Sastra Profetik Membela Tuhannya

Sastra Profetik Membela Tuhannya
©Medium

Pengarang yang salat dengan rajin, zakat dengan ajeg, haji dengan yang halal, islamnya tidaklah kafah kalau pekerjaan sastranya tidak diniatkan sebagai ibadah. ~ Kuntowijoyo, Maklumat Sastra Profetik

Pada tahun 2005, Kuntowijoyo mengirim naskahnya yang berjudul Maklumat Sastra Profetik ke redaksi majalah Horison. Tiga minggu sudah berlalu sejak pengiriman naskah, namun belum terbit juga.

Dan, pada minggu ke-3 sejak pengiriman naskah tersebut, Kuntowijoyo meninggal dunia. Akhirnya redaksi Majalah Horison menerbitkan juga tulisannya yang berjudul di edisi No. 5, Mei 2005.

Akhirnya redaksi Majalah Horison menerbitkan juga tulisannya yang berjudul Maklumat Sastra Profetik di edisi No. 5, Mei 2005.

Keterlambatan, pending, atau mungkin saja bisa jadi tak terbit adalah hak redaktif dari Majalah itu sendiri. Penerbitan penulisan Maklumat Sastra Profetik bisa jadi juga atas dasar pertimbangan penghormatan terhadap almarhum.

Beberapa tahun kemudian, dilakukanlah cetak ulang pada April 2013 oleh Multi Presindo. Bekerja sama dengan LSBO PP Muhammadiyah, ia menerbitkannya dengan judul baru, Maklumat Sastra Profetik: Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra.

Pandangan Kuntowijoyo tentang sastra kenabian (profetik) tentunya sangat diilhami oleh gagasannya tentang pengembangan ilmu sosial yang bernama Ilmu Sosial Profetik (ISP). Kuntowijoyo menganggap ilmu sosial tidak boleh berpuas diri dalam usaha untuk menjelaskan atau memahami realitas dan kemudian memaafkannya begitu saja.

Namun, haruslah lebih dari itu. Menurutnya, ilmu sosial harus juga mengemban tugas transformasi menuju cita-cita yang diidam-idamkan oleh masyarakatnya.

Sastra profetik yang dimaklumatkan Kuntowijoyo, menurut saya, sangatlah sektarian sekali. Sebab ia lebih merujuk pada pemahaman dan penafsiran Kitab-Kitab Suci atas realitas dan cenderung untuk memilih epistemologi strukturalisme yang transendental.

Paradigma profetik yang dibangun Kuntowijoyo juga terinspirasi dari Ali Imran ayat 110: kamu umat terbaik yang diturunkan untuk manusia karena kamu menyeru kepada yang makruf, mencegah kepada yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Apa yang dilakukan Kuntowijoyo adalah hal eksklusif dan bukannya inklusif. Karenanya, dapat dipahami bahwa pada karya-karya sastra Kuntowijoyo lainnya pastilah kental dengan hal berbau sektarian, seperti novel Khutbah di Atas Bukit dan kumpulan sajak yang dibukukan berjudul Makrifat Daun, Daun Makrifat.

Konsep sastra profetik Kuntowijoyo diambil dari tiga poin yang campur aduk antara eksklusif dan inklusif, yaitu humanisasi (menyeru kepada yang makruf), liberasi (mencegah dari yang mungkar), dan transedensi (beriman kepada Allah).

Menurut saya, apa yang disebut Kuntowijoyo dalam konsep sastra profetik di atas yang mencatut nama “humanisasi” adalah “dehumanisasi” itu sendiri. Sebab, ia cenderung menuju pada ciri-ciri dehumanisasi yang berupa agresivitas kelompok, kejahatan sekte, privatisasi, dan keterasingan spiritual berdasarkan kebenaran Kitab Suci masing-masing yang bisa jadi saling bertentangan.

Salah satu novel karya Kuntowijoyo yang berjudul Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari—diterbitkan sebagai cerita bersambung di harian Djihad pada 1966—adalah cerminan karakter sastra profetiknya yang sektarian.

Ini bukanlah hal pertama ketika sastra dieksklusifkan dengan tunggangan agama, Tuhan, dan Kitab Suci. Jauh sebelum Kuntowijoyo, di tahun 1887, Grace Livingston Hill yang dikenal sebagai “Ratu Novel Kristen” telah banyak berbicara tentang sastra jenis itu.

Bahkan istilah “profetik” itu sendiri adalah istilah yang diambil dari lingkungan gereja. Grace Livingston Hill juga memberikan nilai eksklusif pada karya-karyanya dengan paradigma keagungan agama dan tuhannya.

Sebagaimana Kuntowijoyo, Grace juga mempunyai moto penyemangat tulisannya. Grace mengambilnya dari Kitab Ulangan 33:25 yang berbunyi: selama umurmu kiranya kekuatanmu. Grace menjadikan ayat tersebut sebagai wirid harian. Ia yakin wirid tersebut akan membantunya untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang ia perlukan.

Apa yang dialami Kuntowijoyo tentang tunda terbit atau bisa jadi gagal terbit juga dialami oleh Grace. Beberapa karya Grace, menurut penilaian penerbit, adalah sebagai berikut:

Tidaklah menjadi masalah untuk menulis sebuah novel dengan karakter yang bermoral tinggi dan yang baik menang atas yang jahat pada akhir cerita. Namun novelnya tidak boleh memiliki hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan sekolah minggu. Hal itu tidak akan membuat novel laku. Buang injilnya!

Tentunya Grace kecewa dengan penilaian itu. Grace adalah penulis beberapa novel sejarah yang tak pernah mengabaikan pesan kristiani yang harus disampaikannya. Ia bekerja keras menulisnya. Lihai menggabungkan roman, petualangan, serta misteri.

Apa yang dilakukan Kuntowijoyo dan Grace Livingstonhill juga bukan barang baru lagi. Penulis Kitab Suci seperti Matius juga melakukan kaidah-kaidah sastra profetik.

Matius menjadi penulis Kitab Suci satu-satunya yang menulis narasi tentang Kristus dengan cukup lengkap dan sastrawi. Matius memegang teguh kaidah sastra profetik dengan menyajikan momen kairos, yaitu momen yang mengubah sejarah dunia dan kehidupan manusia dalam kerangka kekekalan.

Sastra profetik ala Matius yang mengandung momen kairos itu diawali dengan silsilah Yesus Kristus yang kemudian berlanjut reinkarnasi. Bahwa Tuhan telah menjadi manusia, lahir melalui garis keturunan manusia fana, dan mengalami serangkaian peristiwa yang harus dialami oleh manusia.

Dia yang Mahakuasa turun ke dunia dan menjalani berbagai peristiwa dalam kapasitas sebagai manusia yang tidak berdaya dan lemah. Itulah yang membuat karya Matius tenar.

Sedang Kuntowijoyo berkata: kesadaran ketuhanan barulah sepertiga dari kebenaran sastra profetik. Menurut saya, ketika Kuntowijoyo bermain di ranah benar dan salah, maka di situlah terlihat bagaimana kerasanya sebuah sastra profetik membela tuhannya.

Sastra profetik seharusnya lebih dialektik, bukan sebaliknya: tiranik atas sebuah kebebasan pilihan.

Sastra yang besar adalah sastra tanpa embel-embel yang berani berhadap-hadapan dengan realitas. Sastra yang besar adalah sastra yang tanpa embel-embel berani melakukan kritik kepada tiranik sosial-budaya secara beradab.

Jika sastra profetik dinilai dengan pandangan yang sempit ala Kuntowijoyo di atas, maka siap-siaplah ia akan menjadi sastra yang terpencil dari realitas.

Dalam Maklumat Sastra Profetik, selain membahas kaidah-kaidah yang memberi dasar kegiatan sastra, Kuntowijoyo juga membahas etika profetik. Menurut saya, kata Maklumat itu sudah sangat bertendensi sekali.

Dijelaskan pula oleh Kuntowijoyo bahwa sastra profetik dari sisi teknik penulisannya adalah sastra demokratis. Ia tidak otoriter dengan memilih satu premis, tema, teknik, dan gaya (style), baik yang bersifat pribadi maupun yang baku.

Tapi, menurut saya, tetap saja akan kembali ke kata kafah dan kata khairu ummah yang didengungkan oleh Kuntowijoyo. Dan itu cenderung sektarian serta memicu kepada titik ekstrem.

Jadi, hemat saya, tak perlu memilah-milah sastra menjadi profetik atau sejenisnya. Mengalirlah alami laksana air.

Baca juga:
    Yudho Sasongko
    Latest posts by Yudho Sasongko (see all)