Sebatas Kelas Semesta

Sebatas Kelas Semesta
©Brilio

                   Kepada Mbak Wildana, Dek Dhii, Dillah, Latifah dan Asfiyah

Hanya sepenggal, tak sampai menjadi sajak keabadian
Siapa sangka temu singkat sangat terpatri untuk tak dilukai
Siapa sangka hanya beberapa purnama saja kita telah dipenjarakan dalam jarak yang tak terkira
Tak ada yang sempat dikisahkan, hanya kenang yang tetap memilih diam dalam ingatan
Siapa yang tak rindu?
Berawal dari ketidaksengajaan eja lalu menjadi kaula
Siapa yang sangka?
Sesaat jumpa kita menjadi kenang yang tak sampai ditutup dengan sempurna,
Bani israil katamu,
Atau selamat tidur seroja?
Sebatas kelas semesta,
Semua hanya tinggal kenang, dengan asa yang tetap harus dinyaringkan
Sebatas kelas semesta,
Bukan untuk mencari kebenaran, hanya berupaya untuk membuat tuhan terus tertawa
Manusia berpikir, maka tuhanpun tertawa
Sepenggal kata dalam derrida yang terus menjadi upaya
tidak mengagungkan akal
tidak  juga  pemberhalaan konsep,
kita apa?
Merasa pintar, bodoh saja tak punya
Seakan ditertawakan pak rusdi dalam setiap lembarnya
(ini renjana, semacam ‘anjangsana’ nya gus usman mungkin)

Indurasmi

Malam yang lalu,
Hanya sepi dan rindu yang memilih tumbuh menjadi candu
Ah, mana bisa jemu,
Kepada keterpikatan indurasmi yang tetap tenang menyimpan sendu
Kepada sang astu
Izinkan daku menyimpan kirana alkamar yang begitu dahayu
Sungguh, siapa kira akan jatuh akan pesona Chandra yang tetap bungkam bak batu,
Mendekap rinai lara saat dayita tidak sedia lalu memilih gata di tengah pilu
Masih perihal rembulan,
Senyap sunyi pikiran tentang hiruk pikuk ambisi kehidupan
Bagai sketsa yang tak terbaca akan akhir yang bagaimana
Sungguh sejak gundah menumbuhkan sarang, Hati diporak-porandakan
Jejal akan segala luka, hingga jelampah muara dari segala permainan takdirnya

Akara Duka

Akara tak pernah bungkam bergentayang kepada jiwa yang tak berdaya akan cinta
Bahkan aksa telah berkata namun atma memilih terbenam dalam kubangan luka
Bukankah ada yang memilih pergi semenjak sajak tercipta?
Mengapa masih saja terbuai akan angan semu dari buaian cita?
Dia tidak pernah dan tidak akan menjadi dayita
Harusnya tidak ada kata dama sejak dalam sajak cinta
Karena nabastala terlampau agung hanya untuk nafsun yang tak tau untung
Sungguh, bayang-bayang hanya membawa nestapa
Hingga perlahan bermetamorfosis jadikan diri melankolia
Harus dengan luka yang bagaimana lagi supaya dikau jera?
tak cukupkah serangkai carut marut pilu yang selama ini membuat deraimu luruh menjagakanmu dari seluruh angan semu?
ah, hanya karena cinta aku bertahan
jikapun lara harus menggenang dalam keabadian  

Jeruji  Purnama

Terduduk ku menetap menatap untuk keperkian kalinya
Menatap malam pekat yang tetap menawan
Sembari alkamar yang tetap terang
Masih saja sama,
Semua singgah dalam singgasana
Hendak kemana harus ku membisu?
Sedang seluruh ruang terkontaminasi namamu
Tapak yang terlampau jelas direkam waktu
Seakan berkonspirasi menjadi bahtera pilu
Hendak kemana lagi menuang rasa?
Sedang cawan kata tak mampu mewakili asa
Malam masih bertaukid perihal apa yang tak teraba eja
Dan Sukma terkungkung dalam jeruji mahligai derita
Selamat malam purnama,
Di balik jeruji terangmu
aku merayakan kemerdekaan dari jajahan kisah kasihku

Luntang lantung Malam

Malam, tentang tenang
Masih malam, dan semoga akan selalu malam
Titik titik tak terbaca
Abjad semrawut tak jadi frasa
Hanya perihal pengabadian saja
Menjelma penggal demi penggal sederhana
Tik,tik,tik,tik,tik,tik,tik
Ah, seketika semua hampa
Gemintang seketika hilang, dan bulanpun enggan
Seketika linglung, sajak luntang lantung
Harusnya sendiri, meraba apa yang sedari pagi terpantri
Harusnya tak berbantah, berdiam dengan segala gulana hati
Harusnya bungkam, memendam siang yang hiruk akan celoteh tak karuan
Apalah daya
Semakin malam, sajak ini semakin luntang lantung saja
Semakin hancur hingga hilang makna, namun abjad tak pernah berhenti untuk dieja

Seroja Ainun Nadhifah
Latest posts by Seroja Ainun Nadhifah (see all)