Sebaris Senja

Sebaris Senja
©Kompasiana

Kau adalah sebaris senja
Yang kuintip di akhir masa
Dalam jingga yang merona
Dan berjalan di akhir masa

Bila kutulis dalam sebuah kata
Kau adalah jeda di antara ribuan makna
Saat ku tak dapat lagi membuat prosa
Di  akhir kata sebuah cerita

Jarum Waktu

Kaki tak mau melangkah
Aku berdasi ataukah aku jadi tahanan polisi

Sungguh aneh pejabat masa kini
Hidup santai duduk di kursi empuk
Baju berpangkat dan berdasi
Namun sayang kau tikus yang paling kejam

Indonesia saat ini
Bukanlah tanah pertiwi
Hanyalah pulau korupsi
Orang miskin rasanya tersakiti
Kapankah datangnya pendekar sakti
Untuk mengubah Indonesia ini
Agar kami tak hidup setengah mati

Hidupku ini ingin berdiri
Dan bangkit untuk negeri
Tanah tercinta ibu pertiwi
Bangunlah kembali wahai hukum keadilan
Jujurlah di saat kau mengadili

Ketika Aku Harus Merelakanmu Pergi

Ditengarai indahnya temaram senja
Terbungkus aroma tanah basah
Terembus keresahan raya di lara

Rasa rindu makin riuh
Ilalang kering pun makin meranggas
Berserak di injak kaki-kaki lugas
Tak berhati namun taruh wibawa
Dingin jiwa dibawa canda dan tawa

Ku berhenti sejenak tatapkan muka
Inikah wajah yang kukenal lampau
Teringat keinginan melambung
Di kala rasa sama-sama bimbang

Rantai hidup yang berkarat
Menjerit hati sampai luluh kumal
Bernada pucat tersenyum sesaat
Tak bernadi tak pula berjanji

Karena Dirimulah, Aku Menemukan Diriku

Suaramu terdengar seperti sihir tua yang menggema ke segala ruang
Memukul-mukul pintu yang telah patah berulang kali
Tenggelam dan meriuh dalam ruang tanpa emosi
Mengaduk semua cerita seperti adonan topan

Aku pun seketika seperti terjebak dalam ruang resonansi tak bertepi, di mana suaramu pun terus menggema tanpa henti
Kadang ku coba untuk menepi, namun arah itu seakan tak ada
Tidak ada kunci yang dapat ku pakai sekarang, karena semua pintunya telah terbuka
Tidak ada lagi pengandaian yang tercipta sekarang, karena kini telah terjaga

Percuma saja jika kini ku berpindah tempat dan berlari, jika semua arah hanyalah jalan memutar ke arahmu
Dari segala kepercumaan itu, aku pun berhenti, dan menyadari satu hal yang sebenarnya telah ku tahu dari awal, namun enggan ku akui
Bertahun menghindar dan kini saatnya mengakui, bahwa kitalah yang tak pernah menginginkan arah itu ada

    Latest posts by Lalik Kongkar (see all)