bebas-rokok di tingkat kabupaten/kota melalui program pengembangan Kota Ramah Anak.

“Mereka jalankan ini tanpa peduli bagaimana nasib olahraga, nasib bulu tangkis, dan nasib anak-anak yang mencintai olahraga ini,” kicau Zulfikar Akbar melalui akun Twitter-nya @zoelfick.

PB Djarum memang terlihat tidak banyak melawan ketiga dilibas Lentera Anak dan KPAI. Tetapi, bagi jurnalis ini, setidaknya mereka sudah meninggalkan jejak, mencatat sejarah, dan membuktikan diri dengan aksi saat pihak lain baru sebatas berbasa-basi.

“Saat audisi PB Djarum, yang menjadi juri pun adalah bintang-bintang yang sudah mencatat namanya dalam sejarah Indonesia. Menjadi penegas, mereka bekerja bukan dengan dongeng, tapi dengan bukti-bukti yang sudah mereka tunjukkan lebih dulu.”

Dan inilah para juri PB Djarum yang Zulfikar Akbar sempat rekam saat audisi di Makassar:

Para Juri PB-Djarum

“Dua rekan saya dari media lokal, Harin Fajar, Imam Rahmanto dengan Paramita Maya Dewi, turut jadi saksi bagaimana para bintang ini bikin mata anak-anak berbinar dan penuh harapan. Berani bercita-cita.” [tw]

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!