Saatnya Belajar Ilmu Sekuler di Timur Tengah

Saatnya Belajar Ilmu Sekuler di Timur Tengah
King Fahd University of Petroleum & Minerals

Nalar Politik – Pendiri Nusantara Institute, Sumanto Al Qurtuby, menilai Timur Tengah sebagai kawasan yang patut jadi pertimbangan untuk para calon mahasiswa Indonesia belajar ilmu sekuler. Ada banyak tawaran bidang studi, seperti hard sciences (fisika, kimia, astronomi, dan biologi), soft sciences (ilmu-ilmu sosial dan humaniora), dan lainnya (ilmu komputer, bisnis, manajemen, ilmu teknik, kedokteran dan keperawatan, geoscience, ilmu perminyakan, ilmu pertanian, serta sistem informasi dan teknologi).

Bahkan, jelas pengajar King Fahd University of Petroleum & Minerals itu, berbagai perguruan tinggi ternamanya kini tengah gencar membuka program studi di bidang teknologi cerdas (smart technology). Hal ini guna menyongsong era Revolusi Industri 4.0 (Revolusi Digital), seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence), internet of things, robotics, dan blockchains.

“Dalam rangka menyambut era Revolusi Digital ini, kampus saya juga membuka lebih dari 30 program studi baru, selain puluhan lembaga riset dan berbagai mata kuliah yang berkaitan dengan teknologi pintar,” tulis Sumanto melalui artikel opininya di Kompas (24/12).

Tren Ilmu Sekuler

Hasil studinya menunjukkan, tren pendidikan ilmu sekuler ini tidak hanya dominan di negara-negara Arab Teluk (the Gulf) sebagai “kawasan kaya dan makmur”, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman, tetapi juga di negara-negara lain, misalnya Lebanon, Mesir, dan Jordania.

Di Arab Saudi, misalnya, tercatat hanya tiga perguruan tinggi yang awalnya atau dalam sejarahnya punya desain khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu keislaman, yaitu Universitas Islam (Madinah), Universitas Umm al-Qura (Mekkah), dan Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud (Riyadh). Selebihnya, fokus utama kampus-kampus di Arab Saudi ialah di bidang studi ilmu sekuler.

“Memang kampus-kampus tersebut menawarkan islamic studies, tetapi sangat minor dan komplemen saja.”

Sejak 1970-an atau 1980-an, terang Sumanto, para mahasiswa Indonesia pada umumnya belajar ilmu-ilmu keislaman di tiga kampus itu, termasuk LIPIA di Indonesia yang merupakan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud. Namun, dalam perkembangannya, tiga universitas tersebut membuka fakultas atau program studi di bidang ilmu sekuler.

“Misalnya, Universitas Islam Madinah membuka fakultas teknik, komputer, dan ilmu pengetahuan (seperti ilmu-ilmu eksakta). Di Universitas Umm al-Qura, fakultas baru yang terbuka lebih banyak lagi, seperti fakultas kedokteran, farmasi, keperawatan, teknik, komputer dan sistem informasi, ilmu terapan, administrasi bisnis, dan ilmu sosial. Hal yang sama juga Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud lakukan.”

Baca juga:

Bahkan, King Abdullah Scholarship Program, sebuah program beasiswa pemerintah untuk putra-putri Saudi yang ingin belajar di kampus-kampus top di luar negeri (terutama Amerika Serikat, Kanada, Australia, negara-negara di Eropa Barat dan Skandinavia, atau Cina, Jepang, Korsel, dan Singapura) juga fokus untuk studi ilmu sekuler.

“Kenapa perguruan tinggi (dan pemerintah) di Arab Saudi (juga negara-negara Timur Tengah lainnya) fokus di bidang studi ilmu sekuler dan bahkan tiga universitas yang awalnya ‘diprogram’ khusus untuk studi ilmu-ilmu keislaman juga ikut-ikutan berubah dan ‘mereformasi’ diri?”

Sumanto melihat, salah satu faktor utamanya adalah kebutuhan zaman. Alumni pendidikan ilmu-ilmu keislaman sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan disiplin keilmuan mereka karena keterbatasan pangsa pasar dan lapangan pekerjaan.

Halaman selanjutnya >>>