Salim S. Mengga: Mengatakan “Saya Ini Raja”, Pentingkah?

Salim S. Mengga: Mengatakan "Saya Ini Raja", Pentingkah?
©Rakyatta

Nalar Politik – Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga turut angkat bicara terkait kasus yang kini menimpa Maman Suratman.

Seperti dilansir mediaekspres.id, politikus kelahiran Polewali Mandar tersebut menilai unggahan yang viral di Facebook sejak 24 Juni 2020 itu merupakan bentuk kritikan. Ia menyebut itu bukanlah penghinaan, melainkan sebentuk unek-unek warga atas pemimpinnya, dalam hal ini oleh Maman Suratman kepada Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar.

Kritikan, bagi Salim, memang bisa dipahami secara positif atau negatif, tergantung bagaimana cara memaknainya. Namun, terkait unggahan mahasiswa Yogyakarta asal Mamuju itu, ia memandangnya sebagai sebuah peringatan bahwa seorang pemimpin mestinya adalah pribadi yang amanah, mengayomi, menyejahterakan, serta menepati janji.

“Memberi rasa aman bukan kecemasan, tegas tetapi bijaksana, rendah hati, dan sederhana dalam menjalani kehidupan. Itu harapan mereka yang mengkritik. Meskipun seseorang yang mengalami frustrasi karena penantian panjang penuh ketidakpastian sering kali lepas kendali dalam mengekspresikan rasa kecewa yang panjang,” jelas Salim (26/6).

Terkait maraqdia yang disinggung Maman, mantan Anggota DPR RI itu pun punya pandangan serupa. Menurutnya, “status mulia” seperti maraqdia atau raja tidak untuk digembar-gemborkan. Sebab fungsi raja hari ini hanyalah sebagai penjaga atau pelestari budaya daerah.

“Hal terpenting, jika seseorang diberi amanah kesempatan mengurus rakyat, maka jadilah pejabat yang amanah. Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa saya ini raja, pentingkah?”

Yang lebih penting lagi, menurutnya, adalah menjaga diri masing-masing. Seperti misalnya menjadi pejabat amanah ketika kebetulan mendapat kesempatan mengurus rakyat.

“Dengan demikian, kamu akan dihormati oleh rakyat sekalipun kamu bukan maraqdia atau raja.”

Baca juga:

Sebagai perbandingan, Salim S. Mengga mencoba melihat bagaimana gelar Raja Dangdut yang disandang Rhoma Irama tidak lantas membuat Paguyuban Raja se-Nusantara protes. Hal itu memperjelas bahwa status raja atau maraqdia sama sekali tidak penting untuk dipermasalahkan.

“Berbudi baik lebih mulia dari seorang raja yang tidak bisa menghargai orang lain. Maraqdia hanya penting jika bisa mendatangkan maslahat bagi masyarakat.”

Terakhir, Salim kembali menegaskan jika kondisi asali manusia adalah setara dan sederajat. Tidak ada yang istimewa di hadapan Tuhan, baik yang mengeklaim diri sebagai raja maupun masyarakat jelata.

“Kita semua sama, setara dan sederajat, sama-sama makhluk ciptaan yang wajib sujud pada penciptanya. Baik dia yang mengatakan dirinya raja maupun masyarakat biasa seperti saya dan saudara saya yang lainnya.” [me]