Satu Alasan Mengapa Manusia Harus Berfilsafat

Satu Alasan Mengapa Manusia Harus Berfilsafat
Ilustrasi: zvikryan1907.wordpress.com

Banyak orang yang memandang berfilsafat itu sebatas “omong-kosong”. Mereka pikir kalau filsafat tak ada fungsi serta peran yang berarti bagi hidup.

Itu sebab banyaknya pendapat dengan paradigma (cara pandang) berpikir yang keliru. Dikatakannya bahwa bahwa filsafat adalah hal yang serbarahasia, mistis, dan aneh. Bahkan, katanya, filsafat bisa-bisa membuat seseorang yang mempelajarinya menjadi murtad.

Eksistensi filsafat dewasa ini, sejatinya, diyakini sebagai “induk” berbagai ilmu pengetahuan yang sekarang tumbuh maju dan berkembang pesat. Namun sayang, kini filsafat seolah berada di ujung jalan. Ia kian renta dan mandul oleh sebab kedewasaan serta kemandirian ilmu-ilmu pengetahuan yang dilahirkannya kini merajai hampir segala lini penghidupan manusia.

Tak heran filsafat seakan menjadi sesuatu yang sudah “basi”. Nyaris tak layak pakai lagi. Perbedaan cara pandang semacam inilah yang membuat banyak orang tak mau lagi “bercinta” dengan filsafat.

Meski demikian, apa yang menjadi cara pandang tersebut dalam menilik filsafat bukanlah sesuatu yang “diharamkan”. Itu malah justru bisa membangun pemahaman-pemahaman manusia yang lebih matang ke depan.

Sebagai manusia, sudah hal yang tak bisa dimungkiri lagi jika dituntut berpikir kritis. Ini bertujuan guna memformulasikan pemahaman-pemahaman yang telah ada dalam bingkai berpikir mereka yang berbeda-beda.

Pertanyaan yang kemudian bergejolak adalah: Bagaimana filsafat itu muncul? Faktor-faktor apa yang jadi pemicu, membuat seorang manusia dituntut untuk berfilsafat?

Ada beberapa alasan yang sangat kuat mendasari kedua pertanyaan di atas. Ini kemudian yang mendasari mengapa filsafat itu ada dan mengapa manusia dituntut untuk berfilsafat dalam kehidupannya.

Berpikir secara Filsafat

Pada mulanya manusia takjub. Ia takjub melihat benda-benda asing di alam semestanya yang luas tak terhingga. Darinya, muncul pertanyaan-pertanyaan, menghantui pikiran-pikiran yang mencoba menjawab ketakjuban itu.

Mencoba makin menjawab, makin muncul pula rasa ketidakpuasan akan jawaban-jawaban yang dilahirkannya. Alhasil, manusia pun tampak terkurung dalam ruang-ruang pertanyaannya sendiri; tiada henti.

Itulah hasrat setiap manusia yang tak akan pernah hilang. Sebagaimana pernah dikatakan Jean Paul Sartre, manusia memang punya hasrat untuk bertanya sebenar-benarnya bertanya.

Jadi jangan heran ketika ada manusia yang melulu bersikap ragu, skeptis. Apalagi terhadap sesuatu yang baginya belum mampu ia rasionalisasikan. Ini kemudian jadi sebab mengapa manusia senantiasa dituntut untuk berfilsafat, berpikir secara filsafat.

Karena dengan berfilsafat, manusia akan mampu menjadi seorang yang lebih manusiawi. Dalam arti, mereka akan lebih lebih mampu menggunakan rasio yang dimilikinya sebagaimana manusia adalah mahluk yang berakal.

Sehingga dalam memutuskan sesuatu, tidak serta-merta mereka akan berpatokan lagi terhadap apa yang belum riil, seperti pemahaman-pemahaman yang telah ada yang tidak menutup kemungkinan sudah tak bisa layak pakai dalam suatu konteks.

Dengan berfilsafat juga, manusia pun akan mampu berpikir secara radikal. Radikal yang termasuk di sini adalah radikal yang universal, kritis/peka, dan menjauhkan seseorang dari sifat-sifat akuisme dan akusentrisme.

Olehnya, berfilsafat adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Itu harus bertujuan hanya guna mengoleksi ilmu pengetahuan sebanyak mungkin. Dan, kalau bisa, itu akan membimbingnya untuk menerbitkan serta mengatur semua koleksi pengetahuannya dalam bentuk yang sistematis.

Hemat kata, filsafat membantu kita dalam menganalisis problem yang ditimbulkan dari pemikiran sendiri. Dan filsafat juga yang akan membawa kita kepada pemahaman, kemudian pemahaman itulah yang kelak akan mengarahkan kita ke dalam tindakan yang lebih layak.

___________________

Artikel Terkait:

    Mimin NP

    Editor Nalar Politik
    Mimin NP
    Share!