Sebab Akibat Pemindahan Kabupaten Bandung Barat

Sebab Akibat Pemindahan Kabupaten Bandung Barat
┬ęBandung Bergerak

Sebab Akibat Pemindahan Kabupaten Bandung Barat

Filsafat sejarah spekulatif mendasarkan pada filsafat alam yang bersumber dari akal manusia. yakni jalannya (proses) peristiwa alamiah dengan memandang struktur alam dan riwayat kejadian dilihat secara keseluruhan. Maksudnya, memandang suatu peristiwa berdasarkan pada peristiwa alam, peristiwa yang terjadi disebabkan oleh faktor alam.

Filsafat alam digunakan untuk memandang proses sejarah secara keseluruhan. Keseluruhan yaitu dari awal sampai akhir atau kronologis dapat dimaknai bahwa filsafat sejarah spekulatif memiliki fungsi untuk mengeksplanasikan dan menginterpretasikan secara luas atas dasar proses sejarah (sejarah sebagai sebuah peristiwa) yang berdasarkan pada konsep alam.

Sejarah spekulatif memiliki kelebihan dan kekurangan di antaranya tergantung dari asumsi dan metodologi yang digunakan. Dalam filsafat spekulatif terdapat beberapa teori diantara nya teori dialektika.

Teori dialektika merupakan pertentangan antara sebab dan akibat suatu peristiwa. Untuk menganalisis suatu fenomena secara dialek harus mempunyai wawasan yang luas dan kebebasan dalam berpikir. Yang termasuk pendukung dialektika adalah para pengikut aliran struktur dan berpotensi mengubah Teori ini mencoba untuk melihat bahwa suatu fenomena atau peristiwa itu terjadi karena adanya sebab dan akibat.

Sebagai contoh dalam kasus Sejarah Kabupaten Bandung. Awal pemerintahan Kabupaten Bandung dimulai sejak Piagam Sultan Agung Mataram pada 20 April 1641. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bandung.

Secara dialektika penetapan hari jadi kabupaten tidak terjadi begitu saja ada faktor sebab dan akibat yang terjadi di dalamnya, seperti halnya sebelum mencapai bentuk pemerintahan sekarang, Kabupaten Bandung mengalami perkembangan kekuasaan dari zaman ke zaman. Pada masa Kerajaan Pajajaran berkuasa, sekitar akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, di Tatar Priangan belum ada bentuk kabupaten, hanya terdiri atas beberapa keprabuan.

Pemindahan Kabupaten Bandung Barat

Baca juga:

Pada tahun 1575 yang berkuasa di daerah Pajajaran adalah pemerintahan Islam. Dilanjutkan pemerintahan Mataram dan pemerintahan Belanda. Saat Mataram berkuasa itulah, nama keprabuan diubah menjadi kabupaten. Akibatnya pada masa Bupati Wiranatakusumah II Ibu Kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Dayeuhkolot ke pinggir Sungai Cikapundung atau Alun-alun Bandung sekarang.

Pemindahan tersebut berdasarkan perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Peristiwa itu terjadi pada 25 Mei 1810. Alasan pemindahan tersebut akan memberikan prospek baik terhadap perkembangan wilayah itu kebetulan jalur tersebut melewati Tatar Priangan atau Kota Bandung pada saat sekarang ini.

Berdasarkan piagam itu, Sultan Agung diangkat Tumenggung Wiraangunangun sebagai Bupati Bandung. Ketika itu, pemerintahan Kabupaten Bandung berpusat di daerah Bojongasih. Tepatnya di tepi Sungai Cikapundung, dekat muaranya, yaitu Sungai Citarum. Nama Krapyak kemudian berganti menjadi Citeureup. Nama itu hingga kini tetap abadi menjadi salah satu nama desa di Dayeuhkolot.

Pandangan dialektika ini dikembangkan oleh Hegel. Menurut Hegel dalam proses sejarah itu tidak ada sesuatu yang kebetulan. Hegel menyamakan kemajuan dalam proses sejarah dengan pengetahuan manusia mengenai dunia. Apabila dipandang dari sudut itu, Hegel dapat disebut sebagai filsuf terakhir dalam fajar budi.

Sudut khas dari filsafat Hegel ini dengan paling tepat dapat dijelaskan dengan mengutip suatu contoh dari pengetahuan historis, pengetahuan tentang sejarah tidak terungkap secara paling sempurna dalam pernyataan-pernyataan yang dapat dibuat mengenai masa silam, melainkan dengan konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian sejarah seperti Renaissance.

Rina Purwanti
Latest posts by Rina Purwanti (see all)